Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 44


__ADS_3

4 tahun kemudian.


Aku melangkahkan kakiku keluar dari bandara Juanda, Surabaya. Dengan baju putih dan celana hitam,hasil dari oleh-oleh boss ku liburan di Korea. Aku berjalan pasti dengan kaca mata hitam bertengger di atas hidung ku yang sedikit mancung ke dalam.


Dua buah koper ukuran besar dan sedang berada di kedua tanganku kiri dan kanan. Sudah terbayang wajah kedua orang tua dan juga kedua adikku.Aku sangat merindukan mereka.


Tebakan kalian benar. Setelah kejadian beberapa tahun lalu. Tepatnya dua bulan setelah perdebatan hebat yang terjadi antara aku dan bapak tentang perjodohan menjadikanku kalap.


Aku pergi dari rumah bahkan resign dari tempatku bekerja. Keluar negri menjadi pilihanku mencari ketenangan. Walau aku tahu, masih ada jalan lain yang bisa aku tempuh. Namun, keputusanku sudah bulat. Selain untuk menenangkan diri, menghindari perjodohan yang sungguh tak pernah aku inginkan. Aku bisa membantu per ekonomian keluargaku semakin naik.


Tentang Imam dan Mas Pri. Di luar negri, kami saling menghubungi. Memberi kabar bahkan saling bercerita.


Ku tengok kiri kanan di ruang kedatangan. Aku mengarahkan pandangan ke seluruh tempat yang bisa aku jangkau.


Aku berjengkit kaget dan reflek menoleh ketika ada seseorang yang menarik dan mengambil alih kedua koper di tanganku.

__ADS_1


Sebuah teriakan membuyarkan lamunanku ketika kulihat kedua adik dan ibu ku berdiri disana. Di depan sana dengan jarak sekitar 300 meter dari tempatku berdiri.


🍃🍃🍃🍃🍃


Banyak yang telah berubah setelah kepergianku waktu itu. Aku bahkan tak pernah bertanya tentang yang terjadi setelahnya.


Aku bahkan kehilangan momen dengan kakek. Beliau meninggal setelah sakit dan disaat itu, aku belum bisa pulang untuk menjenguknya.


Seminggu setelah kepulangan ku. Aku kembali berangkat bekerja ke luar kota. Disana, aku bekerja sebagai kasir di sebuah toko roti kenamaan.


Usiaku juga tak lagi muda untuk kembali bersantai. Sudah saatnya aku memikirkan diriku sendiri dan masa depanku.


Tiga bulan setelah kami menjalin hubungan. Revaldi atau yang biasa dipanggil Valdi mengajakku menikah. Awalnya aku masih ragu dengan ajakannya. Namun setelah menyakinkan diri akupun menerima ajakannya.


Seminggu setelahnya kami berdua pulang ke kampung halamanku dan mengutarakan maksud kami. Terlihat, raut senang dan bahagia di wajah kedua orang tuaku.

__ADS_1


Acara lamaran dilakukan dua minggu kemudian. Namun untuk acara pernikahan dan ijab qobul nya disepakati sebulan kemudian.


Jauh jauh hari aku sudah memberi tahu teman temanku termasuk Imam dan Mas Pri. Namun Imam mengatakan bahwa dirinya tidak bisa hadir karena sang istri sedang berbadan dua.


Benar, Imam telah menikah. Dua tahun kepergianku ke luar negri Imam kembali. Dia membawa seorang gadis yang dijodohkan untuknya oleh sang kakak. Keduanya bertemu di negri Jiran.


Setelah merasa cocok pada akhirnya mereka pulang untuk melangsungkan pernikahan. Pada saat itu bertepatan dengan cuti 2 tahun sekali kontrak kerjaku. Aku mendapatkan cuti selama 12 hari namun, bos ku yang baik hati memberiku waktu libur lebih. Selama dua minggu lamanya aku berada dirumah. Namun selama itu, tak ada kegiatan berarti yang aku lakukan.


Aku hanya berdiam dirumah mengamati pembangunan rumah baru yang aku bangun diatas tanah yang ku dapat dari hasil kerja kerasku. Aku sempat melakukan perjalanan ke Lombok selama 3 hari. Disana adalah tempat tinggal Om ku. Aku berangkat untuk mengantarkan adik kedua ku yang akan melanjutkan kuliah disana.


Kembali ke rencana pernikahanku. Setelah kesepakatan terjalin antara keluarga ku dan Valdi. Kami berdua kembali berangkat ke kota tempat kami bekerja. Disana, kami mengontrak sebuah rumah dengan dua kamar tidur.


Semua kami persiapkan. Karena tak ingin mengalami kesulitan setelah pernikahan nantinya.


Hingga waktu itu pun tiba

__ADS_1


__ADS_2