Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 81


__ADS_3

Dua buah kebab masuk ke dalam perutku. Sementara suamiku membeli nasi goreng, dia yang tak begitu menyukai jajanan hanya melihat saja ketika aku menyantap nya.


"Tadi kamu mau cerita apa?" Ucapku seraya Menyelonjorkan kaki. Menghabiskan sebuah kebab membuatku kenyang. Sisa satu kebab lagi masih ku simpan untuk jaga jaga kalau nanti lapar tengah malam.


"Yang mana?" Ucapnya seraya mengambil air minum dalam gelas dan menenggaknya hingga tandas.


"Itu yang soal Andri menikah?"


Kuambil remote tv dan menyalahkan nya. Mencari saluran yang menarik tanpa adanya drama ikan teri yang bertele-tele hingga menghabiskan beratus-ratus episode. Saluran yang menyiarkan berita akhirnya menjadi pilihanku.


Valdi mengambil duduk disampingku setelah membereskan bungkus nasi goreng ke dalam tempat sampah dipojok ruangan. Kontrakan ku memang tak besar. Hanya ada 1 kamar tidur, dapur, kamar mandi serta ruang tamu kecil yang sekaligus ku pakai sebagai tempat bersantai. Tak jarang, jika ada teman yang menumpang istirahat mereka akan tidur di ruang tamu ini. Hanya karpet dan beberapa bantal kecil yang ada disini.

__ADS_1


"Andri akan menikahi Diyah."


Haa..


Aku terkejut seraya menoleh dengan cepat kearah suamiku. Direngkuhnya pundakku dan membawa ku bersandar didadanya. Aku masih terdiam karena terlalu terkejut. Selama dua minggu setelah pertemuan kami waktu itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Bahkan hingga saat ini aku belum menceritakan pertemuan kami pada suamiku.


"Diyah datang menemuinya beberapa waktu yang lalu. Dia menceritakan semuanya, tentang kepergian Fendy dan kebohongannya yang mengatakan akan menikahinya. Juga tentang penolakan keluarganya. Bahkan bibi Diyah mengatakan jika mereka tak ingin bertemu Diyah lagi karena menganggap nya membuat malu."


"Diyah hanya meminta Andri untuk mau menjadi ayah bagi bayinya. Dia hanya ingin anaknya lahir dengan mempunyai orang tua lengkap. Diyah sudah putus asa mencari cara bahkan mencari orang tua asuh buat calon bayinya. Namun hingga saat ini tak ada seorangpun yang mau membantunya."


"Andri, mau?" Tanyaku pada akhirnya.

__ADS_1


"Tak ada cara lain, yank. Dia merasa kasihan, bayi itu tak salah dan apa salahnya jika dia hanya meminjamkan namanya sebagai ayah. Mengenai kelanjutannya Diyah tak menuntut banyak. Hanya ingin anaknya lahir dengan sempurna dan memiliki keluarga utuh. Soal kewajiban dan hak itu akan mereka bicarakan nanti. Mengingat ini hanyalah pernikahan secara sirih. Andri juga belum memberitahu keluarganya."


"Sebenarnya hal ini sangatlah rumit, namun Diyah menekankan bahwa dirinya tak akan menuntut banyak. Hanya sampai anak itu lahir dan setelahnya Andri boleh menceraikan dia."


"Tapi begitu itu bukannya salah. Bukan solusi yang tepat baik untuk Diyah, maupun Andri. Terlebih untuk anak itu kelak." Ucapku seraya mengurai pelukan suamiku.


"Itu yang menjadi pertimbangan sebenarnya. Jika dilakukan serasa mereka mempermainkan pernikahan. Namun jika tidak, anak yang akan lahir tersebut akan dicap tak baik padahal dia tak pernah salah. Kandungan Diyah juga sudah semakin besar dan akan segera melahirkan."


Aku terdiam, mengingat apa yang pernah Diyah ungkapan disaat pertemuan terakhir kami waktu itu. Aku kembali memikirkan nasib Andri kedepannya, walau niatnya baik namun caranya akan tetaplah salah. Andai mereka menikah baik baik dan bukan sembunyi sembunyi mungkin aku bisa mendukungnya.


"Kalau kita yang mengadopsi anak itu bagaimana?" Lirihku

__ADS_1


Valdi menatap ku tak berkedip, entah apa yang dipikirkan suamiku itu yang jelas keadaan menjadi hening setelah kata itu terucap dari bibirku. Hanya suara televisi yang sedang menyiarkan berita yang terdengar.


__ADS_2