Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 6


__ADS_3

Ku langkahkan kakiku perlahan memasuki lobi hotel. Ini adalah jam istirahat karyawan. Jangan bertanya kenapa aku disini? tentu saja aku sedang mengunjungi Imam, pacarku.


Ruangan-ruangan yang dijadikan mess berada tepat dibelakang lobi kantor hotel. Disana terdapat 6 kamar tidur, 2 toilet dan halaman yang luas tempat menjemur sprei dan perlengkapan hotel. Karena disini juga terdapat tempat loundry khusus hotel.


Lalu pekerjaan ku? jangan khawatir. Untuk staf dapur ada 2 shift yang dilakukan. Aku bebas kemanapun selagi tidak ada tamu yang datang atau ketika teman yang bergantian denganku sudah datang. Jam kerja staf dapur lebih panjang, sebagai contoh ketika masuk pagi seperti aku sekarang ini. Jam 6 pagi aku sudah harus berada disana, menyiapkan menu sarapan untuk para tamu hotel yang menginap. Serta menyiapkan bahan bahan yang akan dijual hari itu juga.


Jam 11 siang, akan ada staf dapur yang datang. Tapi bukan berarti aku sudah bebas tugas. Tentu belum, karena nanti dijam 3 sore atau 15.00 barulah jam kerja ku berakhir. Di pertemuan shift itulah kami bisa sedikit bersantai dan meninggalkan pekerjaan barang sejenak.


"Ngirim, Ar." Mbak Ina tersenyum melihatku berjalan membawa nampan berisi makan siang untuk staf hotel.


"Iya mbak. Sekalian mau nengokin dia."


Mbak Ina mengangguk, dan aku meneruskan langkah masuk kedalam kantor menuju ruangan belakang atau mess.


"Wuii, makan siang datang." Aku tersenyum dan melanjutkan langkah kearah meja yang berada di pojok.

__ADS_1


Kuletakkan nampan disana. Mas Eksan yang tau kedatanganku bergegas masuk kedalam salah satu kamar. Tak lama dirinya keluar dengan Imam yang berjalan pelan disampingnya.


Di sebuah sofa dia mendudukkan diri. Aku mendekat dengan membawa piring berisi nasi jatah makan siang hari ini.


Dia menatapku instent, ku sodorkan piring perlahan. Namun tak ada pergerakan dari tangannya. Ku hela nafas sejenak sebelum mengambil duduk disebelahnya. Kesal rasanya ketika mengetahui dirinya sakit namun tetap menyembunyikan semuanya dari ku.


"Makanlah, setelah itu minum obatnya dan istirahat kembali." Ucapku pelan.


Imam hanya membuka mulutnya namun tangannya sama sekali tak bergerak.


Huuft


Nasi dalam piring tersisa separuh. Imam sudah menggeleng pelan. Aku mengambil obat yang tadi sempat disodorkan Mas Eksan. Memberikannya pada Imam beserta segelas air putih.


Kuletakkan kembali gelas beserta piring bekas nya makan. Ku lirik jam yang menggantung didinding.

__ADS_1


"Sudah mau kembali?" Ucapnya pelan.


Aku mendekat dan kembali duduk disebelahnya. "Sudah merasa lebih baik?" Tak menjawab pertanyaannya, aku lebih tertarik dengan keadaannya saat ini.


Khawatir? tentu saja. Bagaimanapun dia adalah pacarku selama 3 bulan ini. Hanya saja aku masih merasa kesal karena diabaikan olehnya. Bahkan aku merasa jadi orang paling akhir yang tau dirinya sakit.


"Sedikit." Imam merebahkan kepalanya dipangkuan ku. Menatap kehalaman dengan tangan yang menyentuh lututku.


"Dokter bilang apa kemarin?" Ya Mas Eksan telah memberitahu ku, kemarin siang dirinya mengantarkan Imam ke dokter. Lagi lagi aku menghela nafas, ingin marah namun tak tega dengan keadaannya saat ini.


"Kurang istirahat?" Jawabnya pelan. Setelahnya dia membalik badan, membiarkan wajah nya menatap kearah perutku dan memeluk ku pelan. Terasa hangat nafasnya semakin nyata. Ku angsurkan tangan membelai rambutnya pelan.


"Maaf ya yank, aku sengaja melarang mereka memberitahumu. Aku hanya tak ingin membuatmu banyak berpikir. Aku tahu minggu ini sangat sibuk, banyak reservasi yang pastinya akan membuatmu sibuk. Aku tak ingin kamu bertambah repot dengan sakitku. Tenang saja aku tak apa, nanti ju akan sembuh." Lirihnya.


Aku hanya diam, apa yang dikatakannya sebagai alasan memang masuk akal. "Istirahatlah, aku masih disini 20 menit lagi. Jika kau terbangun aku tak ada, itu artinya aku kembali ke dapur." Kepala yang sedang ku elus rambutnya itu mengangguk diatas pangkuanku.

__ADS_1


Pelan kurasakan hembusan nafas panas yang teratur menghantam perutku. Pelukannya pun sedikit melonggar menandakan dia telah tertidur.


Aku tersenyum menatap teman teman lain yang sedang menikmati makan siang mereka tak jauh dari tempat kami berdua. Sejak awal, aku memang tidak pernah mau untuk masuk kedalam kamar mess. Apalagi, mess tersebut lebih banyak ditempati karyawan laki laki.


__ADS_2