Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 7


__ADS_3

Sebulan berlalu.


"Mulai minggu depan ada beberapa anak magang yang bekerja disini. Mereka terbagi menjadi 2 kelompok. Karena terlalu banyak maka satu kelompok akan ditempatkan di hotel."


Mbak Ani selaku supervisor resto memberitahu kami. Kedatangan anak anak magang terkadang memang ditunggu tunggu. Karena pada saat itu, yang mau mengambil cuti sedikit panjang pun tak akan lagi terganggu dengan pergantian shift libur. Bahkan bisa sampai dia tiga orang sekaligus mengambil cuti.


"Berapa lama mbak?"


"Tiga bulan kayaknya sih, pengajuan awal itu. Nanti nambah atau tidaknya kan tergantung sekolah mereka."


Aku hanya mendengarkan saja. Dapur bersih yang sedikit lebih luas memang sering menjadi tempat berkumpul para karyawan yang melepas penat.


"Ar." Aku menoleh pada Mas Eksan yang ternyata sudah berdiri disampingku.


"Ada apa?" Jangan menampilkan wajah begitu lagi mas, ucapku dalam hati.

__ADS_1


"Ada yang mau ku omongin, sedikit penting. Tapi tidak sekarang dan tidak disini pula. Selesai jam kerjamu, datang saja ke kantor hotel. Kita ngobrol disana."


Aku mengangguk menanggapi ucapan Mas Eksan. Ku lanjutkan kembali pekerjaan ku ketika dirinya telah melangkah menjauh kembali ke hotel.


"Nduk." Mbak Rini datang dengan membawa kertas orderan ditangannya. Sepertinya ada tamu yang datang.


Mbak Rini langsung berteriak diambang pintu dapur kotor. Menyampaikan apa saja pesanan yang perlu dimasak. Sedang aku memeriksa kertas orderan, mengecek kalau kalau ada bagian ku disana.


"Kentang goreng sama ayam bakar ya Nduk." Mbak Rini mendekatiku yang sudah menyalahkan kompor untuk memasak pesanan.


"Ada permintaan khusus kagak mbak?"


"Paling kasih 2 atau 3 mbak, itu dah mayan pedes sih." Jawabku sambil berjalan menuju chiller mengambil kentang dan potongan ayam untuk ku bakar nantinya.


"Aku siapin minuman dulu ya nduk. Kalau sudah selesai nanti tak bantu menyiapkan piringnya."

__ADS_1


Aku hanya mengangguk. Memang tak jarang teman teman waitress membantuku menyiapkan orderan ketika mereka telah selesai dengan tugasnya. Oh iya, diresto ini. Pesanan minuman wajib mereka membuatnya sendiri untuk tamu. Didapur bersih hanya ada dua orang pegawai. Aku dan mbak Bunasih. Tugas kami hanya masak dan merapikan makanan yang akan keluar untuk tamu.


"Nduk, sudah tau tidak kalau minggu depan ada anak magang disini?"


Mbak Rini kembali dan berdiri disampingku sambil tangannya sibuk menyiapkan piring untuk wadah pesanannya.


"Tau mbak, kan tadi Mbak Ani kasih tau."


Ku kupas mentimun sebagai lalapan ayam bakar, ada selada bokor dan juga kol. Ku tata semua diatas piring saji dengan sambal ku taruh di sebuah cobek kayu kecil sebagai tempatnya.


"Banyak ceweknya, Nduk. Padahal lebih bagus kalau banyak cowoknya. Kalau cewek itu suka lelet dan kadang nyebelin." Gerutu mbak Rini sambil mengangkat kentang goreng yang telah matang kekuningan.


"Nggak semua begitu mbak, buktinya kita ini juga cewek lo. Emang mbak Rini mau dikata pemalas?" Aku berjalan sambil membawa sepiring capjay yang sudah matang dari dapur kotor.


Meletakkannya di meja dan segera ditata dalam nampan oleh Mbak Rini. "Aku anterin aja dulu ini ya nduk. Biar lainnya nyusul ntar." Aku mengangguk. Tinggal koloke sama cah kangkung yang belum matang.

__ADS_1


Sambil menunggu aku membersihkan tempat ku. Kulap semua keramik dari cipratan minyak dan sambal. Nyaman rasanya jika melihat tempat itu kembali bersih sebelum ada orderan yang baru.


"Ini cah kangkung sama koloke nya ya." Bu Tima keluar dengan membawa dua piring ditangannya. Ah sampai lupa kan aku mengambil sisa pesanan yang belum kelar tadi didapur kotor.


__ADS_2