Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 27


__ADS_3

Lebaran hari ke dua


Sore ini akhirnya aku berangkat kerumah mbak Rini. Sesuai rencana, kami berboncengan setelah pulang dari tempat kerja tadi. Walau hanya menginap satu malam. Aku masih membawa beberapa setel pakaian ganti.


"Satu malam kan?" tanya ibu disaat aku berpamitan.


"Iya bu, cuma nanti malam saja. Besok sudah balik kok."


"Kok bawa banyak baju?" Tanyanya kepo, hihihi.


"Ya kali nanti malam aku tidurnya pakai celana panjang bu. Belum lagi besok, kan langsung kerja. Kalau nunggu pulang dulu aku takut malah kesiangan bu. Jadi sekalian langsung dari sana saja." Jelas ku


Ibu hanya ber oh ria dan melangkah kembali ke dapur meneruskan aktifitas nya. Aku membawa tas tangan berukuran sedang sebagai wadah perlengkapan ku selama disana. Sebagai info saja, aku termasuk orang yang ribet kalau disuruh menginap. Karena semua perlengkapan harus bawa sendiri, terutama perlengkapan mandi dan keperluan pribadi.


Kulit ku termasuk sensitif. Sekali kena kuman atau gatal dia akan lama untuk sembuh. Karena itu aku selalu berhati-hati kalau berkunjung ditempat baru. Jadi jangan heran, walau cuma menginap semalam. Setidaknya aku butuh dua kali membersihkan tubuh.


"Yuk mbak." Ajakku pada mbak Rini yang menungguku diruang tamu. Ibu sudah duduk disana sambil mengobrol dengan mbak Rini.

__ADS_1


"Udah mah berangkat? bawa bekal singkong goreng mau? untuk camilan dijalan."


"Lah, bu. Gimana mau makannya kan mbak Rini nyetir motor."


"Ya kamu suapin kan bisa. Kalau nggak kemakan dijalan kan bisa dimakan nanti pas nyampai rumah, sama aja toh." Ibu menjawab santai sambil memindahkan singkong goreng dalam piring kedalam plastik untuk kami bawa.


Aku menghembuskan nafas pelan, sementara mbak Rini tersenyum menatap ku. Kami berangkat sebelum hari benar-benar sore. Dua jam perjalanan sudah cukup membuat kami kelelahan. Tak kebayang, kemarin Imam melakukannya. Mengingat nya membuatku tersenyum tipis.


"Mbak Rin, apa nggak capek kalau harus bolak balik?"


"Capek lah, Ar. Tapi mau gimana lagi, namanya juga butuh. Untung nya masih boleh menginap di losmen kan. Kalau nggak, pasti aku sudah resign dari beberapa waktu lalu."


"Kenapa nggak cari kontrakan di sana aja mbak. Sekalian Ayu dibawa."


"Mak ku gimana Ar, kasihan kalau dia sendirian juga. Sedang adikku kan pulang kerumah mertuanya."


Ah kehidupan ber rumah tangga memang terkadang rumit. Tak kebayang bagaimana mereka mengatur waktu satu sama lain.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


Jam enam sore kami sampai dirumah mbak Rini. Rumah sederhana yang tak begitu besar. Namun masih lebih besar dari rumahku. Kehidupan kami tak jauh beda, berjuang mencari nafkah untuk menunjang kebutuhan hidup. Terkadang, gaji yang diterima hari ini pun tak cukup sampai akhir bulan. Tak jarang, sebelum gajihan pun sudah habis terlebih dahulu karena ada hal mendesak.


Selepas maghrib, Mbak Rini mengajakku untuk jalan jalan. Mumpung masih suasana lebaran. Jajag bukan kota besar, namun termasuk kota yang ramai. Hampir sama dengan kota Genteng. Kami berkeliling sambil bercerita, sampai tiba diwarung bakso Pak Kumis( Lupa nama paman tukang bakso nya 🤭).


Warung bakso yang tidak besar itu ramai pengunjung. Bukan hanya karena harganya yang murah. Namun rasanya pun tak kalah enaknya dengan bakso Pak Samidi di daerah ku.


Ku lirik jam masih menunjukkan angka tujuh malam. Kami memesan bakso rusuk dan bakso pimpong untuk ayu. Teh botol dipilih mbak Rini sebagai minumannya sedang aku lebih suka memesan es jeruk.


Kawasan Mitra masih nampak sangat ramai. Dari dalam warung bakso aku bisa menyaksikan muda mudi yang berlalu lalang menghabiskan malam. Banyak diantara mereka yang bergerombol dan membentuk satu komunitas. Motor berjejer rapi di pinggir jalan dengan beberapa orang yang bertindak sebagai security dadakan. Lebaran, terkadang membawa kadang rezeky bagi sebagian orang. Sama seperti aku, mbak Rini dan masih banyak orang lagi yang memilih bekerja saat yang lainnya sibuk untuk mengambil cuti.


"Nambah, Ar?"


"Nggak ah mbak. Ini juga sudah kenyang aku, porsinya banyak banget juga."


Mbak Rini terkekeh. Kami masih harus menunggu ayu selesai dengan bakso nya. Ku lirik ponsel yang tergeletak di meja berharap ada pesan yang masuk dari Imam.

__ADS_1


Sesuai kesepakatan, dia akan menghubungiku jika acara dirumahnya telah usai. Kebetulan, keluarganya sedang mengadakan makan bersama disana. Awalnya, dia ingin aku datang sebelum acara agar bisa ikut serta. Namun aku menolaknya, aku yang bukan siapa-siapa mana mungkin datang untuk pertama kali langsung ikut bergabung dengan acara keluarganya. Malu!! itu yang aku rasakan.


__ADS_2