Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 24


__ADS_3

#Pada dasarnya, cinta itu tak butuh pengawasan. Hanya butuh sebuah kepercayaan dan sebuah kejujuran. Sanggupkah?#


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Waktu berjalan tak kenal lelah. Terus maju kedepan meninggalakan banyak nya kenangan dan mimpi yang masih terselip disana. Bahkan, bayangannya pun masih ada dipelupuk mata.


"Ar, kamu sudah dengar belum kalau Imam ada rencana keluar negeri?"


Siang ini restoran sangat lengang. Dari buka pagi hari hingga sekarang sudah selesai jam makan siang, hanya ada beberapa tamu saja yang singgah.


Kami pun tak pernah ambil pusing. Bahkan, Pak Halim, sang boss besar pun tak mengeluh. Lalu kenapa kami harus risau?


Aku bersama beberapa orang duduk di lesehan. Kami saling bercanda dan bercengkrama ria mengusir jenuh.


Mas Eksan datang bergabung dan langsung memilih duduk didekatku. Pertanyaan yang dilontarkannya adalah hal yang sudah ku ketahui lebih dulu. Namun tetap saja rasanya masih belum rela melepaskan dia pergi.

__ADS_1


Apakah aku sudah mulai mencintainya?


Pertanyaan yang memang tak pernah bisa aku temukan jawabannya. Selama ini, hatiku seakan menolak kehadiran orang lain memasuki nya. Hanya ada satu nama yang masih berada disana tanpa mau tergeser sedikitpun. Walau aku sangat sadar dan tau, kami tidak akan pernah bisa bersatu.


"Dia, sudah menceritakan semuanya padaku. Aku juga sudah mengetahui alasan dan penyebab dirinya mengambil keputusan itu, mas."


Mas Eksan mengangguk paham. Kami berdua berdiri di sandaran kolam. Memberi makan ikan aneka warna yang sengaja dipelihara disana demi menambah kesan cantik dan alami pada kolam yang berada di bawa lesehan. Sebuah jembatan kecil sebagai penghubung antara satu lesehan ke lesehan lainnya.


Terdapat sebuah kamar mandi yang terletak di pojok kiri. Berada tepat dibawa tangga penghubung antara restoran dan kolam renang.


Sedangkan yang lain, berukuran lebih kecil atau hanya muat untuk dua sampai empat orang saja.


"Sebenarnya aku sedikit heran dengan kalian berdua. Jika kami bertanya apa hubungan kalian. Selalu saja jawabannya adalah teman. Tapi, jika melihat tingkah kalian begini. Sikap itu tidaklah cocok disebut sebagai teman. Kalian berdua berusaha untuk saling melindungi dan tidak ingin menyakiti."


"Seperti yang aku tau. Imam itu bukan pemuda polos yang hanya menghabiskan waktu untuk main game dan mendengarkan musik. Bahkan beberapa ceweknya pun sudah merasakan bagaimana dia atas ranjang, termasuk Diyah. Anak magang tempo lalu itu. Dan aku yakin, kamu pun sudah tau kelakuan Imam yang satu itu."

__ADS_1


Mas Eksan menoleh padaku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban. Karena memang apa yang dikatakannya adalah benar adanya.Sisi lain Imam menang seperti itu.


"Tapi kenapa sama kamu dia seolah segan atau bahkan tak ingin menggoresmu sedikit saja. Tapi cewek lain? dia acuh asal dirinya dapat kepuasan dan kebahagiaan nya."


"Semua yang dilakukannya bukan semata-mata hanya keinginannya sendiri, mas. Cewek yang dia ajak ada andil untuk itu. Bagaimanapun aku tau Imam. Dia tak akan pernah memaksa jika tidak di kasih cela. Bahkan, ada sebagian cewek yang rela melempar dirinya sendiri untuk menggoda Imam." Aku menarik nafas perlahan sebelum kembali mengeluarkan pendapatku.


"Imam akan menghormati setiap keputusan. Yang aku tau, dia selalu bertanya dan meminta pendapat sebelum bertindak. Aku bukan membenarkan tindakannya, bukan. Tapi aku lebih ingin mengerti alasan dibalik penyebab dia bisa melakukan hal demikian. Satu hal yang dilakukan oleh dua orang yang sama sama mencari kepuasan tak bisa hanya dilakukan oleh seorang saja. Jika itu terjadi beda lagi ceritanya. Karena disini, baik Imam maupun cewek itu melakukannya dengan sadar." Pungkas ku.


"Ini yang aku maksud tadi. Entah kamu sadar atau tidak dengan apa yang kamu lakukan. Bukan aku menyalahkan mu. Tapi pembelaan ini lah yang aku maksud. Baik kamu atau pun Imam tak pernah mengijinkan orang lain menghina atau menjelekkan salah satu dari kalian walau kenyataannya pemikiran orang itu berbeda. Kalian berdua saling melindungi tanpa harus diminta."


Aku terdiam mendengarkan apa yang mas Eksan ucapkan.


"Cinta itu ada diantara kalian tapi kalian mencoba untuk menyangkalnya. Entah apa sebabnya, hanya kalian berdua yang tau. Terbukalah agar kalian tidak saling tersakiti lagi."


Mas Eksan menepuk pundakku pelan sebelum melangkah pergi kembali ke kantor hotel tempatnya bekerja.

__ADS_1


__ADS_2