
Pov Valdi.
Usahaku untuk mendekatinya perlahan membuahkan hasil. Setelah dirinya kost di depan kamarku, aku lebih sering bersamanya. Tak jarang untuk sarapan dan makan malam kami lakukan bersama. Walau makan malam sangat telat untuk ku namun aku selalu menunggunya pulang kerja dan makan. Hampir satu setengah bulan aku melakukan pendekatan.
Gayung bersambut, kala itu ku perhatikan Arsita sedang dalam masalah. Dirinya yang nampak sering termenung ku paksakan untuk bercerita. Awalnya sangat susah membuatnya terbuka. Namun pada akhirnya dia bercerita tentang kisah cintanya.
Entah keberanian dari mana hingga aku mampu menawarkan diri untuk menjadi pacarnya. Dia tidak pernah menerima ataupun menolakku. Walaupun digantung, aku masih kekeh pada pendirian ku untuk mendapatkannya.
Aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri. Tidak pernah rasa nya aku menginginkan cewek seperti aku menginginkan Arsita. Dia benar-benar berbeda. Hingga di bulan ke 3 aku memberanikan diri untuk melamarnya. Awalnya nampak keraguan dalam matanya. Akan tetapi, setelah seminggu berlalu tanpa ku duga dia mengatakan bersedian jika aku benar-benar serius.
__ADS_1
Aku senang bukan kepalang, bahkan hari itu juga segera aku menghubungi keluargaku untuk mempersiapkan lamaran resmi. Karuan saja semua menjadi sibuk karena tak pernah ada persiapan sebelumnya.
🍃🍃🍃🍃🍃
Di malam pernikahan itu, aku yang tak bisa membawa badan ini untuk bangkit hanya mampu membaringkan badan. Membuka mata pun terasa enggan untuk ku lakukan.
Rasa bahagia dihatiku sangat ku rasakan walau malam itu aku belum bisa menjadikan nya milikku seutuhnya.
Beberapa waktu berlalu terdengar ponselnya berdering. Ingin sekali aku menggapainya namun ku urungkan ketika melihat bayangan yang hendak membuka pintu dengan pelan.
__ADS_1
Aku masih berdiam dengan posisiku semula. Dapat aku lihat dengan sedikit membuka mata ini bagaimana istriku menangis. Dengan membekap mulutnya dia berusaha untuk tidak mengeluarkan isakannya. Aku sempat goyah dan ingin membangunkan badan ini, namun lagi lagi kepalaku terasa berat.
Aku bisa mendengar sedikit apa yang dikatakan nya, walaupun berbisik namun aku masih bisa membaca alur nya. Dari mimik dan perubahan yang terjadi pada istriku aku meyakini bahwa yang menghubunginya adalah lelaki yang merupakan kekasihnya itu.
Aku melihatnya menangis hingga pagi menjelang. Sepanjang malam akupun tak bisa tidur dengan lelap. Terbesit sedikit rasa bersalah dihati ini karena aku telah merebutnya, memisahkan dirinya dengan kekasih hatinya. Namun aku juga tak bisa berbohong bahwa aku mencintainya.
Ketika pagi menjelang, disaat istriku keluar kamar. Aku memberanikan diri untuk melihat ponselnya. Dan benar dugaanku, nama Priyadi tertera di sana. Ku hempaskan tubuhku kembali ke kasur. Sisi egoisku pun kembali terluka. Aku tetap menginginkannya dan akan selalu mempertahankannya, apapun yang terjadi dan itu menjadi tekatku.
Aku membiarkan istriku menyimpan rahasianya. Bertindak seolah tidak mengetahui apapun, aku menunggunya untuk jujur. Hingga beberapa lamanya, Arsita barulah mau terbuka padaku tentang semuanya. Namun entah dengan hatinya, aku bahkan tidak ingin menanyakan tentang rasanya pada lelaki masa lalunya itu.
__ADS_1
Aku bahagia bersamanya, hingga aku lupa akan masa laluku sendiri. Istriku bahkan tidak pernah menanyakan apapun tentangku. Kami menjalani semua mulai dari awal dan bangkit dari masa lalu. Hingga malam ini, Arsita mulai menyinggung masalah keturunan. Tentu saja, adalah hal yang membuat ku cemas selama ini. Tapi aku tak ingin kehilangan dia. Mungkin terlihat jahat, namun aku tetap melakukan nya. Demi Arsita tetap berada di sisimu, aku menyimpan rapat semua rahasiaku.
TBC