
#Orang bilang, cinta itu indah bukan? tapi kenapa ini sakit. Bahkan lebih sakit dari yang aku bayangkan#
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Pri berjalan memasuki barak yang disebut mes oleh para pekerja. Sebuah komplek dengan beberapa rumah petak yang berjejer. Dalam satu ruangan bisa menampung beberapa orang sekaligus. Karena mereka hanya perlu tidur dan beristirahat.
"Kau sudah makan, Pri? tadi aku membeli penganan di jalan. Ayo kita makan bareng."
Wanto menarik lengan Pri yang penampakannya bagai robot. Tak ada canda tawa ataupun senyum yang nampak disana. Hanya tatapan sayu yang diperlihatkan nya. Dan Wanto sangat tahu itu.
"Nanti malam kita jalan jalan yuk?"
"Lagi males mau ngapa ngapain aku."
__ADS_1
"Ya elah Pri. Hidup itu cuma sekali, harus dinikmati dan disyukuri bukan malah dibikin sedih begini."
"Kamu bisa mengatakan itu, karena bukan kamu yang merasakannya sendiri. Kamu tidak mengerti bagaimana hancurnya aku saat ini. Ini lebih buruk dari waktu itu." Pri memejamkan matanya.
Sudah dua hari lamanya dirinya tidak tidur. Setiap dia mencoba memejamkan mata, bayangan Ar selalu saja datang menghampiri nya. Senyum yang selalu dia simpan dan di bayangkan dikala rindunya mulai hadir akan hilang dari genggamannya.
Hubungan yang memang tak memiliki status yang mereka jalani teramat sulit. Bahkan tak akan ada yang memahaminya kecuali mereka berdua.
Kini, dikala Ar menyerah. Maka Pri pun tidak akan mampu bertahan sendirian.
Kata kata Ar terakhir kali dikala mereka saling menanyakan kabar sebelum Arsita kembali ke Tanah Air.
"Kamu benar, To. Hidup cuma sekali seharusnya kita bisa menggenggam apa yang ingin kita miliki. Bukannya menyerah pada sesuatu yang seharusnya masih bisa kita perjuangkan. Kamu tau, To. Aku kalah bukan karena memang benar-benar kalah. Tapi kalah oleh keadaan yang seharusnya bisa ku genggam." Ucapnya lirih.
__ADS_1
Wanto menghela nafas berat. Dirinya tak mampu lagi memberi saran. Dirinya yang tak pernah merasakan rasanya berpacaran, tentu tidak tahu rasanya.
"Sudahlah, toh semua sudah terlepas. Sebaiknya kamu ikhlas kan saja dia. Mungkin, ini adalah jalan terbaik buat kalian berdua. Nanti jika sudah saatnya, kamu pun akan menemukan jodoh sendiri."
"Aku nggak ngerti rasanya pacaran, hehehe. Aku malah langsung nikah sama istriku. Kan di kampung, jadi ya udah biasa dijodohkan itu. Tapi beruntung juga ya nggak pacaran. Jadikan nggak tau rasa sakitnya, kayak kamu gini."
"Tidur susah, makan enggan, kerja nggak semangat. Udah seperti mayat hidup aja. Sudahlah ikhlas kan semuanya. Banyak cewek lain masih diluaran, biarkan dia bahagia dan kamu juga harus bahagia."
Pri terdiam, apa yang Wanto katakan memang ada benarnya. Dia harus bangkit demi dirinya sendiri. Mengenai cintanya, apa yang dikatakan Arsita ada benarnya. Cinta tidak harus memiliki, cukup merelakan itu juga menjadi bentuk dari cinta itu sendiri.
"Mana nasinya? kenapa ini jajanan semua, To."
"Lah, tadi katanya nggak lapar. Yo wes tak habiskan semua, dari pada mubazir kan." Wanto nyengir dengan lengan yang menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
Huuft
Pri mendengus, tak hayal disantap nya beberapa makanan ringan yang dibeli Wanto. Senyum kecil tersemat di bibir bapak satu anak tersebut kala melihat Pri memakan makanannya. Walau hanya jajanan, setidaknya itu sudah cukup mengganjal perut sahabatnya tersebut.