Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 71


__ADS_3

Valdi


Tubuhku terasa remuk sekali, bahkan aku tak lagi bisa berdiri dengan tegak. Entah rupa wajahku seperti apa sekarang aku pun tak tahu. Yang ada di benakku hanyalah wajah istri cantik ku.


Aku hanya bilang akan kee tempat teman karena mereka mengajak bertemu. Namun hingga waktu menunjukkan jam pulangnya kerja aku belum bisa menjemputnya. Dadaku nyeri serta sekujur tubuhku terasa sakit. Tak ada tenaga untuk ku berucap. Hanya hatiku yang lirih memanggil namanya.


Samar samar ku lihat bayangan Andri menghampiri ku. Sedikit lega namun tetap saja aku tak bisa melakukan apapun. Hingga semuanya gelap dan akupun kehilangan kesadaran ku.


Entah sudah berapa lama aku tak sadarkan diri. Hingga sayup-sayup ku dengar suara orang sedang berbicara. Ingin ku buka mata ini namun rasanya sangat berat. Suara yang ku dengar sangat ku kenali, mereka masih berdebat tentang apa yang menimpaku malam ini.

__ADS_1


"Andai tadi aku menemani nya mungkin keadaannya tak akan sefatal ini. Namun tadi aku benar-benar tak bisa karena ada temanku yang masih bertamu. Harusnya tadi ku cega saja dia waktu akan berangkat." Itu adalah suara Andri


Aku tak menyalahkan nya, semua sudah terjadi dan aku tak ingin menyalahkan siapapun. Mungkin ini adalah musiba yang memang harus ku alami.


Tuduhan Deden, pemuda yang mengaku sebagai abang nya Diyah tak pernah ku duga sama sekali. Jangankan menghamili Diyah, menyentuhnya pun bisa dipastikan aku tak pernah melakukannya. Hanya saling bersenggolan atau saling menatap jika sedang bersama, itupun dulu sewaktu aku masih belum mempunyai istri.


Diyah adalah teman kerja ku pada awalnya. Dia selalu mencari kesempatan untuk bersama dengan ku. Dia cantik, seksi dan juga menarik. Banyak lelaki bahkan teman temanku yang menyukainya bahkan berlomba untuk bisa mendapatkan nya. Namun sayangnya, walau Diyah tertarik padaku tak pernah ada minat dihatiku ini untuk membalas nya. Sungguh tak ada rasa tertarik sedikitpun dalam hatiku ke padanya.


Namun keraguan itu datang ketika dia menyebutkan waktu dimana aku pernah tak sadarkan diri. Entah itu mabok atau karena apa, hanya saja aku mengingat ketika pagi aku sudah terbangun di kamar yang bukan kamarku sendiri. Sebuah hotel yang katanya ku sewa semalam dan ketika aku datang dalam keadaan mabok.

__ADS_1


Aku hanya tahu pagi itu Diyah menjemput ku disana. Dia bilang ada yang menelponnya melalui ponselku dan mengabarkan keadaan ku saat itu. Dengan inisiatif sendiri Diyah datang kesana.


Dengan kesadaran penuh aku benar-benar menolak mengakui bahwa Diyah hamil karena ulahku. Aku sangat yakin bahwa tak pernah melakukannya. Dan perdebatan itu berujung pengeroyokan yang ku terima.


"Sudah lah, Dri. Percuma kamu menyesali semua juga sudah terjadi. Sekarang pikirkan bagaimana caranya untuk memberitahu istrinya tentang hal ini. Dia pasti sudah cemas menunggu suaminya pulang." Ucap entah siapa karena aku sepertinya baru mendengar suara ini dan tak mengenal pemiliknya.


"Aduh, aku sampai lupa. Gimana caranya ku jelasin ini pada Arsita ya?"


"Jangan mondar-mandir begitu!! kamu hanya membuat ku pusing. Baiknya kamu jemput istrinya, tentang alasannya kamu karang saja dulu. Kalau suasananya sudah lebih tenang barulah kamu ceritakan yang sebenarnya."

__ADS_1


Ingin ku mencegahnya namun aku tak lagi bisa mengucapkan kata-kata bahkan untuk bergerak pun rasanya sangat susah ku lakukan.


__ADS_2