
Hampir jam delapan pagi akhirnya aku sampai direstoran. Dengan segera aku meletakkan tas yang ku bawah kedalam kamar yang memang disediakan untuk karyawan.
Aku bergegas keluar dan langsung bergabung dengan teman temanku tim dapur yang kebanyakan ibu ibu.
"Tak kira kamu siangan datangnya, Ar?"
" Nggak bu. Kebetulan tadi dijalan nggak begitu macet. Jadi ya sedikit lebih cepat."
Resto belum buka. Selama lebaran resto sengaja dibuka di jam sembilan pagi. Namun tidak dengan hotel. Para tamu yang menginap masih tetap mendapatkan jatah sarapan paginya. Terlihat dari banyaknya kupon yang terancam di paku yang memang dijadikan tempat mengumpulkan kupon sarapan.
"Ramai ya bu tamu kamarnya?"
"Lumayan, katanya semalam ada rombongan yang datang menginap. Makanya sedikit ramai yang pesan sarapan." Bu Tima masih sibuk dengan adonan kulit lumpia yang dicetaknya pada teflon. Padahal seingatku, kemarin aku sudah membuatnya sedikit banyak sebagai stok. Apa mungkin semalam sangat ramai?
"Maaf ya bu, Ar datangnya terlalu siang." Cicit ku tak enak hati.
__ADS_1
"Cuma menu sarapan, nggak susah kok."
"Bukannya kemarin aku sudah buat kulit lumpia lumayan banyak ya bu? kok sekarang udah buat lagi?" Tanyaku pelan
" Ya itu, rombongan semalam pada pesan lumpia goreng dan basah. Jadinya semua kulit yang kamu bikin ludes. Ada sisa lima buah kayaknya, tapi sekalian habis jadi sekalian di buat dan di goreng untuk dimakan bersama." Bu Tima tersenyum diujung kalimatnya.
Sudah bukan rahasia umum bagi kami para karyawan. Bahkan Pak Halim sendiri pun tak pernah memusingkan apa yang kami makan. Asal tidak mengganggu pesanan dan stok masih lumayan maka kami pun boleh mencicipi nya asal tidak sering-sering.
Satu persatu para karyawan datang. Itu artinya, jam operasional resto akan segera dimulai. Kami sudah siap di posisi masing-masing jikalau ada pesanan dadakan yang datang.
Lumayan nya tamu dikala hari libur dan weekend memang sudah bisa diprediksi. Oleh karenanya kami bagian dapur sudah bersiap jauh jauh hari. Stok bahan makanan yang menumpuk digudang sebagai pertanda kesiapan yang kami lakukan.
"Bagian dapur apa perlu ada yang lembur?" Mbak Ani selaku supervisor resto datang disaat pekerjaan kami sedikit senggang. Hanya menunggu dua menu saja yang belum matang dan sedang kami persiapkan.
Gurami bakar dan gurami asem manis adalah menu yang sedang diolah dalam dapur saat ini. Kedua menu tersebut memang membutuhkan sedikit waktu lebih banyak ketika memasaknya.
__ADS_1
"Kalau boleh kita lembur gantian aja, mbak." Usul Bu Sri
Dia yang menjadi kepala dapur sekaligus kepala koki tentunya punya andil besar untuk para anak buahnya. Disatu sisi dirinya memikirkan tenaga yang dibutuhkan agar tidak terlalu payah. Namun disisi lain dia juga harus memikirkan tentang kesehatan kami semua.
"Kalau begitu yang mulai lembur hari ini siapa?"
"Siti apa Tima yang lembur? kalian berdua rundingan. Nah Ar, nanti kamu rundingan sama Buna.Jadi kan enak kapan giliran lembur sudah pada tau. Kalau aku kan Kayah nggak usah dipedulikan, kami bisa lembur tiap hari." Tawa bu Sri menggema diikuti plototan dari Bu Kayah.
Namanya Rhukayah, namun kami lebih suka menyingkat nya menjadi Bu Kayah. Lebih hemat sedikit dan lebih unik.
"Aku kan juga bukan robot, mbak." Bu Kayah berujar seraya mengerucutkan bibirnya.
"Ya ya, nanti kamu boleh libur. Tapi ya nanti kalau sudah lebaran satu minggu. Kamu juga boleh pulang kalau tamunya udah nggak begitu banyak."
Bu Kayah adalah wakil kepala dapur dan juga koki ke dua di resto ini. Dia yang bertanggung jawab untuk masakan lokal atau asli masakan nusantara. Sementara Bu Sri, beliau lebih menguasai masakan Chinese.
__ADS_1
Sedangkan cook halper sepetiku, hanya bertugas membantu meringankan pekerjaan mereka.