Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 11


__ADS_3

#Taukah kamu apa artinya Rindu? sesuatu yang hanya kau rasakan ketika telah kehilangan. Dan sesuatu yang tak akan bisa kau gapai setelah kau lepaskan.


Bukan hanya ungkapan yang biasa kau ucapkan dan kau perdengarkan agar semua orang tau hatimu. Itu bukan, ingatlah!! Rindu hanya ada dalam hati yang benar-benar mendamba.#


...🌸🌸🌸🌸🌸...


Waktu maghrib telah datang, aku bergegas keluar menuju musholla yang letaknya di ujung resto. Tempatnya memang tak terlalu besar namun cukup untuk menampung lebih dari 20 orang. Bersama beberapa tamu yang datang aku melaksanakan kewajiban ku.


Aku kembali ke dapur melewati sisi kanan restoran. Tepat terdapat beberapa bangku yang menghadap ke jalan raya. Sedikit tersentak ketika lenganku tiba-tiba ditarik ke belakang. Ada Mas Dian yang berdiri disana dengan tatapan yang sulit ku tebak. Sama seperti disaat dia menghentikan ku kemarin.


"Ada apa mas?"


"Jangan masuk dulu, kita duduk aja dulu disini sebentar."

__ADS_1


Aku sedikit bingung dengan sikapnya. Namun tak urung diletakkan bokongku ke bangku tepat di sampingnya. Namun jika boleh jujur, ingin rasanya kaki ini melangkah cepat masuk ke dapur seolah ada sesuatu disana yang sedang menungguku.


"Itu ada tamu kok kita malah duduk santai disini mas. Bisa bisa kena pecat kita nanti kalau ketahuan."


"Cuma sebentar kok. Tenang saja, tamunya juga sedang makan." Aku menghela nafas dan berpikir cara terbaik untuk segera kembali ke dapur.


"Namun tatapanku terfokus pada toilet yang letaknya disebelah pintu masuk dapur dari arah depan. Bayangan selulet seseorang yang tak begitu jelas karena jaraknya juga sedikit jauh.


Apa aku salah melihat? tapi tidak mungkin. Jelas jelas aku melihat itu bayangan cowok yang pertama masuk kemudian baru seorang cewek masuk juga kesana.


Aku yakin mas Dian pun melihatnya. Namun dia malah semangat untuk mengajakku mengobrol. Ternyata, mereka semua memang menutupi sesuatu dari ku.


" Mas, masuk yuk. Aku tadi cuma ijin sholat bentar aja. Ku rasa ini sudah terlalu lama aku keluar." Melihat gelagat Mas Dian yang masih gelisah akupun menarik nafas pelan.

__ADS_1


"Aku tau apa yang terjadi. Tapi bukan berarti aku harus selalu menghindar dan kalian semua menyembunyikan nya dari ku. Sudahlah, ayo masuk mas. Nanti kalau sudah waktunya aku akan ceritakan semuanya. Untuk sekarang, terimakasih karena Mas Dian mau melindungi perasaanku.Tapi percayalah aku baik baik saja." Aku tersenyum, mengapit lengan Mas Dian dan membawanya masuk kedalam restoran lewat pintu samping. Tak ingin mengganggu kedua pasangan yang sedang melakukan entah apa didalam toilet sana.


Bahkan mbak Wiwin yang melihatku masuk sedikit mendelik ke arah Mas Dian yang hanya bisa mengangkat bahunya.


"Ada pesanan apa bu?" Tanyaku setelah menginjakkan kaki didapur. Semua menatap bingung padaku dan kemudian menatap Mas Dian, persis seperti yang dilakukan mbak Wiwin tadi.


"Sudah jangan pada aneh gitu. Nanti saja tebak tebakannya. Ini pesanan kurang apa yang belum bu?"


Aku berusaha menyakinkan mereka agar tak canggung lagi. Pada akhirnya mereka kembali bersikap seperti biasa nya. Hingga suara cekikikan terdengar dari pintu belakang dapur.


"Lo yank, kok kamu ada disini?" Imam berdiri kaku di depanku. Hanya terhalang meja keramik panjang tempat menyimpan piring dan menata makanan sebelum dikeluarkan ke tamu.


Aku hanya tersenyum dengan pertanyaan konyolnya. Bahkan aku masih melihat kedua tangan itu saling bertaut sebelum dirinya berusaha berjalan mendekat padaku.

__ADS_1


__ADS_2