Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 22


__ADS_3

Sebuah daerah perkebunan menjadi pilihan kami sore ini. Udara yang cukup bersahabat membuat kami ingin berlama lama menikmatinya.


Dengan Imam yang duduk diatas motornya, memelukku dari belakang menikmati pemandangan. Tak sedetikpun Imam melepaskan pelukannya.Obrolan ringan kami lakukan sambil sesekali diselingi candaan.


"Kau tau yank, kemungkinan aku pun akan pergi ke luar negeri." Ucapnya masih diposisi yang sama. Diletakkan dagunya dipundak kananku, sesekali di kecup nya pipi ini.


"Maksudmu?"


"Beberapa waktu lalu. Kakakku yang berada di negeri Jiran sana menelfon dan mengajakku untuk kesana bersamanya. Awalnya Aku sempat menolak, namun setelah ku pikir pikir lagi. Aku menerimanya, bagaimanapun aku juga butuh berkembang. Kehidupan disini cukup monoton dan jujur saja aku belum bisa mandiri dalam kebutuhan ku sendiri. Terkadang aku masih menyusahkan kedua orang tuaku dengan urusan yang seharusnya bisa ku tangani sendiri. Termasuk keuangan."


Dia menjedah ucapannya. Terdengar helaan nafas yang terbuang dengan berat.


"Kau tau, Yank. Bersamamu aku seperti menemukan sosok orang yang bisa aku lindungi dan bisa aku jaga juga menjagaku. Kamu satu satunya orang yang ingin aku jaga dan bertahan disini."


"Bahkan aku menolak tawaran kerja di hotel yang berada di tempat tinggal ku sana hanya demi bisa melihatmu."

__ADS_1


Imam mengeratkan pelukannya. Sementara aku masih terdiam dengan rasa terkejut tanpa bisa mengucapkan apapun.


" Gaji yang kita dapat di Hotel tempat kita bekerja ini tidaklah bisa mencukupi kebutuhan. Namun dibalik itu, aku bisa setiap waktu bersamamu begini adalah bonus untukku. Kamu tau kan? aku bukan pemuda polos seperti kebanyakan. Banyak hal sudah kulakukan termasuk menaklukkan wanita. Tapi kamu, kamu satu satunya yang aku jaga. Aku menyayangimu, Yank. Walau aku tau dan sangat tau. Dihatimu hanya tersimpan nama Pri."


"Aku tak ingin merebutmu, sudah kulihat kebahagiaan itu muncul di wajahmu ini ketika mendengar tentangnya. Aku sadar semua itu."


"Sebulan lagi, aku akan mempertemukan mu dengan nya. Sebelum aku berangkat keluar negeri."


"Mam." Lirih ku


"Kamu beneran akan pergi?" Dari sekian banyak yang dia katakan aku malah terfokus dengan rencana kepergiannya.


"Iya, kenapa? kamu takut kangen ya?" Ledek nya sambil menoel ujung hidungku.


"Kenapa meninggalkanku?"

__ADS_1


"Karena aku bukan alasan untukmu tersenyum. Aku hanya membantu menjagamu selama dia jauh darimu."


"Mam, aku.."


Imam membalik badanku hingga menatapnya kini. Dirangkum nya wajahku dengan ke dua tangannya.


"Tak ada yang perlu disesali, dan jangan bersedih atau menyalahkan diri sendiri. Kehadiran ku untuk melengkapi disaat kamu sendiri. Namun diwaktu dia kembali akupun harus kembali pergi. Yank, aku sayang kamu dan ingin kamu terus tersenyum. Dimanapun aku berada nanti, ingatlah!! kalau aku selalu menyayangimu. Hemm!!"


Aku hanya bisa mengangguk, di dekatkan keningnya dan keningku hingga ujung hidung kami saling menempel. Tak berapa lama Imam memelukku dengan erat.


Aku sungguh bingung dengan perasaan ku sendiri. Aku menyayanginya tapi aku juga masih menyayangi Pri. Tak pernah bisa aku membuang segala kenangan tentangnya.


Bahkan pertentangan keluarga kami berdua pun tak juga mampu membuatku menyerah. Tapi, berada dalam pelukan Imam saat ini. Aku juga merasakan kenyamanan dan kebahagiaan tersendiri. Entah sadar atau tidak rasa nyaman itu membuatku tenang. Bahkan dengan sadar akupun membalas pelukannya.


Bau parfum yang dipakainya pun membuatku rilex, ditambah dengan udara sejuk perkebunan membuat hati ini menjadi damai.

__ADS_1


"Apakah aku juga jatuh cinta padanya?" Satu pertanyaan yang tak pernah bisa aku temukan jawabannya.


__ADS_2