Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 48


__ADS_3

Arsita


Ponsel yang dua hari ini nampak sunyi akhirnya berdering. Aku berlari kecil memasuki kamar demi mengambil benda pipih tersebut. Tertera nama Imam disana.


Calon ayah itu memang sering menghubungi ku. Kedekatan kami dulu berubah menjadi persaudaraan. Bukan hanya kedua orang tuanya saja yang tahu, namun sang istri juga. Aku sengaja melakukannya karena tak ingin terjadi kesalah pahaman di kemudian hari.


"Ya, mam. Tumben nelfon siang hari, ada apa?"


Aku menggulingkan tubuhku diatas kasur. Waktu masih menunjukkan jam 12 siang. Sementara di luar sana, sedang sibuk menghias dekor dan tenda. Semuanya sudah terpasang jauh jauh hari, hari ini hanya tinggal menghias nya saja.


"Kebiasaan, sudah mau nikah juga masih nggak berubah. Salam kek atau nanya kabar gitu, ini malah nyeblak aja." ( nyeblak artinya asal ucap)


Aku cekikikan mendengar omelan Imam disebrang sana. Senang sekali rasanya menggoda dia.


"Acaranya nanti malam apa besok sih, Ar?" Lanjutnya tanpa memperdulikan cekikikanku.

__ADS_1


"Ijab nya besok pagi jam 7,sedang resepsi nya bebas. Mau siang, sore atau malam ya monggo."


"Tadi si bapak nanya sih. Katanya kamu nggak ngundang anak anak hotel. Makanya dia tanya aku." Lanjutnya


"Mas Eksan?" Dan jawaban iya ku dengar dari Imam membuatku mengangguk seolah dirinya melihat apa yang aku lakukan.


"Aku malu lah mau undang mereka. Secara nih ya, selama di Luar (luar negeri) aku nggak pernah menghubungi mereka. Masa iya, tiba-tiba nyebar undangan."


"Ckck kamu sih, mentang-mentang di luar berubah jadi sombong. Gini ya, Ar. Kalau menurutku, mending kamu undang deh mereka. Kalau emang nggak ada budget buat masakan ya undang aja mereka pakai kertas undangan. Yakin aku mereka pasti datang dan maklum. Dari pada kagak diundang, mereka akan semakin menganggap kamu sombong. Emang kamu mau dianggap begitu?"


"Ya udah ikuti saranku tadi. Sebentar aku kirim nama nama mereka. Yakin aku kamu pasti sudah banyak yang lupa." Cibir nya


"Nah kan, memang cuma kamu yang mengerti aku Mam. Tahu aja aku lupa." Aku tertawa


"Sinting." Dan panggilan pun terputus mengisahkan aku yang masih tertawa.

__ADS_1


Dan benar saja, tak butuh waktu lama segera masuk pesan berisi nama nama teman lamaku di resto dan hotel tempat ku bekerja dulu. Total ada 30 nama yang aku masih ingat dengan jelas wajahnya sedang yang 20 nama lagi sudah asing buatku.


Empat tahun kepergian ku tentu banyak perubahan yang sudah terjadi. Aku tersenyum lebar membaca pesan terakhir Imam.


"Anggap saja ini kado dariku karena aku tak bisa hadir dalam pestamu. Tapi aku bisa menghadirkan teman teman lamamu.Maaf ya, kado nya sedikit memaksa. Karena kamu harus mengeluarkan biaya lebih untuk makan mereka."


Aku menggeleng pelan. Imam masih saja begitu, dia tidak pernah berubah. Di pernikahannya waktu itu saja membuat heboh. Dia yang meminta aku untuk berfoto dengannya dan istri malah berdiri ditengah dengan tangan kanannya memeluk sangat istri sedang tangan kirinya memelukku.


Sontak aja, apa yang dia lakukan membuat heboh semua tamu undangan dan juga teman dan keluarganya. Aku yang tak menyadari kelakuannya hanya menatap bingung dengan sorakan para tamu yang kebanyakan para kaum muda.


Aku memakai baju dengan juba di bagian depan. Dibagian dalam hanya you can see yang ku pakai. Tentu saja aku tak merasakan pelukannya yang hanya menempel di jubaku saja.


Aku yang kala itu datang bersama Hanto melotot kaget ketika melihat hasil foto yang sempat Hanto ambil. Wajahku mungkin sudah memerah, pantas saja semua orang menatap dan tertawa. Sedangkan Imam, dia cuek saja seolah tak pernah melakukan apapun.


"Makasih, Mam." Ucapku lirih walau aku tahu dia tak akan pernah bisa mendengarku. Ya, sejak bebarapa bulan setelah menikah. Dirinya hijrah ke tanah kelahiran sangat istri. Hingga sulit baginya untuk sering bermain seperti dulu lagi.

__ADS_1


__ADS_2