
Aku berjalan mondar mandir dalam kamar. Suamiku sudah berangkat kerja setengah jam yang lalu. Aku bingung menimang dan mengambil keputusan. Nomer ponsel mas Pri sudah aku dapatkan.
Semalam, Imam memberikannya padaku. Aku ingin menuntaskan semua kesalahan dan masalah yang ditimbulkan karena masa lalu. Aku berharap semua akan baik baik saja setelah ini. Namun aku bingung bagaimana harus memulai nya.
Huuft
Ku tarik nafas berat, beberapa kali aku menekan nomer tersebut namun mengurungkan nya lagi.
"Kalau mas Pri semakin marah gimana? kalau dia nggak mau maafin aku juga, aku harus gimana?" Aku mengacak rambutku. Kesal rasanya, kenapa aku jadi segagu ini.
Kembali aku mengangkat ponsel dan betapa terkejutnya aku ketika menyadari panggilan telah tersambung entah sejak kapan.
"Hallo."
"Hallo, mas. In.. ini aku."
__ADS_1
"Aku tahu, nomer kamu belum ganti. Aku tak menyimpannya tapi masih menghafalnya."
Eh haruskah aku bahagia? tidak tidak, kenapa otakku jadi eror lagi begini. Aku menggeleng kan kepalaku pelan, mengenyahkan pikiran yang tidak seharusnya pernah ku pikirkan.
"Kenapa diam? mau bicara apa?"
Suaranya masih selembut itu, aku memejamkan mataku. Bohong jika aku tak merindukan perhatiannya, bohong pula jika aku tak merindukan segala tentangnya. 17 tahun bukan waktu yang sebentar untuk bisa menutup segala kenangan.
"Aku mau minta maaf, mas. Maaf, karena aku sudah membuat mas sakit."
"Sudah berlalu, lupakanlah!! Aku sudah mengikhlaskan semuanya, termasuk kamu. Berbahagia lah Ar, kamu harus bahagia dengan apa yang kamu pilih. Yakin dan tunjukkan padaku jika kamu benar-benar bahagia."
"Jangan pikirkan aku, aku laki-laki. Kaum ku tidak melihat batasan waktu, tidak berlaku sebutan perjaka tua buat kami. Sebelum umur 30 semua masih bisa ditangani. Untuk saat ini aku belum memikirkan nya."
"Bukankah kamu pernah berjanji untuk tidak melakukannya lagi, mas? kenapa mengingkari."
__ADS_1
"Aku berjanji pada kekasihku. Disaat dia pergi, janjiku pun ikut pergi bersamanya."
"Jangan pikirkan hal lain. Fokuslah pada kebahagiaan mu. Bagaimana dia? apa dia memperlakukan mu dengan baik?"
"Iya, Valdi sangat baik mas. Dia nggak pernah marah bahkan membentak pun tidak."
Benar, Valdi tak pernah membentak ku sedikitpun, jika aku salah dia hanya akan membenarkan tanpa memarahiku.
"Baguslah, aku ikut senang mendengarnya."
Entah ekpresi apa yang ditampilkan disana. Namun suara mas Pri tak pernah berubah, masih lembut seperti diawal tadi. Hingga panggilan berakhir sepuluh menit lalu, aku baru tersadar bahwa aku telah melupakan tujuan awal menelponnya. Tidak semuanya lupa, karena aku sudah mengatakan maaf, hanya soal kutukannya saja yang masih terlupakan.
"Aish, bodohnya kau Arsita!!" Geram ku pada diri sendiri. Bisa bisa nya lupa akan bagian terpenting itu.
"Apa harus menghubunginya lagi? ah tidak tidak, aku bisa mengganggunya kalau melakukannya lagi. Tunggu lain waktu saja aku menghubungi nya, semoga saja semua masih terkendali."
__ADS_1
Ku simpan ponsel diatas meja, sedikit lega karena mas Pri sudah tidak marah seperti terakhir kali kami berbicara. Setidaknya kami masih bisa berteman.
Sambil mendengarkan musik, aku membersihan kontrakan. Hidup mandiri di kota lain membuatku harus pandai membagi waktu. Jam kerja yang tak pernah sama membuat ku dan suamiku jarang sekali bersama di saat siang hari. Jam dia belas siang, Valdi akan pulang. Barulah saat itu kami bertemu selama 2 jam sebelum waktunya aku berangkat kerja.