Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 61


__ADS_3

Perpisahan adalah suatu hal yang menyakitkan. Namun bagi sebagian orang adalah berkat. Entah mau dikategorikan yang mana apa yang aku jalani ini. Berpisah dengan orang yang jelas jelas sangat ku cintai sejak lama. Namun aku harus bertemu dengan seorang lelaki yang pada akhirnya menjadi suamiku saat ini. Dengan sikap dan prilaku yang sama baiknya dengan dia yang terpaksa harus ku lupakan dalam cinta. Namun masih berusaha ku genggam sebagai teman,


Salahkah?


Aku hanya berharap segalanya berakhir baik baik saja. Terlepas dari kutukan yang pernah terlontar kan dulu. Sampai detik ini pun aku belum berani menyinggung prihal kutukan yang mas Pri lontarkan. Aku masih takut, takut semua menjadi buruk seperti beberapa waktu yang lalu.


Tak bisa ku pungkiri, ketakutan terbesarku saat ini adalah masalah keturunan. Tentu aku tak lagi bisa untuk berpikir santai seperti yang disarankan suamiku. Pikiran buruk selalu datang menghampiri dikala dirinya pergi tanpa mengajak ku.


Seperti malam ini, Valdi mengatakan padaku jika dirinya akan berkumpul dengan para sahabatnya. Tempatnya tak jauh dari tempat tinggal kami, tapi tetap saja aku merasa tak tenang.


Pekerjaan yang seharusnya berakhir di jam 10 malam pun harus molor hingga jam 11 malam karena ada pesanan dadakan yang harus disiapkan. Aku mengumpat kesal dengan keadaan. Dengan rasa cemas yang selalu hadir menggerogoti rasa percaya ku.

__ADS_1


"Ar, kenapa? dari tadi kerjamu nggak konsen begitu? ada masalah?"


Aku menggeleng kala Endang menghampiriku. Tanganku cekatan membungkus kue dan roti namun jujur hati dan pikiranku sedang tidak ada disini.


Suamiku bisanya sudah ada didepan toko dijam aku pulang kerja. Bahkan tak jarang dirinya telah berada disana jauh sebelum jamnya. Namun malam ini? aku berkali-kali melirik keluar tepatnya di bawah pohon disebelah pos satpam. Tempat dimana biasanya suamiku menunggu. Tak ku dapati dia, aku semakin cemas kala menatap jam dinding yang terasa semakin cepat berputar.


Hingga jam 11 pas, kami semua keluar dari toko. Ku edarkan pandanganku kearah pos satpam dan di bawah pohon. Tempat biasanya suamiku menunggu ku pulang kerja, setiap malam dia akan selalu berada disana menjemput ku. Namun malam ini tak terlihat sosok nya.


Entah mengapa, jika dihari biasa rasanya berjalan terlalu cepat atau mungkin jaraknya yang memanglah dekat. Namun malam ini kontrakan terasa sangatlah jauh. Beruntung nya, kami memilih kontrakan yang tak jauh dari jalan raya. Hingga tengah malam pun masih terlihat satu dua orang yang melintas.


"Tumben sendirian, mana mas nya?"

__ADS_1


"Ketiduran kayaknya pak."


Jawabku sambil terus berlalu. Tentu saja Pak Yadi bertanya demikian dan hal itu wajar. Dia yang memiliki lapak nasi goreng berada tepat diujung gang dimana kontrakan ku berada.


Ku buka pintu dengan tergesa-gesa. Aku khawatir dengan suamiku yang sejak tadi berusaha ku hubungi namun tak bisa. Tak sempat aku berpikir untuk menanyakan pada temannya.


Tatapanku nanar menjelajah seluruh isi kontrakan, tak terlihat sedikitpun bayangan suamiku disana. Kembali ku coba menghubungi ponselnya, namun lagi lagi hanya suara operator yang dapat ku dengar.


Pikiran ku semakin kalut. Bukannya tak tahu atau tak mau tahu. Beberapa waktu yang lalu Andri salah satu teman kerja kami sempat keceplosan. Dia bilang kalau Diyah sering menggoda Valdi setiap ada kesempatan. Dan itu sempat mengusik pikiranku.


Namun suamiku tak pernah menunjukkan gelagat lain hingga aku menepis semua prasangkah buruk dalam pikiranku. Namun malam ini, ketakutan itu semakin menjadi. Nama Diyah seakan jadi bumerang dalam hidupku.

__ADS_1


__ADS_2