
"Soal, Imam." Nampak jelas keraguan dari kata kata Mas Dian dan aku memaklumi itu. Mungkin mereka merasa aneh dengan sikapku yang biasa saja ketika menemukan perselingkuhan pacarku dengan Diah si cewek magang.
Ku telan es krim terakhir sebelum ku jawab pertanyaan Mas Dian. Aku juga sempat membenarkan letak duduk ku agar semakin nyaman.
"Sebenarnya aku dan Imam tak ada komitmen apapun,Mas. Kami hanya menjalani sesuai dengan kata hati saat ini. Mungkin jika orang bertanya apa aku sayang dia atau sebaliknya apa dia juga sayang sama aku? jawabannya adalah iya sayang, sangat sayang bahkan. Namun jika bertanya tentang cinta. Kami tak akan pernah mampu menjawabnya."
Aku menjedah ucapanku, ku tatap jam yang di ponselku. Sudah jam 22.30 menit, sudah lewat tiga puluh menit dari jam pulang kerja ku. Aku yakin, bapak sudah menunggu ku didepan layar televisi yang menyala sementara dia tertidur dikursi.
Kualaihkan pandangan pada Mas Dian yang masih bergeming ditempatnya.
"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk kita bercerita mas. Sudah larut malam, sebaiknya aku pulang dulu. Besok kita lanjutkan lagi obrolan, itupun kalau aku tidak lupa ya."
Aku tertawa di akhir kalimat ku. Mas Dian mengangguk paham. Pada akhirnya kami pun bergegas kembali dengan Mas Dian yang mengantarkan ku pulang terlebih dahulu.
"Besok masih kerja malam?" Tanyanya ketika kami telah sampai di depan rumah kecilku.
__ADS_1
"Pagi aku besok, kenapa Mas?"
"Aku juga masuk pagi. Ya sudah besok kita lanjutkan lagi ya. Sana masuk dan cepat istirahat."
"Hati hati, mas." Ku lambaikan tangan ketika mas Dian mulai menghidupkan kembali matic nya. Ku buka pintu rumah perlahan. Dan benar saja dugaanku. Disana, baik bapak sedang menunggu dengan televisi menyalah dan matanya terpejam.
Sudah menjadi kebiasaan bapak. Saat aku lembur atau sedang shift siang. Beliau pasti akan menunggu ku pulang sambil nonton televisi. Padahal lebih seringnya televisi yang balik menonton bapak yang sedang terlelap.
"Pak.. pak."
"Hem" Gumamnya lirih.
"Pindah kamar pak, aku sudah pulang."
"Sudah pulang?kok malam? rame tamunya?"
__ADS_1
"Enggak, aku masih ngobrol tadi disana. Lain kali bapak kagak usah nunggu aku. Kan aku bawah kunci sendiri, bapak tidur dikamar."
"Ya" Bapak berdiri dari tempatnya, berjalan pelan menuju kamar. "Kamu pulang sendiri?" Tanyanya ketika telah sampai di depan kamar.
"Diantar Mas Dian tadi, sudah malam soalnya."
Bapak hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar. Lambat lambat ku lihat bayangan ibu yang sedang tertidur dari balik pintu yang belum bapak tutup sempurna.
Setelah mematikan lampu ruang tamu dan mengunci pintu. Aku bergegas menuju kamar namun sebelum itu ku buka sedikit pintu kamar sebelah dimana kedua adikku sedang tertidur lelap.
Sebelum menutup pintu secara tak sengaja mataku melihat kertas diatas meja disudut kamar. Ku melangkah masuk dengan perlahan agar tak mengusik tidur mereka. Pelan kuambil secarik kertas dengan Cop surat dari sekolah tersebut.
Kutatap wajah mereka yang sedang tertidur. Aku hela nafas, pasti mereka berecana untuk membayar sendiri uang ujian sekolah mereka. Hal itu sering mereka lakukan secara bergantian.
Mendapat bekal yang tak seberapa setiap harinya selalu mereka sisihkan demi merigankanku mambayar biaya sekolah mereka berdua.
__ADS_1
Kuletakkan kembali kertas tersebut. Kemudian berjalan keluar menuju kamarku sendiri.