
"Dimana dia sekarang?" Tanyaku
"Kamu masih mencintai nya?"
Aku mengangguk sebagai jawaban, disaat itulah Imam memelukku dan membuat aku menangis didadanya. Dan saat itulah aku tau bagaimana hatiku, bagaimana rasaku dan kemana cintaku berlabu.
...🌸🌸🌸🌸...
kembali ke warung bakso.
"Jadi, sore itu kalian putus?" Mas Eksan membenahi letak duduknya.
Aku menggeleng. Mereka berdua saling bertatapan kemudian kembali menatap ku menunggu penjelasan dari ku.
"Memang benar, kami tidak putus waktu itu. Karena sejak awal pun tak pernah ada komitmen antara aku dan Imam. Kami hanya menjalani saja tanpa ada kata cinta dan tanda jadian yang kami lakukan. Jadi, bagaimana kami bisa putus kalau jadian pun belum pernah."
Mas Dian mengusap wajahnya pelan. Sementara Mas Eksan menggelengkan kepalanya tanda tak percaya dengan apa yang ku ucapkan.
"Lalu, ciuman? kalian terbiasa melakukannya. Tapi sekarang bilang tidak pacaran, bagaimana bisa?" Mas Dian menatap ku. Sorot matanya penuh selidik membuatku sedikit bergidik.
"Hanya cium kening dan pipi mas, tidak pernah lebih."
__ADS_1
Aku melambai pada mbak Sumi meminta es jeruk segelas lagi. Entah mengapa tiba-tiba kerongkongan ku terasa sedikit kering.
"Bibir? tak pernah kah?" Aku menggeleng.
Imam tak pernah melakukannya padaku. Dia menghormati ku dengan semua yang ada pada diriku ini.
"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan, Ar? meneruskan sandiwara kalian apa kamu mau menunggu?. Ehmm menunggu siapa itu yang katanya pacar kamu tadi."
"Priyadi?" Sambung Mas Eksan yang tangannya telah membuka sebungkus krupuk. Lalu memasukkan pipihan renyah tersebut dalam mulutnya.
"Nah iya, dia."
"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, mas. Kemungkinan juga dia sudah lupa sama aku." Aku menunduk, teringat beberapa tahun lalu. Namun sebisa mungkin aku hanya memendamnya dalam hati.
"Bisa jadi kan itu hiasan lama yang belum dibersihkan mas."
Hemmm
"Ya sudahlah, itu semua hak kamu sepenuhnya. Kami cuma bisa berpesan, Berhati-hatilah kepada makhluk yang namanya laki-laki."
"Bukannya kalian juga laki-laki ya." Aku tersenyum sambil mengerlingkan mata.
__ADS_1
"Selain kami tentunya, ahh dodol. Kalau kagak anggap kamu adikku dah ku cium habis kamu, Ar." Mas Dian melengos sambil mengulum senyum.
"Cium aja saya, Yan. Dia juga belum pernah ciuman tuh kayaknya. Sekalian ajarin biar mahir." Celetuk Mas Eksan dengan santainya.
"Dasaar kompor meledug." Sungut ku diikuti gelak tawa mereka berdua.
"Tapi kalau dikasih gratis aku juga kagak akan nolak sih."
Aku mendelik ke arah Mas Dian. Dasar ya!! mereka semua sama saja.
"Jangan bilang kalian juga sering begituan ya. Kalau mas Eksan yakin udah mahir buktinya aja udah ngasilin ekor." Celetuk ku sambil memicing.
"Heleh, polos amat kamu ini, Ar Ar. Cowok normal mah begituan udah biasa. Apalagi kalau lawannya mau, kagak akan nolak. Sama seperti Imam, kalau dikasih ikan asin kan hidungnya langsung kembang kempis. Mana bisa tahan. Hahahah." Tawa mas Dian pecah diiringi senyum dari Mas Eksan.
Aku menatap horor mereka berdua. Sementara tak sadar jika warung bakso Pak Samidi yang dijaga mbak Sumi selalu anaknya sudah sepi. Hanya tinggal 3 meja yang sedang terisi termasuk meja kami.
"Tapi kamu beneran nggak ngerasain sakit hati atau rasa pengen marah gitu, Ar. Pas liat Imam sama Diah berduaan?"
"Eh kan malah keceplosan sebut merk orangnya aku." Mas Eksan memukul mulutnya sendiri dengan sedotan yang tadi diambilnya.
"Aku sudah tau kok mas sama siapa Imam. Tak apa sih, aku malah biasa saja. Beneran lo."
__ADS_1
"Ah, ini mah udah fik ya, Ar. Kamu memang kagak pernah cinta dia ini."
Aku mengangguk mengiyakan. Karena memang tak ada sakit, marah atau benci yang ku rasakan ketika melihat Imam bersama cewek lain. Mungkin benar ini cuma rasa sayang yang ku rasakan padanya.