Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 33


__ADS_3

Pagi pagi sekali aku terbangun. Bisa dibilang aku hanya tidur tiga jam saja. Dan sekarang, disaat suara puji pujian dari mikrofon masjid mulai terdengar. Ku kernyapkan mataku sebentar sebelum berusaha membukanya semakin lebar.


Kepalaku terasa pening, mungkin akibat kurangnya tidur. Namun aku tak bisa lagi untuk menarik selimut. Aku sedang dikejar waktu. Jarak tempuh rumah mbak Rini dengan restoran lumayan memakan waktu. Dua jam yang harus kami lewati nanti, belum lagi jika ada kemacetan di pagi hari.


Kami memang tidak tingal di Banyuwangi kota. Namun tetap saja, kesibukan pun akan terlihat di pagi dan sore hari ketika memasuki jam jam sibuk anak sekolah dan para pekerja.


Aku bergegas menuju kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah. Sempat aku menoleh sekilas ke arah dapur, disana nampak ibu dari mbak Rini sedang menyulut api. Perapian yang masih terbuat dari kayu bakar itu langsung menyala walah dengan bara yang kecil.


Aku kembali melanjutkan langkahku ke kamar mandi. Membasuh muka dan membersihkan diri. Setelahnya aku kembali ke kamar untuk melakukan absen pagi. Aku berdoa dan berharap untuk kelancaran hari ini. Setelah berterimakasih atas nafas yang masih aku terima pagi ini, bergegas aku ke dapur dan membantu ibu menyiapkan sarapan.


"Kok sudah bangun? ini masih jam setengah lima. Masih terlalu pagi. Rini juga masih tidur itu dikamar ayu."

__ADS_1


Aku tersenyum, ibu dari mbak Rini yang memang nampak sedikit ketus dari wajahnya itu bukanlah jahat. Namun memang perawakan dan penampilannya yang selalu begitu. Kemarin, sesaat setelah aku bertemu dengannya sempat kaget ketika melihat raut muka ibu yang seperti tak suka atas kehadiranku. Namun semakin lama aku perhatikan, memang wajah ibu yang begitu namun tidak dengan sikapnya.


"Ar, sudah biasa bangun jam segini bu. Jadinya ya nggak bisa untuk tidur lagi. Kalau dipaksa nanti malah bablas." Seruku semakin mendekat padanya.


"Ya sudah kalau gitu. Kamu sudah sholat? kalau belum sana sholat dulu."


"Baru selesai bu. Makanya langsung kesini.Ini sayur mau dimasak sekarang, bu?"


"Iya, kamu bisa masak kan?" Tanyanya masih tanpa senyum


"Ya sudah, kalau gitu ibu tinggal dulu ya. Tadi belum sholat langsung kesini." Aku hanya mengangguk dan menatap ibu yang melangkah meninggalkan ku sendiri didapur.

__ADS_1


Aku beralih pada nampan besar yang terbuat dari anyaman bambu. Disana terdapat sayur pakis atau orang juga menyebutnya sebagai sayur paku. Entah alasan apa hingga nama itu disematkan pada tumbuhan perdu yang memiliki rasa khas tersebut.


Ku siangi batang perbatang demi memisahkan bagian yang masih muda untuk dimasak. Setelahnya ku cuci di sebuah pancuran didekat pintu belakang dapur.


Ku siapkan bumbu untuk menumis dan mencari cari dimana wajan dan minyak diletakkan. Aku tersenyum lebar ketika mendapati semua yang ku butuhkan sudah lengkap.


Api yang mulai membesar membuatku senang. Walaupun dirumah, ibu juga suka memasak di tunggku kayu bakar. Aku jarang sekali menggunakannya, karena asap yang terkadang dihasilkan membuat mata perih dan terkadang sesak nafas. Apalagi jika api sudah susah untuk dihidupkan.


"Lah, disini ada kompor juga toh. Kirain hanya ada tungku." Aku terkikik dengan ucapanku sendiri.


Sayur telah matang beberapa menit lalu. Aku bahkan sudah menggoreng telur dadar sebagai lauk.

__ADS_1


Jam setengah enam pagi tepatnya, kami berangkat dari rumah mbak Rini. Sebelumnya, aku membalas pesan dari Imam maupun mas Pri yang menanyakan keberangkatan ku.


Bentuk perhatian kecil dari keduanya membuat hatiku menghangat. Namun lagi lagi aku dihadapkan pada pilihan sulit untuk hatiku sendiri.


__ADS_2