Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 26


__ADS_3

Lebaran hari pertama telah tiba. Pagi ini, setelah sholat Idul fitri, semua aktifitas terjadi secara normal. Beberapa kerabat dan saudara bahkan sudah ada beberapa yang berdatangan. Sebuah tradisi yang telah dilakukan turun-temurun entah dari jaman kapan.


Aku yang selalu kebagian shift pagi setiap tahunnya, selalu saja melewatkan kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga besar ku. Namun mereka sangat memahami keadaan dan situasi keluargaku sendiri.


Pagi ini setelah bersilaturahmi dengan orang-orang rumah terutama bapak dan ibu. Aku berpamitan untuk berangkat bekerja. Dengan berjalan kaki ku awali hari ini penuh dengan semangat. Berharap jerihku ini membuahkan hasil.


Pintu dapur samping bagian depan sudah terbuka. Bu Sri memang selalu datang paling awal dari pada yang lain.


"Selamat pagi, bu."


"Pagi, Ar. Kamu sudah datang? Nggak keliling dulu?"


"Ndak, bu. Nanti sore atau lain hari masih bisa. Lagipula waktunya tidak memungkinkan untuk itu."


Setelah saling bersalaman sebagai simbol maaf memaafkan kami melanjutkan aktifitas. Menyiapkan segala sesuatu dan mengecek apa saja yang mungkin terlewat tadi malam.


Aku memanasi kuah soto dan rawon. Sambil menunggu air mendidih aku mulai menyiapkan lalapan agar nanti tidak keteteran disaat tamu sudah mulai berdatangan.


Restoran dibuka dijam sembilan pagi khusus hari pertama lebaran. Hal itu adalah bentuk dispensasi dari hotel dan restoran, untuk memberikan sedikit banyak waktu bagi para karyawan untuk bisa saling bersilahturahmi terlebih dahulu dengan kerabat dan keluarga masing-masing.


Pagi tadi, mbak Rini mengirim pesan padaku. Jika hari ini dirinya ganti shift malam karena adiknya datang berkunjung ke rumahnya. Tidak mungkin mbak Rini bisa masuk shift pagi hari ini, mengingat jarak rumahnya yang sedikit jauh.


Aku pun tak begitu memaksa ataupun kecewa. Masih ada hari esok untuk kami bisa saling berkunjung.

__ADS_1


"Pagi kesayanganku."Imam masuk melalui pintu bagian depan samping.


Membuatku terkejut.


Dengan baju koko dan kopiah dikepala Imam tampak mengagumkan. Aku sendiri hanya terdiam menatap nya.


" Masih pagi, jangan bengong aja. Nanti digigit ayam lo, yank."


Hee..


Ku pukul lengannya pelan, garing sekali banyolan nya. Namun tetap aku tersenyum karena nya.


"Bu Sri yang cantik dan baik hati. Anak ganteng datang, bu." Teriaknya sedikit keras ketika memasuki dapur kotor.


Terdengar suara tawa dan haru disana. Sudah menjadi pemandangan umum memang. Momen berlebaran terkadang akan diwarnai dengan isak tangis. Seperti itulah pemandangan hari ini.


Dan disana, didepan sana aku bisa melihat dengan jelas. Sosok beda dari Imam, dia yang biasanya cuek dan selalu tampil apa adanya hari ini nampak berbeda.


Bukan kali ini saja aku melihatnya memakai baju koko dan kopiah. Karena bagaimanapun, kami sering melakukan ibadah bersama. Namun hari ini dia nampak lebih tampan dari biasanya. Entah ini karena mataku yang sedikit eror atau memang dia yang merapikan diri.


"Ngelamun terus, yank. Mikirin apa sih? aku disini lo, atau kamu sedang mikirin dia ya?"


Aku menggeleng cepat dengan pernyataannya. Aku memang memikirkan sesuatu, tapi bukan Pri atau apapun yang lain. Aku hanya bingung, sepagi ini dirinya sudah berada disini. Bukankah dia shift siang?

__ADS_1


Direntangkan kedua tangannya lebar lebar. Aku menghambur dalam pelukan nya. Banyak hal yang ingin ku ucapkan namun sungguh aku tak mampu mengutarakan nya.


"Yank, maaf. Mungkin, selama kita bersama. Aku banyak menorehkan luka atau membuatmu kecewa. Mungkin, ada banyak hal yang tak bisa ku jelaskan dengan kata-kata maupun perbuatan karena keterbatasan yang ku miliki. Aku minta maaf padamu. Aku tau dan sadar, entah kapan dan mengapa. Aku menyayangimu."


"Kamu selalu mengajarkanku artinya setia. Kamu juga yang selalu membawaku kembali jika aku tersesat. Seburuk apapun aku, dirimu selalu saja mau merangkulku dan membawaku kembali."


Aku tak tau harus bagaimana bersikap. Aku merasa nyaman bersamanya, namun hatiku selalu saja menolak untuk mengakui ini cinta. Aku hanya terisak didalam pelukan nya.


Berulang kali diusap nya air mataku dengan ujung jarinya. Beberapa kali juga dia kecup keningku untuk menenangkan. Namun kenyataannya, tangisku tak juga redah.


Setelah beberapa saat aku bisa menguasai emosi dalam diriku sendiri. Aku mulai bertanya tentang keberadaan pagi ini.


"Sengaja.Tadi sehabis turun dari masjid aku langsung pulang mencari ibu kemudian bapak. Keena kakakku tidak pulang lagi tahun ini, aku langsung kemari mencarimu. Sebentar lagi aku akan pulang, karena kamu tau sendiri jam Dia nanti aku harus masuk kerja." Ucapnya dengan entengnya.


"Kenapa harus bolak balik sih, kan sekalian nanti pas kerja juga bisa. Astaga, ini jauh lo, kamu harus bolak balik selama dua jam dijalan. Itu kan cukup waktu bisa kamu pakai berkeliling silahturahmi atau paling tidak buat kamu istirahat sebelum nanti kerja."


"Nanti kan sama yang lainnya, penting sama kamu sudah lebih dulu. Kalau nunggu nanti belum lagi sibuk, yank. Kamu tau sendiri kan? kalau pas sibuk mana mungkin kita bisa bicara banyak begini."


Apa yang dikatakannya memang benar, namun tetap saja aku merasa itu tak sebanding dengan capeknya dia dijalan.


"Sudah jangan manyun, aku balik dulu ya. Sebentar lagi resto sudah buka. Kalau sampai semua datang aku belum pergi, bisa jadi akun malah tidak bisa pulang nanti." Ucapnya sambil meremas tanganku.


"Aku pulang, semangat ya. Sesibuk apapun nanti, jangan lupa makan. Aku nggak mau dengar kamu sakit nantinya. Hemm, aku balik yank." Aku mengangguk.

__ADS_1


Menatap kepergian nya yang hanya beberapa jam saja. Karena nanti pun dia akan kembali lagi untuk bekerja. Namun bayangan bulan depan ketika dirinya akan pergi ke negeri sebrang sudah menghantui pikiranku sejak saat ini.


"Sanggupkah?" Pertanyaan yang selalu ada namun tak pernah ku dapati jawaban pasti tentang hal itu.


__ADS_2