
Sore telah tiba, hari ini berlalu tanpa terasa. Mungkin karena hari spesial, makanya banyak sekali tamu yang datang terutama para muda mudi.
Dengan kesibukan, aku sedikit melupakan apa yang terjadi. Bukan sedikit, tapi aku benar-benar lupa dengan yang kualami semalam dan pagi hari tadi.
"Yank, maaf semalam aku ada kepentingan mendadak. Jadinya aku sampai lupa kasih kabar ke kamu kalau tidak jadi." Imam berjalan tergesah karena memang waktu kerjaku sudah mau habis. Sementara dirinya baru menampakkan hidung.
"Tak apa sih." Jawabku santai dan meraih tad kecil ku karena waktu pulang sudah tiba.
"Kamu nggak nunggu aku kan yank semalam?" Tanyanya masih mengekor dibelakangku.
"Kagak nunggu sih, cuma diam duduk sambil main ponsel. ehmm sampai jam delapan kira kira." Ucapku santai dengan senyum yang aku lemparkan ke arahnya.
"Kita bicara deh yank." Dia menghentikan langkahku dan membawaku ke arah lobi hotel. Aku hanya diam mengikuti langkahnya tanpa protes sedikit pun.
Namun aku mulai mengedarkan pandangan ketika langkah kaki ini melewati lobi hotel sebelah samping. Itu artinya, kami akan masuk lewat pintu yang akan langsung mengarah pada mess dan ruang santai dibelakang kantor.
"Kita bicara disini saja." Ucapku berusaha menarik tanganku yang masih digenggaman nya.
"Ndak, aku ndak mau ada yang mengganggu kita nanti."
__ADS_1
"Tapi kamu masih kerja."
"Aku sudah selesai!!"
Aku terdiam, sudah selesai? itu artinya dia masuk shift pagi. Tapi kenapa baru di jam jam akhir shift ku dia muncul?
"Kalian mau kemana?" Mas Eksan kebetulan berpapasan dengan kami didepan kamarnya.
"Kamar, pak." Imam menjawab sambil terus menarik ku.
Mas Eksan menatap ku bingung. Namun aku kembali tersenyum padanya. Sesampainya dikamar nomer 3 dari ujung. Kami masuk dan aku bersikeras memintanya untuk tak menutup pintu dengan rapat.
"Ar, aku sayang sama kamu. Tapi aku tau dihatimu aku hanya sebagai orang yang menutup lukamu."
Ditatap nya mataku dan kemudian helaan nafas kembali terdengar.
"Maksudnya, luka apa?"
"Luka yang ditinggalkan Pribadi padamu."
__ADS_1
Aku terkejut, sejak awal aku mengenal iman. Aku tau dia berasal dari daerah yang sama dengan Priyadi namun beda desa atau kecamatan aku tak begitu paham.
Aku hanya ingat daerah Trembelang, perbatasan antara Cluring dan Jajag. Namun untuk pastinya aku benar-benar tidak tau.
"Kamu kenal dia?"
Imam mengangguk. "Dia temanku, aku bahkan tau wajah kamu pertama kali ketika masuk kedalam kamarnya beberapa bulan lalu. Kira kira sebulan sebelum aku memutuskan untuk bekerja disini."
"Kenapa kamu mendekatiku setelahnya?"
"Awalnya aku ingin merasakan menjadi Priyadi. Dia sempat bercerita bahwa kamu adalah orang yang baik, yang tak pernah menuntut lebih. Bahkan kau pun tak pernah marah ketika mengetahui dirinya berselingkuh. Namun, Priyadi juga mengatakan bahwa dirinya masih mencintai mu hingga saat ini. Dari sanalah rasa penasaran ku padamu datang."
"Ar, kamu gadis baik. Aku merasa tak pantas untuk berada disisi kamu. Aku lelaki normal seperti pemuda kebanyakan diluar sana. Aku juga butuh sesuatu yang menantang. Namun aku sadar itu tak akan pernah aku dapatkan darimu. Dan aku pun tak pernah mampu untuk memaksamu."
Aku terdiam kamu, teringat saat waktu kami baru saja mendapat predikat pacar waktu itu. Imam sempat mau mencium ku. Namun aku menolaknya sekuat tenaga. Hingga dia hanya mencium pundakku dan kembali merapikan bajuku yang tadinya sudah dia buat kusut.
"Dimana dia sekarang?" Tanyaku
"Kamu masih mencintai nya?"
__ADS_1
Aku mengangguk sebagai jawaban, disaat itulah Imam memelukku dan membuat aku menangis didadanya. Dan saat itulah aku tau bagaimana hatiku, bagaimana rasaku dan kemana cintaku berlabu.