Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 70


__ADS_3

Pulang kerja seperti biasa aku langsung pulang dengan membawa bungkusan makan malam yang selalu terlewat dari jam normalnya orang makan malam. Namun bagi kami berdua, jam makan itulah kami bisa menikmati nya bersama.


"Yank, capek?" Uluran tangan menyambut kedatangan ku. Senyum mengembang dibibirnya membuatku ikutan tersenyum.


"Capek, tapi udah biasa. Belum ngantuk kan?" Aku bertanya sambil membereskan tas dan makanan yang tadi ku bawah.


"Belum, aku kan nunggu kamu yank. Mana bisa aku tidur duluan."


"Tunggu bentar lagi ya, aku ke toilet dulu." Aku tersenyum dan berlalu meninggalkan suamiku yang masih duduk di tempat nya semula.


*


*


*


"Biar aku saja yang bereskan ini. Kamu istirahat dulu saja." Aku bergegas membereskan berkas makan kami.


Ku rebahkan tubuhku disampingnya dengan tangan yang memeluknya erat seperti biasanya. Tak pernah bosan dan terasa ada yang kurang disaat aku tak melakukan nya. Entah kebiasaan atau memang aku sudah menyukai nya. Yang jelas, tidurku akan semakin nyaman ketika memeluknya erat.


🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Waktu tak terasa terus berlalu. Banyak hal yang harus terlewat dan bahkan mungkin harus terlupakan. Ada pula hal yang tak ingin dilupa dan juga masih menjadi polemiik yang mengikuti.


Namun aku selalu menjalani semuanya penuh dengan keyakinan bahwa semua akan baik baik saja.


Seperti pagi ini, Mas Pri mengirim pesan padaku dan mengabarkan jika dirinya ingin kembali bertemu. Karena dirinya akan kembali ke kampung nanti malam.


"Kenapa?" Valdi mendudukkan dirinya disampingku.


"Pesan dari mas Pri, dia mengajak ketemuan."


"Kamu mau pergi menemuinya?"


"Kehadiran ku nanti membuat kalian berdua canggung. Aku nggak mau merusak hari mu yank."


"Haaa.. kamu ngomong apaan sih."


"Apa yang ku katakan memang benar kan?" Ucapnya seraya mengusak rambutku.


Aku terdiam sambil menatap mata suamiku yang tersenyum menatap ku. Seperti hal nya aku, tak menyukai bila ada seseorang yang mendekati suamiku seperti hal nya Diyah. Jujur saja hatiku sakit ketika pertama kali mendengar tentang apa yang terjadi diantara mereka. Hingga aku pun perlahan mengerti rasa sakit yang berusaha selalu disimpan suamiku dalam setiap senyuman nya.


Dia tak pernah melarang ku.

__ADS_1


Ku letakkan kepalaku didadanya, detak jantung yang selalu sama ku dengarkan di setiap malam ku. Ingin ku marah dengan kenyataan yang menimpa kami dan juga kebohongan yang masih disimpan nya hingga saat ini. Namun aku sadar akan kekhawatiran yang menderanya.


"Mandi sana, bau acem tau."


"Siapa suruh peluk peluk, kan aku baru pulang olahraga." Dikecup nya pipiku sebelum dirinya berlalu ke dalam kamar mandi.


Kutatap punggung yang hilang dibalik pintu kamar mandi. Aku beranjak menyiapkan baju ganti untuk nya dan mulai membereskan beberapa pekerjaan.


Tepat di jam 10 pagi, nampak sebuah motor ninja warna biru berhenti dihalaman kontrakan ku. Dari gestur nya aku yakin itu Mas Pri. Namun aku pura-pura tidak melihatnya dan membiarkan suamiku yang menyambut kedatangan nya kali ini.


Saat suamiku mandi tadi, aku mengirimkan pesan kepada Mas Pri dan memintanya datang ke kontrakan saja. Beruntung, dia tak keberatan karena memang diawal pertemuan waktu itu Mas Pri sempat berkata ingin berjumpa langsung dengan suami ku.


"Permisi, benar ini kontrakan Arsita?"


"Benar, temannya Ar ya? mari silakan masuk. Ar masih ada di dalam, sebentar saya panggilkan."


"Yank, ada tamu yang mencarimu. Katanya teman kamu, tapi aku lupa menanyakan namanya." Valdi menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kamu temani dulu sana, aku masih mau ganti baju."


Aku melenggang masuk ke kamar untuk mengganti baju. Sebenarnya itu hanyalah alasan yang ku buat agar mereka bisa saling bicara dengan akrab.

__ADS_1


__ADS_2