
Aku bersorak senang, Valdi memelukku dari belakang dan meletakkan dagunya di pundakku. Aku yang memang setinggi pundaknya langsung menghilang ketika dia mendekap ku.
"Suka?" Aku mengangguk.
Boleh dibilang kencan kami berdua dilakukan setelah menikah. Masa pacaran yang sangat singkat hanya 3 bulan sebelum kami memutuskan untuk menikah. Waktu itu kami hanya sekedar makan dan bercerita. Bahkan jarang sekali kami bisa keluar berdua seperti malam ini.
"I love you." Bisiknya di telingaku dengan kecupan kecil dipipiku setelah nya.
Kata cinta yang selalu dia ucapkan disaat kami berdua. Aku tersenyum, Valdi tak pernah memintaku untuk menjawabnya. Namun aku tahu dia membutuhkan itu.
Sampai saat ini, diusia pernikahan kami yang menginjak 4 bukan. Aku belum mampu untuk menjawab semua pernyataan cinta suamiku. Ingin berucap namun sangat sulit.
"Nanti pulangnya kita mampir ke warung bakso langganan ya."
"Bakso lagi?" Tanyanya.
Aku mengangguk, makanan berbentuk bulat dengan kuah gurih tersebut memanglah salah satu makanan kesukaan ku. Tak salah jika sampai saat ini pun lidahku masih menyukainya.
"Nggak bosen?" Aku menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
"Jadi pengen seperti bakso, yank."
"Kenapa?"
"Dia selalu kau suka disegala keadaan. Mau senang atau sedih, bakso akan tetap kamu pilih untuk menyenangkan hatimu."
"Kamu ngomong apa sih?"
Pelukannya semakin erat ku rasakan. Bahkan nafasnya pun terasa hangat di tengkuk ku. Kami masih berdiri di sudut taman bersama dengan pengunjung lain yang melihat pertunjukan gelembung. Sebagian besar adalah keluarga dengan membawa serta anak kecil di tengah tengah mereka.
Kami terdiam cukup lama, tak ada yang kami bicarakan. Namun pelukan suamiku masih kurasakan. Hingga sorak sorai pengunjung pertanda pertunjukan berakhir,membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh sambil cemberut, bagaimana tidak. Valdi dari tadi tak henti hentinya mencuri ciuman dipipiku. Walau lampu ditaman tidak begitu terang. Tetap saja, pengunjung sedang ramai, pasti ada saja satu, dua orang yang melihat kelakuannya.
"Kangen yank. Kita jarang sekali punya waktu berdua begini. Aku kerja pagi dan ketika pulang giliran kamu yang kerja. Begitu terus, kita ketemu hanya waktu tidur dan bangun pagi hari."
Aku hanya menggeleng dan menarik lengannya untuk meninggalkan taman. Tujuan kami adalah warung bakso langganan.
🍂🍂🍂🍂
__ADS_1
Tepat jam 10 malam kami tiba kembali dikontrakan. Ku rebahkan tubuhku di kasur setelah ku lempar jaket lebih dulu.
"Capek?" Suami ku mendekat dan kembali mencium ku.
"Sedikit, tapi seneng sih."
"Gimana nggak seneng, habis bakso 2 mangkok kamu yank." Disandarkan punggungnya ke ranjang.
Aku hanya nyengir, beringsut kepalaku berpindah. Kujadikan pahanya sebagai bantalan. Kuambil ponsel yang berada disaku celanaku. Sengaja ponsel ku silent karena tidak ingin terganggu.
Sedikit kaget setelah melihat notifikasi yang ada. Beberapa pesan masuk dari adik ke duaku dan ada juga dari teman temanku. Namun pesan Iman yang ada beberapa itu. Tak biasanya dia mengirim pesan hingga berkali-kali.
"Siapa?"
"Teman teman." Ku perlihatkan layar ponsel yang menunjukkan pesan mereka yang belum ku buka.
Satu hal yang sudah menjadi kesepakatan kami. Barang barang privasi kami tidak pernah saling mencampuri. Bukan hanya ponsel, dompet, tas pun demikian. Jika salah satu dari kami ingin membuka atau membutuhkan sesuatu maka keduanya harus berada disana.
Seperti aku, walau suamiku mengijinkan aku membuka dompet untuk mengambil untuk belanja. Sekalipun tak pernah ku lakukan jika tanpa adanya dia disisiku. Demikian juga dengan suami ku. Kami berdua terbuka dalam segala hal tapi masih saling menghormati privasi masing-masing. Hal yang sangat ku suka dari Valdi.
__ADS_1