Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 9


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Tak pernah ku ambil pusing apapun yang terjadi disetiap hari hariku. Aku menganggapnya sebagai jalan untuk ku maju dan semakin berkembang dalam menjalani hidup yang terasa sangat berat untuk ku pikul.


Jangankan untuk berpikir tentang cinta. Aku lebih menenggelamkan diri demi kepentingan keluarga ku terlebih dahulu.


Keadaan bapak yang sedang sakit, membuatku sedikit down dan terguncang. Dulu, disaat aku masih sekolah. Bapak juga pernah mengalami sakit yang seperti ini. Dan kini aku harus kembali melihat beliau tergolek lemah.


"Kamu nggak kerja, Ar?"

__ADS_1


"Masuk siang bu." Aku menjawab pertanyaan ibu sambil berlalu membawa keranjang berisi cucian kotor. Sejak memulai bekerja, aku nyaris tak pernah membantu pekerjaan dirumah.


Jam kerja yang begitu mepet membuatku tak dapat membagi waktu dengan baik. Biasanya, tugas mencuci baju dan menyapu akan diambil alih oleh adikku sebelum dirinya bersiap dan berangkat sekolah.


Ku bergegas menyelesaikan segala pekerjaan rumah yang bisa ku kerjakan. Ku lirik jam dinding sekilas. Masih jam sepuluh pagi. Hari ini aku masuk jam 1 siang. Itu artinya aku masih memiliki waktu 3 jam untuk bersantai.


Ku rebahkan badan ini di kasur ku yang tak lagi empuk. Kutatap langit langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Entah kebetulan atau memang sengaja aku juga tidak tau. Kemarin disaat aku hendak pulang terdengar suara lirih berbisik. Aku sempat penasaran dan ingin mendekat. Namun Mas Dian muncul dan menarik tanganku. Aku sempat ingin protes namun Mas Dian tak menggubris ku. Terus saja ditariknya tanganku menjauh.


Aku pejamkan mata ini, berharap pikiran yang mengganggu akan segera enyah dan pergi. Namun rupanya dia sangat bandel hingga terus saja hadir walau sudah berusaha ku usir. Pada akhirnya aku tak dapat istirahat dengan nyenyak siang ini.

__ADS_1


Ku duduk kan tubuh dan bersandar pada dinding. Kembali mengingat apa dan bagaimana aku selama ini. Banyak hal yang ku lewatkan dan mungkin tak ku ketahui hingga saat ini. Perubahan teman teman ku ditempat kerja menambah panjang deretan rasa penasaran dalam hatiku.


Tatapan kasihan dan simpatik sering kali terlihat nyata walau mereka tak mengungkapkannya.


"Apa caraku ini sudah benar?" Tanyaku pada diri sendiri.


Pertukaran shift jarang sekali aku dan mbak Buna lakukan. Kami melakukannya jika ada salah seorang sedang berkepentingan. Maka memang benar, melihatku masuk siang atau shift siang adalah hal yang sangat jarang kecuali sedang lembur.


Namun hari ini aku sengaja mengambilnya dengan alasan ada kesibukan dirumah. Walau pada dasarnya semua itu hanyalah bohong belaka. Tak ada kesibukan berarti, tak ada kegiatan atau apapun itu. Namun aku sengaja menukar shift hanya karena suara yang kemarin sore ku dengar.

__ADS_1


Suara samar yang aku juga menebak-nebak siapa pemiliknya. Suara asing yang menyebut namaku dengan begitu muda. Rasa penasaran ku tak bisa lagi ku bendung hingga pada malam harinya aku menulis pesan pada Mbak Buna. Sengaja aku memilih waktu ketika jam resto sudah tutup. Sehingga tak ada kesempatan buat Mbk Buna menganti schedule.


Dan semuanya berjalan sesuai dengan sekenario yang aku bikin. Entah drama apa yang aku jumpai nanti. Namun dengan rasa dihatiku yang tak tenang membuatku semakin yakin bahwa ada sesuatu yang akan terjadi.


__ADS_2