
Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, ketika kami memutuskan untuk pulang. Banyak hal yang sebenarnya ingin diselesaikan, namun sepertinya sekarang juga bukan waktu yang tepat.
Ayu berpindah duduk di boncengan belakang bersama ku. Gadis kecil itu sepertinya sudah sangat mengantuk. Terlihat beberapa kali dia menguap dan menjatuhkan kepala nya ke depan.
"Kami pulang ya, Mam. Makasih banyak untuk jamuannya." Mbak Rini berdiri dan mulai merapikan pakaian dan jaket Ayu.
"Jangan kapok ya mbak main kesini."
"Tenang saja, nanti pasti main lagi kok. Asal ada suguhannya." Kerlingan mbak Rini mengikuti ucapannya.
Dia memang begitu orangnya. Tak pernah mau menutupi apapun demi terlihat baik. Ucapannya yang selalu ceplas ceplos terkadang mengundang tawa. Namun tak jarang juga membuat sakit hati jika belum terlalu paham dengan sikapnya itu.
Imam menatap ku lama, namun tak ada pergerakan darinya. Aku mengerti dengan sikapnya.
"Aku pamit duluan ya." Ku ulurkan tangan kepada para teman mereka.
__ADS_1
"Lain kali main main ke Jajag lagi ya, mbak. Biar bisa akrab kitanya." Rudi tersenyum seraya menerima uluran tanganku.
Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan mereka. Ku lirik Pri yang masih diam ditempatnya tanpa bergeming. Begitupun dengan Imam.
"Astaga situasi apa ini." gumamku pelan.
Ku toleh mbak Rini dihalaman yang telah siap dengan motor nya. Terpaksa aku yang harus memulai semuanya.
"Mas, aku balik duluan ya." Pri menerima uluran tanganku.
Aku tersenyum seraya membalikkan badan. Entahlah, bibir ini terasa kelu dan air mata pun rasanya ingin keluar. Sekuat hati aku menahan segala gejolak yang kembali datang menerjang dinding kokoh yang coba aku bangun selama ini.
Melihat dan menatap matanya langsung membuatku goyah. Benar kata Imam, kalau cinta itu masih ada disana untuk nya. Tapi, bagaimana dengan Imam? Aku tak mungkin hanya memanfaatkan kebaikan hatinya saja, bukan?
"Hubungi aku jika sudah sampai nanti." Pri berbisik dan memelukku dari belakang tepat didepan pintu. Aku bahkan tidak menyadari kehadiran nya dibelakangku.
__ADS_1
Hatiku kembali bertalu talu ketika hembusan nafasnya menerpa leherku. Hal yang telah lama tak kurasakan kini kembali terjadi. Berbeda rasanya ketika aku bersama Imam.
"Aku pamit ya!!" Ulangku kemudian.
Aku harus segera pergi demi kenyamanan hatiku. Jangan lupakan tatapan beberapa pasang mata disana. Dan juga, Imam yang menatapku dalam senyum yang dia sembunyikan di balik bibir tipisnya.
"Hati hati ya di jalan. Jangan tidur larut biar besok nggak terlambat berangkatnya." Imam menepuk pundakku pelan.
Tak ada pelukan, tak ada panggilan sayang. Apalagi ciuman yang biasa dia lakukan disaat kami akan berpisah. Entah karena kami semua sedang berdiri di halaman rumahnya, atau karena dirinya sedang menutupi segalanya di depan Mas Pri.
Aku mengangguk sebagai jawaban, segera ku naiki motor yang sudah menyala dengan mbak Rini dan Ayu yang telah siap duduk diatasnya.
Hati apa yang kau lakukan padaku? kenapa kau selalu mempermainkan perasaanku begini.
Aku menangis disepanjang jalan menuju rumah Mbak Rini. Bahkan ketika wanita beranak satu itu mengajak ku berbicara pun aku tak lagi mampu berkonsentrasi mendengarnya. Hingga akhirnya, mbak Rini pun menyadari perubahan sikapku.
__ADS_1
"Menangis saja kalau itu bisa membuatmu lebih tenang, Ar." Ucapnya dan kemudian terdiam, memberi ruang padaku untuk bisa menguasai perasaanku sendiri.