
"Ehm, yank. Kamu mau ketemu sama dia?"
Imam menatap ku lekat, untuk sesaat aku hanya terdiam. Entah apa yang hatiku ini rasakan.
"Aku keluar sebentar ya." Imam beranjak
"Mbak Rin, jangan buru buru pulang ya mbak. Aku mau keluar sebentar." Ucapnya pada mbak Rini.
"Ya, tapi jangan terlalu malam ya. Ini nih bocah takut ngantuk nanti dijalan."
"Ya, cuma bentar kok." Lanjutnya seraya berlalu.
Aku masih bergeming ditempat ku. Aku memang ingin bertemu dengan nya. Tapi untuk saat ini, entah apa yang hatiku rasakan. Rasa gamang tiba-tiba hadir menyapa. Aku bahkan tak tau apakah cinta itu masih ada untuknya.
Terkadang aku bertanya pada hati ini. Siapa yang sebenarnya ada didalamnya. Walaupun ingin ku menyangkal semuanya. Tetap saja, perasaan itu selalu datang menyapa.
"Dia yang dimaksud Imam itu siapa sih, Ar. Kok kalian kelihatan aneh gitu." Suara Mbak Rini Menginstrupsi ku.
"Em, dia." Aku kembali terdiam, bingung akan menyebutnya apa.
"Mantanku mbak." Ujarku pelan.
Entah lah, sebutan itu sudah cocok atau tidak. Hubunganku dengannya memang sedang mengambang tak menemukan titik kejelasan. Ingin lepas tapi tak bisa, ingin mendekat namun tak mungkin.
Dilema yang beberapa tahun ini menyiksa hati kami. Ah benarkah hati kami? atau hanya hatiku saja yang masih terikat dan tak mau melepaskan.
"Oh.Bakal ada drama seru kayaknya bentar lagi ya." Mbak Rini tersenyum kearah ku. Aku hanya mendengus, tau akan apa yang dimaksudkan nya.
__ADS_1
Tak sampai 15 menit Imam telah kembali. Namun kali ini dirinya tak sendiri. Ada sebuah motor yang ikut mengiringinya parkir di halaman. Dua orang berada di motor tersebut. Sedangkan Imam, bersamanya ada dua orang lagi dan salah satunya tentu aku sangat mengenalnya.
Mereka berlima masuk kedalam rumah. Sebelum beralih ke ruangan yang aku tempati. Mereka terlebih dahulu menemui bapak Imam dengan kedua tamunya diruang tamu sebelah. Setelahnya barulah mereka datang menghampiri ku dan mbak Rini.
Ada sedikit gugup ketika kembali menatap mata itu. Mata, yang beberapa tahun belakangan selalu bisa meneduhkan dan juga membuatku rindu.
"Kamu disini?" Tanyanya seraya terus menatap ku.
Ehm.. aku hanya mengangguk, entah mengapa aku seperti tak bisa untuk bersuara. Ada perasaan senang yang menjalar dalam hatiku, namun juga ada sedih dan juga rindu yang turut juga hadir membayangi nya.
"Aku yang memintanya main kesini. Kebetulan, Ar lagi menginap di rumah mbak Rini. Jadi ya sekalian ku minta mampir." Adalah Imam yang menjawabnya.
Dia sendiri memilih duduk sedikit menjauh dariku. Tak seperti tadi diawal aku datang ke rumahnya.
"Aku dibohongi?" Pri berujar namun tatapannya masih lurus kearah ku.
"Maksudnya?" Aku benar-benar tak tahu apa yang dia maksud.
"Aku terus nggak ada yang nyapa ini?" Mbak Rini menjadi penyelamat dikala aku benar-benar tak bisa berkata-kata.
"Kenalan mbak, ini teman temanku.Itu Kober, Rudi, Adi dan Kucrut."
"Kok namanya ada yang aneh." Mbak Rini tertawa diujung kalimatnya.
"Kober sama Kucrut. Aku sampai lupa nama asli mereka, saking enaknya sama panggilan itu." Imam tergelak diikuti teman temannya.
"Ayo sambil dimakan ya. Kuenya tinggal sisa sisa tapi. Tadi sih banyak tapi sudah dihabisin sama mereka itu." Tunjuk Imam membuatku mendelik.
__ADS_1
"Sudah lama?" Pri bertanya padaku.
"Nggak sih, belum ada se jam juga." Aku mencoba berbicara dengan tenang.
Ku lirik Imam yang tersenyum simpul. Dimainkannya ponsel ditangan dan mengetik pesan entah untuk siapa.
"Kenapa kagak kasih tau kalau mau kesini? maksudku ke kalau kmu mau berkunjung ke Jajag." Pri berujar seraya tangannya mengambil emping dalam toples yang tadi Imam sodorkan padaku.
"Sebenarnya sih kemarin mau kesininya. Tapi ada kendala sedikit jadinya baru hari ini terlaksana. Ini aja nyempetin, soalnya besok kan aku masih harus kerja." Terangku.
"Nggak ngambil cuti? kan lebaran. Masa kerja terus."
"Kan sudah peraturan disana nya. Cuti boleh diambil selain pas hari libur atau tanggal merah."
Dia hanya manggut manggut dengan ucapanku. Suasana hening tercipta karena semuanya diam tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Gimana kabar kamu sekarang?"
"Baik, seperti yang kamu liat saat ini." Aku tersenyum.
"Kamu selama ini tinggal dimana? kok nggak pernah liat kamu ada main ke rumah mbak Etik." Lanjut ku
"Di bali. Aku jarang pulang sejak waktu itu. Membuang waktu disana dengan banyaknya kenangan. Setidaknya sedikit membuatku tenang." Ungkapnya seraya kembali menatap ku.
Aku memang tak pernah menanyakan padanya tentang keberadaan nya selama ini. Setiap kali berkirim pesan, kami hanya mengobrol ala kadarnya. Bertanya kabar dan sedang melakukan apa. Tak pernah mengungkit tentang kisah lama ataupun perasaan.
"Sekarang sudah tenangkan?" Ku beranikan diri menatap matanya. Disana masih terlihat sama. Mata yang tajam setajam mata elang itu menatap hingga menembus hatiku. Kembali rasa sakit itu menyembul di sudut nya tanpa bisa ku cegah.
__ADS_1
"Hanya sedikit. Sampai mataku kembali harus menatap mu di sini. Dan ketenangan itu ku rasakan kembali menguap begitu saja. Kau tau? betapa susahnya aku melewati semua waktu. Namun ternyata hasilnya tetap tak bisa." Aku menunduk.
Sangat sadar dengan apa yang terjadi diantara kami dulu. Membuat luka yang seharusnya tak pernah ada menjadi lebih parah. Bukan salah kami, bukan salah cinta juga bukan salah hati. Keadaan yang membuat kami harus melewati ini.