
Aku dan Valdi pulang ke kampung halaman ku di H-1 pernikahan kami. Tanggung jawab pekerjaan yang tidak bisa kami tinggalkan begitu saja, terutama pekerjaanku. Membuat kami memundurkan waktu cuti.
Waktu tengah malam kami pilih untuk berangkat. Selain menghindari panas tapi juga menghindari macet.
Dan benar saja, subuh menjelang kami berdua sudah tiba dirumah kedua orang tuaku. Aku bernafas lega, semuanya telah dipersiapkan dengan baik oleh keluargaku.
Dari tenda, dekor hingga persiapan makanan untuk tamu sudah disediakan. Terbukti dengan banyaknya bahan mentah yang tinggal menunggu eksekusi.
"Ar, kamu mau mengundang teman teman kerja kamu di hotel, nggak?"
Aku menatap itu seraya berpikir. Sudah lama, ya sejak lama aku tidak berhubungan dengan mereka. Semenjak aku memutuskan resign empat tahun lalu. Akankah aku datang dengan undangan kepada mereka?
"Nggak usah aja, bu. Aku nggak enak. Sudah lama kami tidak saling bertukar kabar."
"Ya, sudah. Kalau ada teman yang mau diundang, kamu cepetan kasih tahu. Hari ini terakhir undangan di sebar. Yang lainnya sudah dari kemarin."
"Ibu sama bapak undang banyak orang?" Beo ku.
Dalam benakku hanyalah memikirkan pernikahan sederhana dengan mengundang tetangga sekitar. Tanpa harus melakukan hajatan yang mewah.
__ADS_1
"Kemarin sih udah 300 undangan. Belum yang saudara dan teman dekat, kan besok di kirim nasi kalau mereka."
Aku melongo mendengar penuturan ibu. Undangan yang sudah disebar sebanyak itu? ku tepuk keningku pelan. Aku melupakan satu fakta, jika aku sedang hidup di kampung. Dengan toleransi yang tinggi dan rasa kekeluargaan yang masih kental.
Bukannya hidup di kota tidak ada hal demikian. Tentu saja ada, namun kadarnya sedikit sekali.
Yang selanjutnya aku lakukan hanyalah mengangguk dan kemudian pergi ke kamar.
"Ada apa?" Ku tatap Valdi yang sedang duduk di tepi ranjang, dengan ponsel masih berada didalam genggamannya.
"Keluargaku nggak bisa datang." Ucapnya sambil menunduk.
Keluarga Valdi tinggal di kota yang sedikit jauh. Ah tidak, mereka tinggal memang di tempat yang jauh. Perlu sehari semalam dengan berkendara sendiri barulah bisa sampai. Kecuali naik pesawat barulah terasa sebentar, namun itu tak mungkin. Mengingat kami berdua berasal dari keluarga pas pasan.
"Kak Fendi juga?" aku bertanya setelah mendudukkan diri disebelahnya. Sangat terlihat jelas kekecewaan dimata Valdi.
Fendi adalah kakak ipar ke duanya. Dia dan keluarga nya berada di kota tempat kami bekerja.
"Entahlah, aku pusing." Ku usap pundaknya untuk menenangkan.
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak berpikir, nanti kamu sakit." Bukan tak ingin memikirkan nya. Namun mengingat aku dan Valdi memang sangat sibuk di minggu terakhir menjelang cuti, membuat kami kekurangan waktu istirahat.
"Apa kata keluargamu nantinya?"
"Mereka akan mengerti, kendala tempat yang jauh sama waktu yang mungkin sangat mepet. Sudahlah, sebaiknya kita makan dulu. Setelah itu baru beristirahat, semalaman kamu mengemudi pasti ngantuk." Valdi mengangguk.
Setelah memastikan Valdi beristirahat, aku beranjak kedepan. Disana, aku berkumpul dengan para sepupu. Terpisah dengan waktu yang sedikit lama, membuatku sedikit lupa dengan beberapa orang diantara mereka.
Yang dulu terlihat masih kecil, mereka sudah besar bahkan tingginya sudah melebihi aku. Rasanya baru sebentar saja kami tidak bertemu.
"Ini siapa, Om?"
"Ya ampun. Itu Yuli, anaknya Om Di yang di Jember. Masa sudah lupa?"
Mbak Fatim yang kebetulan melintas malah menjawab kebingungan ku. Dia yang tadinya mau masuk ke kamar yang dijadikan gudang bahan sementara mengurungkan niatnya dan menyambung dengan obrolan kami.
"Lo, ini Yuli yang kecil itu? yang hitem, eh." Aku segera menutup mulut ku.
Gelak tawa sontak terdengar ketika aku menutup mulut ku yang sedikit kurang filter. Tak ada pekerjaan untuk kami, semua masih ditangani para orang tua. Hingga sore menjelang, kami masih setia berkumpul dan bercerita.
__ADS_1
Sementara itu..