Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 19


__ADS_3

Setelah dirasa cukup dan memang waktunya sudah beranjak petang. Kami memutuskan untuk pulang. Mas Eksan kembali ke hotel sedang mas Dian mengantarkan ku pulang.


"Mas, beneran yang tadi itu ya." Tanyaku penuh selidik.


Rasanya sedikit tak percaya dengan kata-kata yang keluar dari bibir Mas Dian. Selama mengenalnya, tak pernah aku melihat tempramen dia yang buruk. Karenanya aku sangat nyaman dekat dengan mas Dian.


"Yang mana?"


"Yang itu mas, ehmm yang begituan?" Ucapku sedikit memelankan suara diujung kalimat ku.


"Hilih, Ar. Masih dipikirin to yang itu." Jawabnya sambil tersenyum geli.


"Iya.Habisnya aku nggak percaya aja sih Mas Dian juga sama seperti Imam."


"Aku juga cowok normal, Ar. Coba coba itu hal biasa buat kaum kami. Tapi ingat tidak buat kamu ya. Awas saja kalau berani nakal."

__ADS_1


"Hee, kok malah aku yang diawas awas. Ih, dianya sendiri yang nakal gitu kok."


"Kan sudah ku bilang tadi, kami para cowok juga kagak akan nolak kalau ditawarin apalagi dikasih secara cuma cuma alias gratis. Beh dijamin laris manis pokoknya."


"Jangan menilai orang dari luar nya saja, Ar. Kamu harus bisa menilai sampai kedalam hatinya. Bukan dalemannya ya, itu nggak penting sama sekali. Jangan pernah terkecoh dengan mulut manis. Karena yang manis itu biasanya tidak akan tahan lama."


"Seperti permen karet, semakin kamu kunyah semakin menipis rasa manisnya. Jadi sebisa mungkin kamu kenali lawan mu dengan sepenuh hati sebelum kamu menyesal nantinya."


Motor berhenti di halaman rumah ku. Tampak lampu sudah menyalah karena memang hari sudah menjelang malam.


"Sama seperti aku. Kamu nggak percaya kan kalau aku nakal diluaran sana? atau Wawan, Hanto, Roy. Menurutmu siapa diantara mereka yang paling pendiam dan benar-benar polos?"


Hahahhaa gelak tawa Mas Dian menggelegar. Segera ku pukul lengannya karena kesal. Bapak sampai keluar memperhatikan kami


Mungkin sedikit tidak enak sama tetangga kiri kanan yang mungkin terganggu dengan suara gelak tawa kami tepatnya gelak tawa Mas Dian.

__ADS_1


"Kenapa nggak diajak masuk, Ar. Kok malah ngobrol dihalaman."


"Saya nggak lama kok pak. Sudah maghrib juga." Mas Dian menjawab seraya membungkukkan sedikit badannya menyapa bapak yang kemudian kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan aku dan Mas Dian.


"Roy, tak se polos yang kamu kira. Kamu mungkin tak akan percaya kalau aku bilang yang masih polos dan asli perjaka diantara mereka itu cuma Wawan. Tapi itu kenyataan, walau dia suka sekali bicara yang menjurus. Dia bisa menahan dirinya. Sudahlah tidak bahas lagi, aku mau balik dulu. Nanti kalau ngobrol terus aku malah dibawah ke rumah pak RT."


Mas Dian menghidupkan mesin motornya.


"Ngapain dibawah kerumah pak RT mas?"


"Selain berisik aku juga menahan anak gadis orang dihalaman sejak tadi. Hahahha."


Mas Dian segera tancap gas sebelum aku kembali melayangkan pukulan ku. Aku menggelengkan kepala. Pembicaraan hari ini bersama Mas Dian dan Mas Eksan sedikit membuat aku tau tentang pergaulan mereka diluar lingkungan kerja.


Ku langkahkan kembali kakiku memasuki rumah. Ku lihat bapak sudah bersiap dengan sarung dan kopiyah nya. Sementara ibu berada di dapur sepertinya, karena aku mendengar suara sesuatu masuk kedalam penggorengan dengan minyak panas.

__ADS_1


Ku lanjutkan langkah menuju kamarku. Tak berapa lama aku keluar lagi menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku.


Menguyur kepala ini dengan air dingin. Mencoba meluapkan segala beban dalam pikiran. Tentang banyak hal yang membuatku sedikit kebingungan dengan apa yang aku ingin dan aku rasakan. Terutama Hatiku


__ADS_2