
"Jadi? sudah sejak lama masalah itu terjadi?"
"Ya."
"Dan kamu masih bertahan hingga saat ini?" Imam meraup wajahnya kasar.
Malam ini aku menceritakan semua yang terjadi diantara hubunganku dengan Mas Pri. Dan juga semua yang terjadi diantara keluarga kami.
Penolakan keluarganya bukanlah satu satunya yang menjadi masalah. Karena dari pihak keluarga ku pun demikian. Bahkan, Budhe dengan terang-terangan mengatakan keberatan nya ketika mengetahui aku menjalin hubungan dengan Mas Pri. Padahal, tanpa mereka ketahui. Aku dan Mas Pri sudah lama bersama.
"Bukankah aku telah mencobanya selama ini? mencoba menjauh dan melupakannya. Bukan hanya ku, tapi dia pun melakukan hal yang sama."
Lirih ku.
Mas Pri adalah cinta pertamaku. Cinta yang ku jaga selama bertahun-tahun. Tak pernah terbesit sedikitpun niat dalam hati ini untuk menjalin kasih dengan yang lain. Walau waktu itu kami sempat terpisah selama empat tahun.
"Sampai sekarang, apa cinta itu masih ada disana?"
Aku menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan yang Imam ajukan. Helaan nafas berat terdengar jelas. Aku tahu, hatinya juga tidak dalam keadaan baik saat ini.
__ADS_1
"Bagaimana persiapan mu minggu depan? semua sudah lengkap kan?"
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Membahas soal rasa tidak akan sama dengan membahas makanan. Pembahasan rasa yang menyangkut hati akan sulit menemukan titik terang.
Hati setiap manusia tentu berbeda isi dan cara pandang nya. Bahkan, apa yang baik menurut kita belum tentu baik bagi orang lain.
Aku yang tak ingin membuat kecewa keluarga dan menjadi penyebab perpecahan diantara keluarga Mas Pri pada akhirnya memilih untuk mundur.
Jalan kami berdua masih panjang. Umurku masih dua puluh tahun kala itu. Dan aku sangat menyakini bahwa jodoh dan maut selalu ada yang mengaturnya.
"Besok aku ambil libur. Mau pergi ke Jember buat urus paspor. Kalau masalah lainnya sudah ada kakakku disana yang urus. Aku hanya tinggal berangkat saja nantinya."
Minggu depan, tepatnya di hari Rabu Imam akan berangkat ke negeri Jiran. Dan itu artinya, dua hari lagi masa kerjanya di hotel ini. Tiga hari lamanya waktu yang tersisa untuk aku bisa menatapnya dalam nyata. Setelahnya kami hanya akan berhubungan lewat alat tanpa bisa saling menggenggam.
Imam meraih ponsel yang ku taruh diatas meja. Saat ini kami berdua sedang menghabiskan malam minggu berdua. Imam mengajakku ke sebuah Mall kecil. Bukan Mall terbesar karena memang daerah tempat kami tinggal adalah kota kecil. Meskipun demikian, terdapat banyak fasilitas bagi para penduduknya. Tergantung dari isi kantong masing-masing.
Sebuah restoran cepat saji menjadi pilihan untuk kami bersantai dan bercerita.
"Lo, kamu kan masih disini. Kok sudah ada nomernya?"
__ADS_1
Ku perhatikan nomor ponsel dengan kode wilayah yang terdapat +61 didepannya.
"Aku sudah siapin semuanya, yank. Sampai disana nanti nggak perlu repot lagi untuk cari ini itu. Dan aku bisa langsung menghubungimu."
"Sudah pamit sama semuanya?"
"Besok lusa, pas hari terakhir kerja. Biar sekalian kan, lagipula semua juga sudah tahu tentang rencana kepergianku ini." Ku lirik Imam yang meminum cola dalam gelasnya perlahan.
Bahkan Burger dan kentang goreng yang kami pesan pun belum tersentuh hingga saat ini. Suasana hening tiba-tiba tercipta. Kami berdua larut dalam pikiran masing-masing tanpa bisa untuk mengungkapkan.
"Boleh aku mengantarkan mu disaat dirimu berangkat?"
Ya, aku berharap untuk bisa melakukan hal terakhir kalinya. Karena setelah ini entah kapan lagi kami berdua bisa bertemu lagi.
"Aku berangkat ke Surabaya naik Lorena. Nanti, aku akan meminta ijin sopir untuk berhenti di kantor loket pemesanan tiket bisa yang ada di timur balai desa itu. Kamu bisa menungguku disana. Ajak mas Eksan atau mas Dian, jangan berangkat sendiri."
Aku segera mengangguk. Tak mungkin memang untukku mengantarkannya hingga ke bandara. Karena menurutnya pesawat yang ditumpanginya akan berangkat subuh.
"Boleh aku meminta sesuatu nanti, yank?"
__ADS_1
"Apa?"
"Jangan menangis, lepaskan kepergianku dengan senyum termanis mu. Karena itu yang akan selalu ku ingat nanti, ketika aku merindukanmu disana."