
Flashback dirumah Mas Pri.
"Kamu yang namanya Arsita itu? pegawai hotel kan?"
Suara seorang wanita mengejutkan kami berdua, hingga membuat kami menoleh serempak dan melihat sosok yang berdiri dengan sebelah tangannya berada dipinggang.
"Mbak, apa apaan sih!! ngomongnya kok gitu amat."
Mas Pri menatap tajam ke arah sang kakak yang masih berdiri angkuh ditempatnya.
"Emang apanya yang salah? toh semua benar. Buat apa marah kalau memang kenyataannya begitu." Ucapnya masih menatap dengan sinis.
"Saya bukan pegawai hotel mbak. Tapi di restorannya. Beda kok hotel sama restoran karyawannya." Jelasku pelan
"Halah, sama saja. Bos nya sama kan? intinya ya sama aja kamu juga secara nggak langsung jadi pekerja hotel. Makan uang haram." Lanjutnya membuat ku terkejut.
"Mbak!!"
__ADS_1
"Kamu berani lawan aku gegara cewek hotel ini, Pri?. Liat saja, semenjak kamu kenal sama cewek nggak bener ini sikap kamu sekarang kasar."
"Dan kamu. Jangan pikir bisa bodohi aku ya. Selagi ada aku disini, jangan harap kamu bisa melangkah jauh dengan Pri. Dia itu masih bau kencur dan jangan sampai rusak hanya karena ulah kamu." Tunjuk nya padaku seraya melanggang pergi.
Aku terdiam, mencoba mencerna apa yang barusan ku dengar dengan telingaku langsung. Apa yang dikatakannya tak salah. Namun, kita juga nggak bisa membuat kesimpulan dan mengartikan semua menurut cara pandang kita sendiri.
"Sita." Mas Pri mendekatiku dan duduk di sebelahku.
"Aku nggak pa pa kok Mas. Lagi pula, apa yang dikatakan Mbak kamu benar adanya." Aku berusaha tersenyum diantara gemuruh di hatiku.
Uang Haram
Pemahaman ku tentang hal itu sangat minim.Aku hanya tahu menghasilkan uang dengan bekerja keras. Namun tak pernah aku berpikir tentang laju perputaran uang yang ku terima selama ini.
Jikalau harus ku pikirkan maka semua termasuk haram. Bahkan para karyawan hotel berbelanja diwarung, toko, swalayan dan juga naik angkutan dengan hasil gaji mereka. Lalu, yang menerima kembalian dengan uang tersebut bukannya sama aja?.
Seharusnya tidak diukur demikian bukan? haram dan halal adalah hak yang Maha Kuasa untuk menentukan.
__ADS_1
Ku coba untuk tetap bersikap tenang. Mas Pri sendiri sepertinya sedang bingung untuk menentukan sikapnya.
Tepat di jam satu siang akhirnya aku pamit untuk pulang. Mas Pri sempat menawarkan untuk mengantarkanku. Namun dengan segera aku menolaknya. Dengan menaiki bus kota akhirnya aku kembali ke tempat kelahiranku. Tempat dimana aku bisa tersenyum bersama kedua orang tua dan kedua adikku.
Flashback Off.
🍃🍃🍃🍃
Aku tersenyum dengan getir yang kembali dalam ingatanku. Semua masih teringat jelas dalam ingatanku.
Salah satu hal yang membuatku meragu waktu itu. Tak hanya itu, masih banyak lagi hal yang membuat aku dan mas Pri tak mungkin akan bisa bersatu.
"Kamu melamun terus. Ada apa? mau cerita padaku?" Mas Dian tiba-tiba datang menepuk pundakku pelan.
"Sedikit pikiran mas. Tapi memang seharusnya tidak lagi menjadi beban pikiranku si. Hanya teringat masa yang udah lewat."
"Buat apa diingat kalau hanya membuat luka. Lebih baik kamu gunakan waktumu untuk hal yang lebih penting lagi dari itu semua."
__ADS_1
Aku mengangguk. Apa yang dikatakan Mas Dian memang benar adanya.
Semua sudah berlalu bukan? tapi mengapa hatiku seolah masih mengingkarinya.