
#Cinta, kasih sayang dan rindu adalah sesuatu yang membahagiakan namun juga menyesatkan. Bersyukurlah dengan cinta yang kau punya tanpa adanya pertentangan.#
☘️☘️
Ku nikmati semua waktu dan kulalui semua mimpi dengan penuh yakin dalam hati. Namun tetap saja, semuanya akan berjalan sesuai dengan takdir.
Beberapa waktu setelah hari itu. Aku semakin instens berhubungan kembali dengan Priyadi. Setelah dia menghungiku kami saling bertukar nomer telfon. Menanyakan kabar adalah salah satu dari basa basi yang kami lakukan selama ini.
"Yank, Pri ada ngubungi kamu?" Imam berkunjung kerumahku siang ini.
Hari ini kebetulan adalah waktu libur ku. Dalam sebulan ada 4 libur wajib dan dalam setahun juga ada libur tahunan selama setengah bulan sampai 20 hari. Dan ini adalah libur wajib ku yang kedua, sebagai pengganti libur ku yang tertunda.
"Ada, cuma nanya kabar. Kenapa?"
"Tak apa, cuma sekedar pengen tau aja sih."
Hening menyapa kami, entah kenapa aku bisa kekurangan bahan sekarang jika sedang berbicara dengan Imam. Padahal sebelumnya selalu ada aja cara kami mencairkan suasana.
__ADS_1
"Mam, dengar dengar dia mau pergi lagi ya?"
"Iya, mungkin bulan besok. Kenapa? dia belum kasih tau kamu?"
Aku menggeleng, memang tak banyak yang aku dan Pri obrolkan. Hanya seputar kabar dan kegiatan saja. Masih banyak hal canggung diantara kami berdua.
"Kamu ingin ketemu dia langsung apa nggak? atau cukup hanya sekedar bertanya kabar lewat pesan atau telfon?"
Aku menatap Imam yang juga menatapku. Ada ragu dalam diri ini jika bertemu dengan Pri langsung. Aku juga takut tak lagi bisa mengendalikan perasaanku padanya. Bagaimanapun rasa itu masih sama kuatnya seperti dulu. Andai saja itu mungkin, mungkin tak akan sesakit ini jalannya. Namun aku bisa apa?
"Apa tidak akan aneh jadinya nanti, Mam?"
"Mau jalan kemana? lagian aku lebih suka berdiam diri di rumah." Aku mengambil kerupuk dalam toples dan memakannya.
"Bersiap siaplah!! kita jalan jalan keluar sebentar. Mumpung masih sore."
Haaa
__ADS_1
Aku masih terpaku ditempat, tidak biasanya Imam mengajakku keluar disaat libur begini. Bahkan lebih sering kami hanya mengobrol sampai capek dan dia kembali ke hotel karena jam kerjanya udah mulai.
"Udah sana, malah bengong gitu. Mau nggak?" Disentil nya hidungku yang mancung kedalam ini sedikit keras.
Aku hanya mengerucutkan bibir sambil berlalu menuju kamar dan berganti pakaian. Take memerlukan waktu lama, karena aku hanya mengganti baju rumahan ku dengan kaos casual dipadukan dengan celana jeans warna hitam. Aku juga mengikat rambut panjangku sedikit tinggi. Bedak dan lipgloss tak lupa aku taburkan agar wajahku sedikit segar. Setelahnya aku bergegas keluar dengan membawa tas kecil yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi.
"Ayuk!!" Imam yang sedang memainkan ponselnya menatap kearahku.
Dengan cepat dimatikan nya ponsel dan berdiri. Kami berdua bergegas mencari ibu untuk berpamitan.
"Emang kamu mau ajak aku kemana?"
"Kemana aja, cari tempat yang enak untuk kita bersantai." Ucapnya dibalik kemudi motornya.
"Kalau cuma tempat santai kan dirumah tadi juga sudah santai. Kenapa harus keluar sih." Protes ku seraya mencubit pinggangnya yang sedang ku peluk.
"Dirumah kagak leluasa, yank. Aku nggak bisa peluk kamu kalau disana."
__ADS_1
Eh dia kerasukan apa ya. Aku memilih diam, tak bisa ku pungkiri. Bersamanya aku juga merasa nyaman. Sama seperti sedang bersama Mas Dian danas Eksan.