
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Setelah menyantap makan siang Mas Pri berpamitan pulang. Dia yang hanya mempunyai waktu satu minggu di kota ini benar-benar mengatur waktu sebaik mungkin. Namun dia berjanji, nanti dihari terakhirnya kami akan kembali bertemu.
Dengan menenteng bungkusan makan siang untuk suamiku aku melangkah kembali ke kontrakan dengan senyum yang mereka. Rasa bahagia tak dapat lagi ku sembunyikan. Banyak hal yang kami bicarakan di pertemuan singkat itu.
Seolah tak lagi ada beban, semuanya berjalan normal. Walau genderang dalam hatiku sempat tak normal dibuatnya.
Aku masuk ke dalam kontrakan, terlihat suamiku sedang bersandar di kasur. Menyambut ku dengan senyum ketika aku melangkah mendekatinya.
"Sudah?"
Aku mengangguk, menaruh tas dan mengganti pakaian yang ku pakai dengan pakaian rumahan. Lalu menyiapkan piring untuk makan siang suamiku.
"Kenapa menatap ku begitu?" Valdi menatap ku sejak tadi.
"Bahagia banget kelihatan nya."
"Iya, banyak hal yang kami bicarakan. Nanti aku ceritakan ya. Sekarang kamu makan dulu, tadi aku memesannya untuk mu."
__ADS_1
"Kamu nggak makan?"
"Sudah, tadi makan dulu disana."
Valdi mengangguk, membuka mulut ketika ku sodorkan sendok berisi nasi dan lauk pauk. Aku masih sering menyuapi nya. Terkadang dia menolak namun aku lebih suka melakukan nya. Semenjak sakit, aku selalu melakukan itu. Bukan hanya biar cepat namun juga agar makanan yang dimakannya sedikit lebih banyak.
"Gimana hari ini? sudah lebih baik tidak badannya?"
"Tadi berjemur sebentar terus jalan jalan dihalaman. Lumayan sedikit lama, bisa keringatan juga. Kamu nggak bosen rawat aku, yank. Ini sudah hampir sebulan aku sakit."
"Ngomong apa sih. Penting niat untuk sembuh dan selalu berusaha. Nanti juga akan puli seperti sedia kala."
"Tadi mas Pri nanyain, kenapa kamu nggak ikut ketemu dia."
"Kamu jawab apa?"
"Ya aku bilang kalau kamu sedang sakit, makanya nggak bisa ikut. Dia juga bilang nanti pas hari terakhir dia disini mau usahain ketemu kita."
__ADS_1
"Beneran ingin ketemu aku?"
"Heem, dia mengatakan nya sendiri tadi. Nitip salam untuk hari ini."
"Wa'alaikumussalam.Kalian ngobrol banyak?"
Aku membenarkan posisi ku agar lebih nyaman. Masih sambil bersandar di dadanya aku menceritakan apa saja yang ku bicarakan bersama mas Pri. Juga tentang kutukan yang dulu pernah diucapkan nya. Juga penjelasan mas Pri kalau dia tak pernah berniat untuk itu. Semua ucapannya hanya karena amarah semata. Dan dia meminta maaf atas segalanya.
"Kamu bahagia?"
"Ya, kami berakhir baik itu yang paling penting. Tak ada lagi salah paham apalagi saling memendam rasa sakit dan membenci. Semua telah kembali baik. Makanya aku bahagia, sekarang hanya tinggal kamu untuk berusaha segera sembuh."
Aku mendongak, menatap mata Valdi yang juga sedang menatap ku. Di kecupnya ujung hidungku yang mancung ke dalam berulang kali. Aku hanya tersenyum. Ku ingin suamiku terbuka padaku seperti apa yang aku lakukan sekarang. Namun aku harus bersabar dan tak bisa memaksanya. Semua itu sangatlah sulit dan aku tahu dia sangat tertekan.
"Maaf ya yank. Maaf kan aku."
"Maaf untuk apa? kamu nggak lagi berbohong kan?" Aku menyipitkan mata berpura-pura menyelidik. Valdi tergelak dan merengkuh ku dalam pelukannya.
__ADS_1
Aku tersenyum, sosok yang datang entah dari mana. Dengan waktu yang sangat singkat berada disisiku. Membantu ku untuk bangkit dari rasa cinta yang membelenggu selama ini tanpa adanya jalan keluar yang pasti. Sosok yang entah sadar atau tidak tak pernah ingin untuk ku lepaskan. Dia milikku, selamanya hanya milikku. Dialah suamiku.