Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 32


__ADS_3

Pov Imam


Beberapa waktu setelah kepergian Arsita dan mbak Rini. Aku kembali masuk ke dalam rumah bersama Pri dan ke tiga temanku lainnya.


Awalnya kami bercerita seperti biasa layaknya berkumpul setiap ada waktu senggang. Bohong jika aku tak tahu keseharian Pri dan dimana dia berada selama ini. Namun aku sadar, itu bukan kapasitas dan wewenang ku untuk mengatakan yang sebenarnya pada Arsita.


Bagaimanapun, aku tak pernah tahu kebenaran kisah cinta mereka berdua selama ini. Jadi aku memilih diam seolah tak mengerti apapun.


Ditengah canda tawa kami. Tiba-tiba Pri bertanya sesuatu yang membuatku sesak, hingga aku tak bisa tidur setelahnya.


"Kamu menyukainya?" Tanyanya tanpa basa basi.


"Siapa?" Aku masih berpura-pura tak mengerti arah pembicaraannya.


"Sita?"


Aku terdiam, manatapnya lekat. Sita? mungkin itu adalah panggilan sayangnya untuk, Ar.


"Kenapa kamu berpikiran begitu?" Aku masih mencoba untuk mengelak.


Rasanya tak ingin aku bertengkar, mengingat kami adalah sahabat sejak lama. Aku juga tidak ingin membuat, Ar terkena masalah karena aku salah berucap.


"Sikap kamu berbeda padanya. Kalian berdua seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu. Tak salah bukan? jika aku mempunyai pemikiran seperti itu?"


"Ar itu gadis baik.Bahkan semua teman kerja di hotel maupun restoran sangat dekat dengannya. Anak itu enak diajak bicara dan bercerita. Kami semua dekat, bukan hanya aku tapi semuanya dekat." Aku menatap Pri yang balik menatapku.


Aku sangat berharap dia percaya dengan penjelasanku ini. Walaupun aku memiliki rasa pada Ar, namun aku tak ingin egois dengan memaksakan keinginanku.


"Bagaimana dengamu? kau masih mencintainya?" Pancing ku selanjutnya.

__ADS_1


Jujur saja aku ingin mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan mereka berdua, terlepas dari permasalahan yang membayangi hubungan mereka selama ini.


"Aku masih sayang padanya. Tapi semuanya sangat rumit untuk kami jalani." Ucapnya seraya menghembuskan asap rokok ke atas.


"Hanya sayang? kalau cuma sayang seharusnya kamu bisa melupakan nya. Kalian bisa saling melepaskan tanpa harus saling menyakiti begini." Aku mencoba membuat jalan tengah.


Entah apa nanti yang akan terjadi. Aku hanya ingin membuka jalan. Untukku, untuk Ar maupun untuk Pri sendiri.


"Andai semudah yang kau katakan, Mam. Mungkin aku sudah melakukannya sejak lama. Namun dengannya aku nggak bisa. Bukan sekali dua kali aku mencobanya. Tetap kegagalan yang aku derita. Kau tahu bagaimana aku selama berusaha putus dengannya? Kata putus yang terucap dari bibir ini hanya sebatas angin. Tak ingin bahkan tak rela hati ini untuk benar-benar melepaskan nya." Pri menundukkan wajahnya.


Terlihat beberapa kali dirinya menarik nafas. Ku pejamkan mataku sendiri. Teringat bagaimana wajah Arsita ketika kami membicarakan tentang hubungannya bersama Pri selama ini.


Aku sangat yakin mereka berdua masih saling mencintai. Lantas alasan apa yang mendasari perpisahan mereka?


"Kalau memang tidak bisa dan kalian saling mencinta, kenapa tidak mencoba untuk bertahan. Mungkin ada solusi dari permasalahan yang kalian berdua hadapi."


Aku mencoba meredam rasa yang bergejolak dalam dada ini. Bagaimana tidak? aku mencintai nya juga, namun aku malah memberi saran dan solusi pada pesaingmu.


"Andai tak ada konflik antara keluarga kami. Mungkin semua tidak akan begini jadinya. Mungkin juga, aku dan Arsita masih bersama hingga saat ini." Pri menyulut batang rokok ke duanya.


Aku terdiam dengan kata-kata yang dian lontarkan barusan. Ternyata memang benar, masalah mereka bukanlah masalah yang biasa dialami pasangan yang hanya menjalin kasih. Dengan apa yang ku dengar barusan, aku bisa menyimpulkan jika mereka berdua bahkan sempat berencana untuk bersama.


"Yank, pantas saja dirimu sulit untuk menerimaku. Ternyata sedalam itu cinta kalian. Aku harus bagaimana mengakhiri rasa ini padamu?" Kembali aku berbicara pada diri sendiri.


Rasa hancur itu terlihat jelas di kedua mata Pri yang menatap kosong. Obrolan kami hentikan ketika Rudi dan Kuncrut kembali. Mereka berdua awalnya keluar untuk membeli rokok hingga tadi aku dan Pri punya kesempatan untuk saling berbicara. Walau hasilnya masih saja sama. Menggantung.


Obrolan dan candaan kami lakukan. Bahkan aku dan Pri seolah melupakan apa yang beberapa menit yang lalu kami bicarakan.


Ponsel ku berdenting tanda ada pesan masuk. Begitupun ponsel Pri yang ditaruh nya di atas karpet. Aku sempat melihat sekilas nama Arsita yang muncul disana. Dan ketika ku tengok ponselku pun itu pesan dari nya juga.

__ADS_1


"Dia sudah sampai, katanya dah mau tidur." Ucapku agar tak menimbulkan curiga pada yang lain.


"Siapa?" Rudi membuka mulutnya sembari memakan kacang telor dengan santainya.


"Arsita." Jawabku pelan.


"Dia juga mengirim pesan yang sama padaku." Pri memperlihatkan pesan Ar sekilas.


"Dia masih singgel kah?" Kuncrut pun akhirnya buka suara.


"Kenapa? jangan bilang kalian naksir ya?" Tatapku pada kedua temanku yang sedikit eror tersebut.


"Wajar saja kalau naksir, lagian dia cantik. Kalau tersenyum itu lo bikin jantung dag dig dug rasanya." Rudi tersenyum dengan kata-kata nya sendiri.


"Ya Tuhan, jangan ditambah lagi sainganku." Pekikku dalam hati.


"Dia memang cantik. Bukan wajahnya tapi perilakunya. Aku banyak bertemu cewek yang lebih cantik darinya. Namun terkadang membosankan, sedangkan Arsita beda. Dia bisa membuat suasana hidup."


Untuk pendapat yang satu itu aku sangat setuju. Apa yang Pri katakan adalah benar adanya. Arsita bisa membuat suasana hidup dan penuh tawa. Berbicara dengannya akan terasa nyaman karena dirinya mampu menempatkan diri.


Tepat tengah malam kami menyudahi obrolan ngalor ngidul yang kami lakukan sejak tadi. Bahkan sebelum benar-benar pergi. Pri sempat berpesan dan menitipkan Arsita padaku. Tak tahukah dia bahwa aku juga menginginkannya?


Ku rebahkan tubuhku setelah mengunci semua pintu. Bahkan kedua orang tuaku pun nampaknya sudah terlelap sejak beberapa jam yang lalu.


Pikiranku melayang dengan banyaknya pertanyaan yang hinggap dalam benak ini. Entah yang mana yang harus aku cari tahu jawabanya terlebih dahulu.


Karena gelisah aku tak bisa memejamkan mata hingga waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Kuraih ponsel yang tadi sempat ku isi daya. Niat hati ingin bermain game sambil menunggu rasa kantuk datang. Namun aku malah melihat bahwa dirinya masih terjaga.


"Apakah kamu sedang berbagi pesan dengan Pri disana, yank?"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat ku kesal sendiri. Hingga akhirnya aku putuskan untuk menghubungi nya.


__ADS_2