
Flashback.
"Ar." Suara lirih yang dulu sering menemani setiap hari ku. Suara yang selalu ku rindu di setiap waktu.
"Ya, hallo." Pelan ku
"Sayang."
Deg
Kata sakral yang sangat memabukan namun terasa sangat menyakitkan kini ku dengar. Kata yang sudah lama tidak pernah dia ucapkan lagi setelah saat itu. Kata yang seolah terlarang untuk kami berdua katakan. Namun justru, kata itu sangat ku rindukan.
"Ya, mas."
"Malam ini temani aku ngobrol ya? besok mungkin kita tak lagi bisa saling berbicara. Kamu sudah menjadi milik orang lain. Berikan aku kesempatan untuk menghabiskan malam ini dengan mengobrol bersamamu seperti dulu."
"Aku,.."
"Aku mohon, Ar. Mengertilah posisiku. Jika memungkinkan aku ingin pulang dan memelukmu saat ini. Aku ingin mengatakan pada dunia bahwa aku tak rela. Tak rela melewati melepasmu juga tak rela dengan takdir yang mempermainkan cinta kita."
"Aku sudah mencoba, bahkan berkali-kali mencoba. Tapi tak pernah mampu, rasa itu seolah tertanam dan mengakar kuat dalam hati dan jiwaku. Otakku seakan menolak segala kenyataan namun aku masih dipaksa untuk berpikir waras."
__ADS_1
"Yang, kenapa harus sesakit ini. Apa yang salah dengan rasa ini? kenapa penghalang diantara kita terlalu besar? Bukan akhir seperti ini yang aku mau yang."
Air mataku meleleh tanpa mampu ku tahan. Mataku menatap nanar langit langit kamar. Hatiku terasa sesak, bukan hanya dengan semua kata katanya. Namun juga karena hatiku yang juga merasakan luka.
"Kenapa harus pertemuan antara aku dan kamu, sementara rasa ini tidak pernah menjadi **kita**."
Hening tercipta tanpa bisa dicegah, aku masih terdiam dengan isakan tertahan. Ingin rasanya aku meraung sejadi-jadinya, namun itu tak mungkin ku lakukan saat ini. Sosok yang sedang terpejam dihadapanku masih terlihat tenang tanpa terganggu sedikitpun.
"Yang, besok jam berapa ijab nya dilaksanakan? Aku bisa mendengarkan nya kan?"
Aku terhenyak, Mas Pri masih menyangka jika acaranya besok. Padahal malam ini adalah malam pertamaku setelah berganti status.
"Apa? kamu nggak lagi becanda kan, Ar. Becanda mu nggak lucu."
"Tidak, becanda. Tadi pagi ijab nya sudah dilakukan."
"Berarti malam ini, malam pertamamu dengan nya?"
"I.. iya, tapi.. "
"Nggak, nggak bisa!!" Potong nya tanpa mau mendengarkanku bicara.
__ADS_1
"Kamu milikku, Ar. Kamu milikku!! kenapa kamu jahat sekali padaku? kenapa kamu membunuhku sekejam ini? kenapa Ar, kenapa?"
Arrgggghhhh
Tak sanggup lagi aku bersuara, sesak itu kian menyiksa hatiku. Apakah ini salahku?
"Kau, kau nggak akan bisa melakukannya. Kamu hanya milikku, Arsita. Dulu maupun sekarang. Dengar aku, kamu tidak akan bisa memiliki keturunan jika bukan aku yang menjadi suamimu."
Jeddarrr
Jantung ku seakan berhenti berdetak saat itu juga. Suara musik yang masih mengalun lirih dan juga suara para tetangga yang masih terjaga terdengar riuh penuh tawa.
Ku genggam erat ponsel yang telah padam beberapa menit yang lalu. Aku tergugu dalam diam, badanku terguncang menahan gejolak. Namun sakit lebih terasa didalam jiwaku.
Kemana aku harus mengadu? Siapa yang paham dan bisa mengerti perasaan ku sebenarnya. Aku menikah bukan karena paksaan, tapi itu adalah pilihan. Pilihan yang ternyata amat sangat menyakitkan.
Aku beranjak, ku dekati Valdi yang masih terlelap. Demamnya sudah turun, tidurnya damai dengan dengkuran halus yang terdengar.
Kembali aku menangis. Malam ini, dimalam pertama ku. Aku tidak hanya menyakiti hati dan jiwaku sendiri, namun aku juga telah membuat sakit untuk Mas Pri. Bahkan aku memberi luka yang tidak pernah diketahui oleh Valdi.
Dalam gelap malam yang perlahan berganti pagi. Aku hanya bisa meratap tanpa suara. Dan kata maaf pun tak akan bisa mewakilinya.
__ADS_1