
Sulit kupejamkan mata ini walau sebentar. Terngiang sangat jelas kata-kata lugas yang dilontarkan Mas Pri. Aku tertegun dengan semua yang terjadi malam ini.
Salahkah keputusan yang ku ambil?
Mundur? tentu itu sudah tak mungkin lagi kulakukan. Kutatap wajah lelap disampingku. Wajah seorang pria yang telah menjadi suamiku sejak tadi pagi. Wajah yang selalu ada disetiap hari hariku namun tidak di dalam hatiku.
Ku lirik jam kecil di sudut meja, dan aku yakin malam ini aku tak akan pernah bisa memejamkan mataku lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Namun pikiran ku masih berkelana jauh.
Memang benar yang dikatakan orang, menangis dalam diam adalah hal yang benar-benar menyakitkan. Menahan rasa sakit dalam sebuah senyuman itu mengiris luka menyayat jiwa. Semuanya telah aku rasakan.
"Heleh ini pengantin baru, masih pagi udah bengong aja. Mikirin apa sih? kuda kudaan? Sabar lah dulu, nanti atau besok juga sudah bisa naik kuda kamu." Dengan secangkir kopi ditangannya. Mas Made mendudukkan diri disamping ku. Pagi ini kami berada dilantai atas rumahku.
Dibawah sana, masih terlihat hiruk pikuk kesibukan orang-orang yang membongkar tenda. Serta para tetangga yang masih membantu beres beres.
"Ngomong nya nggak ada rem, mas."
__ADS_1
"Kan bukan bus AKAP jadi nggak punya rem. Los doll pokoknya."
"Aku menggeleng dengan kelakuan sepupuku yang satu itu. Diantara yang lain, Mas Made adalah yang paling penyayang. Dia akan terlihat cuek didepan orang lain. Namun berubah tengil saat berada bersama dengan orang-orang yang di sayanginya.
"Mikir apa kamu? hutang?" Kan bener, mulutnya kalau sudah terbuka maka akan ada aja kalimat ajaib yang dia ucapkan.
"Hutang apaan coba." Ku hela nafas dalam.
"Hutang kuda kudaan." Cengirnya tanpa dosa. Saat ku plototkan mata.
"Lain orang lain pula pemikirannya, mas. Syukurnya aku nggak pakai hutang ini. Entah kalau ibu sama bapak tanpa sepengetahuan ku."
"Mas pernah jatuh cinta, nggak?" Aku lanjutkan kata kataku sebelum mulut Mas Made kembali terbuka.
"Jatuh cinta beneran maksudmu?" Aku menoleh seketika.
__ADS_1
"Emang ada ya, jatuh cinta bohongan."
"Adalah, pura-pura jatuh cinta padahal nggak."
"Jatuh cinta beneran maksudku, Mas. Yang sampai nggak bisa lupa meski udah berusaha mencoba, gitu misalnya."
Sejenak, Mas Made menatapku. Ada sedikit kerutan di dahinya dan sepertinya dia berpikir tentang pertanyaanku. Di seruput nya kopi dalam cangkir perlahan.
"Pernah, dan itu sangat sulit dilupakan. Hanya bisa dibiarkan dan menjadi kenangan saja. Sebab, bagaimana pun cara kamu melawan nya. Rasa itu akan semakin kuat mengikatmu. Dan seberapa besar keinginanmu untuk melepaskan, maka semakin sakit yang kamu rasakan. Lepaskan, ikhlas kan dan dia akan menghilang dengan sendirinya."
"Semua kata kataku sangat muda kuucapkan dan sangat gampang didengar bukan?" Mas Made tersenyum.
"Namun prakteknya sangat sulit dilakukan. Butuh waktu yang entah sampai kapan, yang pasti itu nggak sebentar. Aku sendiri sudah merasakan nya. Jangan dilawan jika rasa itu hadir, namun berusahalah untuk menerima dan mengikhlaskan. Itu akan sedikit mengurangi rasa sakit di hatimu."
Aku menundukkan wajahku. Apa yang dikatakan Mas Made semua benar. Sudah lama bahkan terlalu lama aku rasa, mencoba dan terus mencoba hingga titik akhir keputusan yang ku ambil sekarang. Namun masih ada ruang yang terasa sakit dan itu menyiksaku. Apalagi mengingat kata katanya semalam.
__ADS_1