Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 41


__ADS_3

Hari sabtu siang, seorang pemuda datang dengan tas kresek merah berukuran besar ditangannya. Dengan sekilas melihat pun sudah nampak isinya.


Buah rambutan itu nampak segar seperti baru saja dipetik. Aku hanya melihat sekilas dan mempersilahkan nya untuk masuk dan duduk. Sementara aku pergi mencari bapak yang saat itu sedang berada di kebun belakang rumah.


"Oh, kamu sudah datang. Sebentar ya, bapak mau ganti dulu."


Bapak bergegas masuk dan terburu-buru ke kamar mandi. Beberapa menit berikutnya, beliau sudah keluar dengan baju berbeda dan nampak segar. Bapak mandi, aku sedikit heran. Karena itu diluar kebiasaan bapak. Di jam seperti ini dirinya akan berkecimpung dengan ladang dan sawah. Jarang sekali bapak merapikan diri sebelum pekerjaan nya selesai. Bahkan tadi aku masih melihat cangkul dan sabitnya masih tertinggal di ladang. Itu artinya, bapak berniat untuk kembali ke ladang ketika tamunya pulang.


"Ar, sini sebentar."


Aku yang belum paham dengan situasinya hanya mampu mendekat. Segelas teh dan sepiring singkong goreng aku suguhkan.


"Kenalkan, ini nak Andi. Dia ini pegawai PLN, kerjanya di seputaran Banyuwangi."


Dengan sumringah bapak memperkenalkan tamunya.


Aku mengangguk dan menerima uluran tangannya. Ku tatap sekilas pemuda yang sedang duduk dihadapanku tersebut.


Wajah oval, kulit kuning langsat dengan bibir tipis. Jangan lupakan matanya yang hitam dengan sorot tajamnya. Badan yang tak begitu kurus namun juga tidak gemuk. Dengan tinggi badan kira kira 170 cm.


"Kalian ngobrol saja ya, bapak mau kedalam dulu." Bapak langsung berdiri tanpa menunggu jawaban dari kami.


Dari gelagat yang bapak tunjukkan aku menjadi mengerti akan satu hal. Pemuda yang mengaku bernama Andi ini memang sengaja datang untuk bertemu denganku. Dan kemungkinan besar, dialah pemuda yang bapak ingin jorohkan denganku beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Bagaimana kabar kamu?" Ucapnya seraya menatapku.


"Aku baik, mas kenal aku kah?" Dari gestur nya aku menebak dia berumur diatasku makanya aku memilih untuk memanggilnya mas.


"Secara langsung sih belum, dan baru kali ini kita bertemu dan bertatapan begini. Kalau secara sekilas sudah sering, tapi kamu sepertinya nggak menyadari itu."


"Mungkin karena tidak kenal kali ya." Aku tersenyum.


"Bolehkan aku mengenalmu lebih dalam?"


"Maksudnya, kenal yang bagaimana mas?"


"Ya mengenal secara pribadi gitu, misalnya." Dia mengusap tengkuknya sendiri setelah menyelesaikan kalimatnya.


"Kalau mas bisa memperhatikan dengan seksama, pasti mas tahu gimana sikapku. Aku ya begini sih tak ada yang istimewa ataupun diistimewakan. Namun aku nggak suka ada orang yang mencampuri urusan ku lebih dalam."


Tak ada getaran apapun yang aku rasakan pada sosok bernama Andi ini. Biasa saja seperti aku berjumpa dengan orang asing. Bahkan lebih asing dari ketika aku bertemu dengan teman lama. Rasa tak nyaman itu benar-benar membuatku tak ingin berbasa basi terlalu lama.


"Ini memang niat kesini apa sedang tugas?"


"Memang niat kesini sih. Kebetulan hari ini sedang cuti kerja. Jadi bisa jalan jalan sebentar."


Aku hanya mengangguk.

__ADS_1


"Kalau kita keluar gimana? main ke mana gitu atau makan bakso?"


Makan bakso? otakku langsung berputar cepat. Dia pasti sudah lama memantau keseharian ku. Buktinya, dia bahkan tahu jika bakso adalah makanan favoritku.


"Hari ini aku masuk lembur, mas. Kayaknya nggak bisa."


"Lo, bukannya cuti ya hari ini?" Tanyanya seraya menatapku.


"Tadinya memang jatah cuti sih. Tapi tadi pagi ada reservasi untuk nanti sore hingga malam. Jadi aku diminta masuk siang."


Aku melirik jam di dinding yang masih menunjukkan jam sebelas siang.


"Sebentar lagi aku juga berangkat. Soalnya reservasinya dadakan, belum sempat menyiapkan apapun disana."


Aku berharap dengan ucapan ku ini dia bisa mengerti dan segera pulang. Bukan aku tak suka akan kedatangannya. Namun rasa tak nyaman itu membuatku tak betah.


Diluar dugaan, bapak malah keluar dan mengajaknya mengobrol panjang lebar. Alasan yang ku jadikan kepura-puraan pada awalnya menjadi sebuah drama untuk aku keluar dari rumah.


Hari ini aku berniat untuk membersihkan kamarku, mumpung hari libur. Pada nyatanya semua gagal karena kedatangan orang yang tak aku inginkan.


Dengan mengirim pesan ke pada Mas Dian aku mulai sok sibuk. Dan dengan penjelasan singkat, Mas Dian datang dengan menggunakan baju kerjanya dengan alasan diminta untuk menjemputku segera datang karena dapur sedang membutuhkan bantuan.


Aku tersenyum, dengan mengedipkan sebelah mata Mas Dian memberi kode padaku untuk segera ganti pakaian dan pergi bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2