
Seminggu sudah berlalu dari terakhir kali bapak mempertemukan ku dengan pemuda bernama Andi tersebut. Setiap harinya ku lalui penuh dengan perdebatan hingga membuat aku merasa tidak betah untuk tinggal dirumah.
Seminggu juga aku pulang terlambat dari jam biasanya aku pulang kerja. Bahkan aku sering menghabiskan waktu ku bermain dan bercerita dengan teman temanku di lobi hotel.
Bahkan aku pun merasakan ketidak nyamanan ketika keluar baik bersama Mas Dian ataupun yang lainnya. Dan pada hari ini, aku sedang mencari buah untuk pesanan koktail nanti malam. Berhubung dadakan, akhirnya aku harus berbelanja sendiri mencari bahan yang kurang.
Mas Eksan dan Mas Dian sedang disibukkan dengan pekerjaan mereka yang kebetulan keduanya sedang shift pagi.
Beruntung ada Mas Roy yang mau mengantarkanku ke pasar tradisional yang jaraknya lumayan sedikit jauh. Sekitar 1 kilo meter dari restoran tempatku bekerja.
Dengan mengendarai motor kami berboncengan dan saling bercerita. Walaupun kedekatan kami tak seperti kedekatan ku dengan Mas Eksan dan Mas Dian. Namun kami tak pernah ada jarak untuk saling bersenda gurau.
Perasaan tak nyaman tiba-tiba datang menyelinap dalam hatiku. Aku mendengus kesal, lagi dan lagi dia mengikuti dan memata matai semua kegiatanku.
Jujur saja aku tidak menyukai semua tindakannya. Belum juga aku menerima pinangan nya. Bagaimana jika nanti aku menjadi istrinya?
Rasa kesal membuat mood ku yang pada awalnya baik baik saja menjadi ambyar tak berbentuk.
Bahkan Imam yang dekat sekali denganku waktu itu tidak pernah melakukan seperti yang dia lakukan.
"Ini kita mau belanja apa aja, Ar?" Mas Roy menyenggol lenganku ketika kami berdua sudah masuk ke area pasar.
"Cari buah yang paling utama, mas. Kalau sudah nanti baru cari yang lainnya."
"Ya sudah ayo."
Kami berdua melangkah menuju stan buah. Ada beberapa buah yang memang dipesan oleh tamu untuk nanti malam. Beruntungnya semua masih tersedia dengan lengkap.
__ADS_1
Aku berjalan ke sudut untuk memilih buah semangka dan juga melon. Sedangkan mas Roy membantuku memilih buah nanas dan apel juga anggur.
Sedang enak memilih tak sengaja ekor mataku melihat bayangan yang berada tak jauh dari tempat kami.
"Si@lan" Umpat ku semakin kesal.
Bagaimana tidak, dia mengikuti kami hingga ditengah pasar begini. Aku bertekat, nanti setelah pulang ke rumah aku akan bicara dengan bapak dan menghentikan kegilaan ini.
"Ini sudah. Apalagi yang dibutuhkan?" Aku memperhatikan belanjaan kami.
"Kok banyak ya, Mas. Tadi bawa mobil kayaknya lebih enak ya." Cengir ku.
"Kan kamu tadi yang nolak pas aku mau bawa mobil. Bilangnya biar kelihatan romantis kalau naik motor."
"Hehe, kan tadi kelihatannya sedikit aja ini belanjaan. Eh ternyata malah bejibun begini. Gimana cara kita bawanya mas?"
Ku periksa catatan belanja dalam ponselku. Semua buah sudah ada termasuk pepaya dan pisang.
"Tinggal wortel dan kembang kol mas."
"Kamu pergi beli sana, aku mau coba akali dulu ini. Kalau emang nggak bisa nanti ku panggil wawan aja biar jemput."
Aku mengangguk, dan segera melangkah pergi menuju stan sayuran yang berada tak jauh dari stan buah.
Baru saja beberapa langkah ponselku berbunyi dengan nama Mbak Ani yang terpampang dilayar nya.
"Ya mbak." Aku memindahkan panggilan menjadi mode vidio call. Sambil memilih kembang kol aku mendengarkan mbak Ani yang membacakan tambahan bahan yang harus ku beli.
__ADS_1
"Aku juga sudah mengirim pesan sih, Ar. Takut nanti ada yang kelupaan. Jadi nanti di cek ya."
"Iya, mbak. Makasih, tapi ini ada kendala sedikit mbak. Kami kesusahan membawa barangnya."
Ucapku sambil mengarahkan kamera ke arah Mas Roy yang sedang sibuk menata barang agar muat di motor.
"Lo, bukannya kalian bawa mobil tadi?"
"Nggak jadi mbak, dikiranya sedikit aja belanjaan tadi." Aku nyengir kuda di ujung kalimatku.
"Ya sudah, kamu belanja aja apa yang belum itu ya. Nanti aku cari anak anak untuk menjemput kalian."
"Makasih lo mbak."
"Ya, ya sudah ya aku tutup." Aku mengangguk dan panggilan pun berakhir.
Ku letakkan wortel dan bunga kol di dekat Mas Roy.
"Nanti ada yang jemput Mas. Barusan mbak Ani nelfon, masih ada banyak barang yang harus kita beli."
Ucapku seraya memeriksa pesan yang sudah dikirim mbak Ani tadi.
"Nambah?"
Aku mengangguk "sepertinya iya, buktinya ini tambah daging sapi dan ayam juga." Lanjut ku sambil memperlihatkan catatan dalam pesan di ponselku.
"Ya sudah, mas tunggu disini saja ya. Biar aku yang keliling lagi ke dalam." Mas Roy mengangguk. Setelahnya aku beranjak kembali masuk ke dalam pasar
__ADS_1