Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 74


__ADS_3

Arsita.


Aku keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Berjalan ke ruang tamu dimana Mas Pri dan Valdi sedang duduk dan saling berbincang. Entah apa yang mereka bahas karena saat melihatku keluar mereka langsung menghentikan obrolannya.


"Kesasar nggak mas?" Tanyaku pada mas Pri setelah menyalaminya.


Aku mengambil tempat duduk disebelah suamiku. Ada tempat lain yang kosong namun aku tak ingin membuat masalah lain dan memilih duduk di sana.


"Karena Ar sudah disini, kalian lanjutkan ngobrolnya. Aku masuk ke dalam dulu."


"Mau ngapain?" Tanyaku pada suamiku yang mulai beranjak dari duduknya.


"Mau bikin minum, kamu belum bikin kan?"


"Udah kok, tinggal nunggu airnya mendidih aja. Biar aku yang buat." Ucapku dan menarik perlahan lengannya untuk kembali duduk.


Mas Pri tersenyum simpul melihat perdebatan kecil kami. Aku tahu, suamiku sengaja melakukan itu hanya untuk memberi ruang padaku untuk berbicara berdua saja dengan mas Pri.


Valdi kembali mendudukkan dirinya. Terlihat sedikit kaku namun aku tak peduli. Dia suamiku, dengan siapa pun aku ingin bertemu seharusnya dia orang pertama yang tahu. Mungkin egois namun aku tak ingin menyakitinya lagi.


"mau kopi apa teh mas?"

__ADS_1


"Apa aja sih." Jawab mas Pri.


"Ya sudah, tunggu sebentar ya."


Aku kembali masuk kedalam dan menuju dapur. Segelas kopi dan juga teh telah siap di atas nampan. Dengan ditambah sepiring camilan aku bergegas kembali ke ruang tamu.


"Silakan mas, diminum." Mas Pri hanya mengangguk.


"Jadi pulang hari ini?"


"Rencananya sih nanti malam. Paling jam sembilanan."


"Kok malam? sendirian?"


"Tapi kan dingin apalagi ngantuk." Cebikku


"Udah biasa." Sahutnya santai.


"Katanya sakit? gimana sekarang keadaan mu?" Tanyanya pada suamiku yang hanya diam menjadi pendengar sejak tadi.


"Sudah lebih baik, cuma terkadang kakinya masih nyeri kalau di bawa jalan terlalu lama. Seperti ilang tenaga gitu. Tapi semuanya sih udah baik."

__ADS_1


Mas Pri manggut-manggut. Dia yang sudah tahu akar permasalahannya tak lagi banyak bicara. Bahkan di seminggu waktunya dia sempat membantuku untuk mendapatkan info tentang Diyah dan kakaknya.


"Apa nggak perlu terapi atau pengobatan lainnya?"


"Mau mencoba untuk tetap melakukan instruksi dokter dulu. Sejauh ini sudah lumayan walau proses nya sedikit lama. Tapi paling tidak sudah ada kemajuan."


Mas Pri mengangguk


Aku sengaja memberi ruang untuk mereka bisa saling mengenal. Entah mengapa aku sangat ingin melihat mereka berdua akrab. Pada akhirnya aku memilih keluar untuk berbelanja dan berlanjut menyiapkan makan siang untuk kami bertiga.


Tawa keduanya terdengar dari dapur membuatku tersenyum. Bayangan buruk yang pernah ada jika mereka dipertemukan seakan sirna dan berubah menjadi perasaan bahagia yang tak terkira. Kesalah pahaman yang pernah terjadi diantara aku dan mas Pri telah usai. Tak ada lagi rasa saling membenci atau pun menyakiti. Walau rasa sayang itu tak bisa dipungkiri masih ada tersisa disudut ruang hati yang paling dalam.


Makan siang sederhana mengantarkan kami untuk lebih dalam saling mengenal. Kedatangan mas Pri yang awalnya memang ingin menemuiku menjadi pertemuan antara kami ber tiga. Perlahan tapi psti kecanggungan antara suamiku dengannya berubah menjadi candaan penuh dengan tawa.


"Mungkin setelah ini kita akan membutuhkan waktu sedikit lama untuk bisa berkumpul seperti ini lagi. Minggu depan aku berangkat kembali ke Jiran." Mas Pri berucap ketika kami telah selesai makan siang. Duduk di teras kontrakan dengan hembusan angin membuat suasana kembali tenang.


"Enak ya bisa keliling bahkan ke luar negeri segala. Aku ingin tapi tak punya kemampuan untuk itu."


"Lebih enak di sini. Bisa bersama dengan orang yang kita cintai itu lebih baik dari hal lainnya." Mas Pri tersenyum, aku menunduk dan berpura-pura tak mendengar apa yang dia utarakan.


Percakapan berlanjut hingga tepat di jam 3 sore mas Pri berpamitan. Tak ada raut marah ataupun kesal di wajah ke dua lelaki yang berada didepanku kini. Bahkan mereka saling memeluk sebagai ucapan perpisahan dan menepuk pundak masing-masing dengan gelak tawa yang terlihat nyata.

__ADS_1


Aku sayang kalian berdua..


__ADS_2