
Sebuah rumah sakit menjadi tempat rujukan yang dipilih oleh Diyah. Rumah sakit dimana dokter yang menanganinya selama masa kehamilan bertugas disana. Nyeri dan sakit diperut yang dirasakannya dari semalam membuat kami merujuknya dengan cepat.
Dokter mengatakan jika Diyah tidak bisa melahirkan secara normal akibat pinggulnya yang kecil. Hingga memutuskan untuk melakukan Caesar. Dan disinilah kami saat ini, didepan ruang bersalin. Hanya duduk terdiam dengan pikiran masing-masing yang saling berkecamuk.
Aku bersama suamiku, Andri dan juga beberapa teman berada disini guna memberi dorongan semangat pada Diyah yang sedang berjuang.
Kami sadar betul bagaimana perasaannya saat ini. Berada diperantauan dengan kondisi hamil dengan lelaki yang kini entah berada dimana. Dengan banyaknya pertimbangkan, pada akhirnya pernikahan sirih yang direncanakannya bersama Andri diurungkan.
Bahkan ketika dokter bertanya guna prosedur rumah sakit pun Diyah menyebut kan nama Ferdy sebagai ayah dari bayinya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Waktu menegangkan telah berlalu. Kami semua lega dengan kelahiran bayi mungil berjenis kelamin laki-laki putra dari Diyah. Wajah bulat dengan mata hitam kelamnya membuat bayi tersebut nampak menggemaskan.
"Matanya seperti elang yang siap memangsa. Ckck calon casanova masa depan ini kayaknya." Celetuk Andri yang langsung mendapat tonyoran dikepalanya.
__ADS_1
"Jangan ngomong sembarangan, kata orang tua. Anak kecil itu peka dan dapat merekam apa yang terjadi disekitarnya dengan cepat. Dan ingatannya itu akan di bawanya hingga dia tua. Jadi ngomong nya harus yang baik baik." Ucap Dani dengan bijaknya.
"Iyakah?Sebentar." Andri mendekat ke arah box bayi. Dengan jahilnya dia menggerakkan tangannya ke kiri dan kekanan diatas wajah mungil tersebut.
"Tatap tangan saya." Ucapnya membuat kami semua Terbengong dengan kelakuan absurd yang dilakukannya,
"Aih kau bohong Dan, lihatlah!! aku memintanya menatap mataku dia malah membuka mulut nya sambil merem. Kagak bener itu ucapan orang tua itu. Yang bener nih ya, apapun yang terjadi hadapi dan jangan menyerah karena kita bukan lagi hidup dimasa perang."
Plak
Jam 9 malam akhirnya aku dan Valdi memilih untuk pulang ke kontrakan. Namun kami akan datang lagi nanti jika ada waktu senggang. Andri dan Dani memilih untuk tetap tinggal dan menemani Diyah disana kalau kalau ada yang wanita itu butuhkan nantinya.
*
*
__ADS_1
*
"Lucu ya bayinya." Ucapku di dalam dekapan hangat suamiku.
Setelah membersihkan diri kami segera meerebahkan tubuh kelah kami untuk segera beristirahat. Tidak ada acara makan malam karena sebelum pulang tadi kami sudah makan bersama di ruang perawatan Diyah.
"Kamu yakin dengan keputusanmu, yank?"
"Iya." Aku menggangguk dengan mantap.
Keputusan ini sudah kami bicarakan sebulan yang lalu dengan banyak pertimbangan. Dan pada akhirnya aku meminta untuk mengadopsi anak itu nanti. Aku yakin akan mampu membesarkannya.
Sepulang dari rumah sakit, baik Diyah maupun bayinya akan tinggal untuk sementara bersama kami. Itu dilakukan agar aku bisa belajar untuk merawat bayi dan menunggu kondisi Diyah pulih dengan baik. Diyah mengatakan bahwa dirinya akan pergi merantau ke luar negeri setelah sehat dan segala urusan dan proses adopsi terselesaikan.
Aku sempat menatap bingung pada keputusan Diyah. Semuda itu dirinya akan menghapus segala kenangan bahkan kisahnya. Namun aku kembali terdiam karena semua bukanlah menjadi tanggung jawab ku.
__ADS_1
Valdi menciumiku dengan lembut, sebuah ritual yang tak wajib namun serasa kurang jika tak dilakuakan setiap malamnya hingga ku terlelap dalam dekapan hangatnya.