Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 25


__ADS_3

Lebaran 2006


Lebaran tak ada cuti bagi kami. Sudah peraturan sejak awal dan itu wajib. Tak ada satu pun pegawai hotel, resto maupun kolam renang yang libur di sepuluh hari menjelang dan akhir lebaran.


Baik karyawan bisa sampai kepada manager dan supervisor pun tak ada yang boleh libur. Lebaran setiap tahunnya akan mengalami peningkatan pengunjung. Oleh karenanya, cuti boleh diambil paling lambat di bulan puasa setiap tahunnya.


"Yank, lembur besok?"


Ini adalah malam takbir, kami semua sedang sibuk menyiapkan semua bahan masakan untuk stok selama seminggu ke depan. Segala bumbu masakan sengaja dibikin lebih banyak agar tak kerepotan nanti di waktu lebaran nya.


Kebanyakan pasar, toko dan para sales akan mengambil cuti selama sepuluh hari. Oleh karenanya kami mengantisipasi segala hal sejak awal.


Bumbu soto, rawon, pecel dan sate sudah kami persiapkan dua hari menjelang lebaran kemarin. Bumbu bumbu itu umumnya bisa bertahan lama dan disimpan dalam freezer.


Sedangkan untuk saat ini kami sedang membuat bumbu asam manis, rica-rica. Sedang untuk bumbu yang memang harus dibuat dadakan kami hanya menyiapkan bahan nya saja.


Stok barang kering maupun ikan sudah kami persiapan sejak awal bulan puasa. Semua kegiatan memang sudah berjalan seperti itu selama bertahun-tahun.


Malam takbir bagi kami adalah bekerja. Aku sedang merebus gula untuk sirup dan gula untuk es. Malam takbir aku kebagian masuk shift malam, sedangkan besoknya aku shift pagi.


"Yank"

__ADS_1


"Hemm." Imam datang menghampiri, dilingkarkan lengan kanannya dipinggang ku. Posisi saat ini aku sedang berada didepan kompor menunggu gula supaya tak membeludak.


"Besok lembur nggak kamu yank?"


Bukan hanya lengan, bahkan dagunya pun kini sudah bersandar dipundak kiriku.


"Nggak, kan aku besok nginap dirumah mbak Rini. Udah lupa ya?" Aku menoel ujung hidungnya yang mancung itu.


Parfum yang dia belinya bersamaku, waktu itu dipakainya hari ini. Wanginya menusuk hidungku dan membuat ku tenang.


"Jadi mampir kerumah?" Tanyanya dengan lengan kiri yang ikutan melingkar di perutku. Kini posisiku sedang di peluknya dari belakang. Dapur bersih hanya ada aku dan mbok Siti, kebetulan mbok Siti sedang duduk dibangku panjang sambil menyiangi cabe. Sedangkan Bu Sri sedang di dapur kotor memasak bumbu rica-rica yang akan di stok untuk besok.


"Emang boleh?"


"Kan sama mbak Rini, atau kamu jemput nanti kerumah mbak Rini. Gimana?"


"Kamu telfon aku aja kalau sudah berangkat dari rumah mbak Rini. Nanti aku jemput kalian di pertigaan jalan menuju rumahku."


"Ok deh. Tapi aku nggak bawa apa apa besok. Tak apakah?"


"Hemm, bawah hati dan cintamu sudah cukup yank."

__ADS_1


"Gombal mulu, sana udah!! kembali ke hotel sana, siapa tau ada tamu yang cek in."


"Ada Mas Eksan dan Roy." Ucapnya seraya melepas pelukannya.


"Pulang malam ini apa mau nginap disini." Aku mematikan kompor, mengambil gelas dan menakar gula mencicipi dengan membuat es teh.


Satu centong setengah gula ukuran kecil, dan secentong ukuran besar. Kedua gelas telah jadi dan aku mengaduk nya untuk di cicipi. begitupun dengan gula sirup. Setelah jadi aku mencicipi dengan mengambil sedikit dengan sendok.


Setelah dirasa pas aku mencatat setiap ukuran takaran dan menempelkan di dinding pantry. Disana ada semua takaran pembuatan minuman terutama minuman dengan resep baru.


Semua itu di lakukan untuk mengurangi bertanya dan mengajari lagi. Biasanya, di hari libur atau hari hari besar begini akan ada beberapa tenaga baru sebagai tenaga sewaan.


"Aku pulang nanti sehabis jam kerja. Paling jam sembilan lah aku pulang. Besok kembali kesini sekitar jam delapan. Sehabis sholat aku masih harus kerumah nenek soalnya."


"Hati hati aja pulang malam, jangan ngebut yang penting sampai dirumah dengan selamat aja."


"Iya bawel, cerewet. Aku akan merindukan kamu yang begini nanti disana, Yank."


Aku tersenyum, kembali hati ini terasa perih. Benar, sebulan lagi. Hanya sebulan lagi Imam berada disini, disisiku. Karena bulan depan dia sudah berangkat ke sana, ke negeri Jiran.


"Aku kembali ke hotel ya, sayank. Aku nggak pamit lagi ya nanti, langsung pulang."

__ADS_1


Aku mengangguk, Imam berlalu melangkahkan kakinya keluar dari dapur setelah mencium puncak kepalaku.


Aku masih terdiam terpaku di tempatku berdiri.


__ADS_2