
Flasback.
Sebuah pesan ku terima pagi itu, dari sebuah nomer baru yang tak ku kenal. Aku sedikit mengernyit karena kaget. Namun setelahnya aku mencoba untuk tetap bersikap tenang.
"Ceraikan suamimu, karena dia harus bertanggung jawab pada adikku. Adikku hamil dan sekarang usia kandungannya menginjak 2 bulan. Bukankah kamu nggak bisa hamil, jadi lepaskan Valdi dan biarkan dia menikahi adikku."
Pesan yang menyakitkan namun sedikit aneh untukku. Selama ini, suamiku tak pernah jauh dariku. Disaat aku sedang bekerja, dia akan sering berada disekitar pos satpam dan berdiam disana mulai dari sore hingga tiba waktunya aku pulang. Sedangkan siangnya dia akan menghabiskan waktu untuk tidur.
Namun aku juga tak bisa mengabaikan pesan yang memang ditujukan padaku itu. Ku hanya menatap tubuh lemah suamiku yang baru saja tersadar beberapa waktu lalu. Sebelum dokter memberikannya obat yang membuatnya kembali terpejam.
"Ar, bagaimana? apa kata dokter?" Andri datang setelah tadi dia berpamitan pulang sehabis membelikan ku sarapan. Bajunya telah ganti dan dia terlihat sudah lebih segar dari semalam.
"Masih seperti semalam, namun sekarang sudah lebih baik dan dia sedang istirahat. Baru selesai minum obat."
__ADS_1
"An, bisa kita bicara? aku yakin kamu tahu banyak hal. Tolong bantu ku, ceritakan apa yang kamu tahu padaku." Ya, aku yakin Andri mengetahui sesuatu. Dari gelagatnya sejak semalam aku sudah bisa menebak itu.
"Tapi.."
"Aku hanya ingin tahu, untuk lainnya itu urusan nanti saat Valdi sudah sehat kembali. Aku mohon."
"Baiklah, tapi kamu janji ya. Harus kuat dan jangan pernah lemah." Aku mengangguk meng iyakan. Walau kenyataannya jantung ku sudah bertalu penuh kecemasan.
🍂🍂🍂🍂🍂
"Awalnya aku hanya datang untuk menjemputnya. Valdi datang ke kamar kost ku, dia bilang akan bertemu dengan teman temannya. Saat itu aku masih tak bisa ikut dengannya karena Reza sedang datang bertamu. Baru setelah Reza pulang aku berangkat menyusul nya. Motor suamimu aku yang pakai, sementara dia berangkat karena di jemput.
Andri menunduk, aku masih berdiam menunggu cerita selanjutnya. Tak ingin menyelah karena memang itu adalah janjiku diawal.
__ADS_1
" Saat aku tiba disana, mereka sudah cekcok besar. Dan suamimu terlihat membantah semua tuduhan yang jatuh padanya. Saat itulah, dia dikeroyok dan dipukuli. Aku yang berada disana tak berani mendekat, hanya bisa mengirim pesan pada teman teman untuk datang membantu. Namun sayang, ketika teman yang lain datang mereka telah pergi, meninggalkan tubuh suamimu yang tergeletak."
"Pada akhirnya, kami membawanya kesini dan aku menjemputmu."
"Apa kamu tahu alasannya?"
"Aku hanya mendengar bahwa ini berhubungan dengan Diyah. Dia hamil, dan mengaku bahwa suamimu lah yang bertanggung jawab untuk itu. Namun suamimu membantah nya sehingga membuat kakak Diyah dan teman temannya mengeroyok nya."
Ku pejamkan mataku, pesan yang ku terima tadi pagi ternyata berkaitan dengan apa yang menimpa suamiku. Kecewa? tentu, tapi aku tidak akan percaya begitu saja.
"Valdi sangat mencintaimu, Ar. Aku yakin, dia tidak akan melakukan hal itu. Aku tahu sendiri bagaimana Diyah mencoba merayunya, namun suamimu selalu saja bisa menghindar. Jadi aku beserta teman teman yang lain menyimpulkan bahwa semua ini hanya jebakannya saja."
"Maksudmu dia sedang berpura-pura hamil untuk menjerat suamiku?"
__ADS_1
"Tidak juga. Diyah benar-benar hamil saat ini, usianya sudah menginjak 2 bulan. Aku bahkan melihat surat periksa nya dari dokter. Tapi yang aku maksud adalah, dia memang benar hamil namun bukan anak Valdi akan tetapi orang lain. Tapi karena dia sangat menginginkan suamimu, jadi dia membidik suamimu lah yang harus bertanggungjawab. Ar, kamu harus percaya, Valdi nggak seberengsek itu. Dia mencintaimu, itu yang harus kamu tahu."
Aku tersenyum, mengangguk dengan apa yang Andri katakan. Tapi masalah tidak akan selesai hanya dengan aku saja yang percaya tanpa adanya pembuktian.