
Aku berjalan gontai, banyak yang ku pikirkan. Sebagai sesama wanita aku tak ingin egois dengan hanya melihat penampilannya saja sudah membuatku terenyuh. Penampilan yang selalu cantik dan modis itu telah hilang entah kemana. Perubahan nya terlalu jauh dan membuat orang tak akan mempercayainya jika tak menyaksikan sendiri.
"Dia pergi sejak usia kandungan ku menginjak 7 bulan. Aku menunggu nya sejak itu, namun hingga kini tak pernah ada kabar sedikitpun yang dia berikan. Aku bingung harus bagaimana lagi. Untuk pulang ke kampung aku tak sanggup. Dengan keadaan begini pasti akan membuat ibuku yang sudah tua akan kaget dan semakin bersedih."
"Menurut ku, memang lebih baik kalau kamu pulang kampung. Setidaknya ada orang dan tempat untuk mu tinggal. Bagaimanapun mereka adalah keluargamu. Pasti mereka akan bisa mengerti keadaanmu bagaimana." Aku menggenggam tangannya.
Melihat Diyah menangis dan terguncang sebenarnya aku tak tega. Namun aku juga tak bisa terlalu jauh ikut campur. Hanya memberi saran sebagai solusi itu sudah cukup menurutku. Tak ingin lagi aku masuk dalam masalah, bukan aku tak percaya namun aku akan lebih waspada untuk segala hal ke depannya.
"Bagaimana kalau keluargaku tak menerima anak ini?"
"Kamu belum mencobanya, hanya menduga duga tak akan menyelesaikan masalah. Yang ada pikiranmu akan semakin kacau karena banyaknya dugaan yang semestinya nggak perlu ada."
"Bagaimana jika anak ini kalian yang merawatnya? setelah melahirkan, aku akan membiarkan kalian merawat nya. Aku janji, setelah itu tak akan lagi muncul apalagi mengganggu kehidupan kalian. Aku hanya ingin memberi kehidupan yang utuh kepada anakku."
Ucapnya membuatku terkejut.
"Aku sangat tahu bagaimana keluarga besarku. Mereka nggak akan mau menerima anak ini, bahkan mungkin aku juga akan mereka usir. Aku mohon, tolong jagalah anak ini."
__ADS_1
Kata katanya beberapa waktu lalu masih sangat jelas terngiang dalam benakku. Aku sendiri bingung harus melakukan apa sekarang ini. Hingga sampai ke kontrakan pun Aku hanya diam melamun.
🍂🍂🍂🍂🍂
Aku melangkah keluar dari toko, ku edarkan pandangan mencari keberadaan suamiku. Aku mendengus kesal karena dia belum nampak ditempat bisanya berada. Ku rogo tas kecil yang ku bawa untuk mengambil ponselku.
"Kenapa cemberut?"
"Lo, dari mana?" Tanyaku sedikit bingung.
Sudah ku edarkan pandanganku ke segala arah namun tak nampak dirinya dimanapun. Namun sekarang tiba-tiba ada di belakang ku dan memelukku dengan erat.
"Kirain nggak jemput!!"
"Hahahaha." Aku mencubit perutnya karena menertawakan ku.
"Jemput dong sayang, katanya kamu pengen makan kebab. Jadi bagaimana? jadi beli atau nggak nih?"
__ADS_1
"Beli dong!!" Aku tersenyum, menggandeng tangannya menuju tempat parkir dimana motor kami berada.
Dalam diam Aku merutuki kebodohanku sendiri. Kenapa tadi tidak mengecek keberadaan motor kami sebelum menggerutu. Motor melaju ke arah jalan Imam Bonjol menuju kedai kebab"Abah". Banyak sekali penjual kebab namun Aku lebih suka memakan kebab di kedai Abah. Rasanya yang pas dan enak.
"Kebab itam 1 yang biasa 1 ya mas, kebab nya kebab campur tanpa bawang bombay."
Setelah memesan aku memilih kembali ke tempat suamiku menunggu diatas motor. Sambil bercerita menunggu pesanan selesai.
"Yank, minggu depan Andri menikah."
"Eh benarkah? sama anak mana? perasaan dia nggak pernah pacaran kan ya? kok tiba-tiba sudah langsung mau nikah aja."
"Hanya menikah secara agama yank."
"Kenapa begitu?"
"Karena.. "
__ADS_1
"Mbak pesanan nya sudah selesai."
Aku tersenyum kemudian melangkah mengambil pesananku. Camilan ringan namun tergolong berat itu adalah salah satu kesukaan ku selama ini.