Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 28


__ADS_3

Tepat ketika jam dalam ponselku menunjukkan angka tujuh lebih tiga puluh menit. Imam mengirim pesan. Dirinya menanyakan keberadaan ku saat ini.


"Depan mitra, diwarung pak Kumis" Pesan balasan yang ku kirim padanya.


"Jalan ke arah timur, sampai di sebuah perbatasan ada patung ular naga kembar diatas sebuah jembatan. Lurus kedepan lagi kita kira 100 meter. Aku menunggu disana." Balasnya yang kemudian pesan itu ku teruskan pada mbak Rini.


Motor matic yang kami bertiga tumpangi berjalan perlahan. Mengikuti arahan yang tadi Imam berikan. Benar saja, tak berapa lama terlihatlah sepasang patung ular naga diatas sebuah jembatan. Bukan jembatan yang besar, tapi cukup sebagai penanda batas desa Jajag dan Cluring ( Entah sekarang masih apa kagak ya, soalnya ini sudah terlalu lama. Dan aku sendiri sudah tidak pernah melewati jalan lintas selatan, Banyuwangi)


Sebuah gapura sedikit besar di kiri jalan terletak 100 meter dari jembatan. Dan disana terlihat sosok Imam berdiri. Mbak Rini melajukan motornya mendekat kearah Imam. Senyum simpul nampak jelas dibibir tipisnya.


"Akhirnya nyampai juga kamu, yank."


"Eits kalian jangan sembarangan nyosor ya. Liat ada mata polos disini." Cegah mbak Rini ketika melihat Imam mendekat kearah kami.

__ADS_1


"Hallo cantik, namanya siapa? kenalan sama om ganteng yuk?" Imam menoel pipi ayu. Gadis kecil berumur 6 tahun tersebut tersenyum malu malu.


"Ya sudah ayo." Ucapnya seraya menaiki motor nya dan melaju lebih dulu.


Sebuah Rumah bercat putih dan biru muda terlihat sedikit mencolok diantara rumah yang lain. Kebetulan, bapak Imam adalah salah satu orang yang dituakan di daerah tempat tinggalnya. Karenanya, banyak tamu yang berdatangan ke sana pas lebaran begini.


Rumah berbentuk panjang dan lebar itu sedikit unik. Ada dua buah ruang tamu yang bersebelahan. Bagian kanan adalah untuk tamu orang orang dewasa atau para tetangga. Sedang diruang tamu pintu sebelah kiri khusus tamu anak anak muda teman teman Imam dan sang kakak. Dan, disinilah aku berada sekarang ini.


Banyak macam camilan khas lebaran yang terhidang di tengah ruangan. Ruang tamu bagi kami kali ini dibuat lesehan. Terdapat tikar dan karpet yang digelar untuk alas kami duduk.


"Minum dulu!!" Imam keluar membawa minuman kemasan khas lebaran untuk kami.


"Sudah sepi ya, Mam." Ujar mbak Rini.

__ADS_1


Hanya ada dua orang tamu yang datang tadi pas kami masuk. Dan sampai sekarang belum juga bertambah.


"Tadi habis maghrib banyak sudah yang datang, mbak. Sekarang giliran yang muda muda kayaknya." Imam duduk disebelah kiriku.


Diambilnya sebuah toples berisi kriping emping mlinjo. Disodorkan nya ke hadapanku. Aku menggeleng pelan, tanganku bergerak mengambil bolu kura kura. Kue jadul yang menjadi favoritku.


"Awas sakit gigi lo, yank. Itu manis banget soalnya." Ucapnya


Diselipkan nya rambutku ke belakang telinga. Aku menolehkan wajah ke arah nya. Senyum simpul terlihat jelas disana. Aku hanya mengangguk.


"Mbak Rin, besok masuk pagi juga kan?"


"Iya dong, kalau aku masuk siang gimana sama Arsita?"

__ADS_1


"Kirain mbak Rini masuk malam. Kalau repot biar aku saja yang anterin dia besok. Tapi karena mbak Rini juga masuk pagi, ya sudah aku bisa bangun lebih siang." Cengirnya.


"Ehmm, yank. Kamu mau ketemu sama dia?"


__ADS_2