Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 79


__ADS_3

Enam bulan berlalu.


Hubunganku dengan Mas Pri dan Imam masih berjalan dengan baik. Begitu juga dengan suamiku. Kami sering mengobrol dan berbagi cerita bersama.


Seperti malam ini, kami tertawa bersama setelah mendengar ocehan Ar kecil. Bocah menggemaskan milik imam tersebut sering menjadi topik yang membuat kami tertawa.


"Sudah ngantuk?"


"Hemm."aku menyejukkan kepalaku kedada suamiku. Tempat yang selalu membuatku nyaman di sepanjang malam ku terlelap.


" Yank."


"Iya?"


"Kapan ya kita punya yang seperti, Ar kecil?" Lirihnya.


"Nanti kalau sudah waktunya, sabar ya."

__ADS_1


"Maaf ya yank." Dia mengeratkan pelukannya.


"Kita nikmati saja waktu begini, kita pacaran lagi. Mengenai yang lainnya, kita percayakan pada takdir. Jangan berputus asa!!" Aku mengusap dadanya.


Aku sangat tahu bagaimana rasanya, namun kehadiran ku saat ini disisinya untuk menguatkan bukan untuk menambah beban.


"Tidur, aku ngantuk sekali." Lirihku agar pembahasan tak lagi melebar ke mana-mana.


Bukan aku tak ingin, namun penjelasan dokter waktu itu cukup buat aku mengerti. Aku tak ingin membuatnya semakin terpuruk karena kami hanya bisa saling menguatkan saat ini. Ku eratkan pelukanku dan mencoba untuk terlelap.


🍃🍃🍃🍃🍃


Pagi ini setelah suamiku berangkat kerja, aku menerima pesan dari nomer Diyah. Nomer itu tak pernah ku simpan, namun aku tau itu dia. Ku hela nafas demi menetralkan hatiku yang entah mengapa tak pernah suka dengan apapun yang berhubungan dengan wanita itu.


"Ada masalah apa lagi? bukankah semua sudah selesai waktu itu?" Jawabku


Benar, ini sudah berlalu selama 6 bulan. Namun kenapa dia tiba-tiba menghubungiku lagi hari ini. Bukan tak suka namun memang tak nyaman karena bagaimanapun kelakuan Diyah pernah membuat ku gerah.

__ADS_1


"Ada yang ingin ku bicarakan. Mungkin bisa dibilang aku ingin meminta bantuanmu kali ini. Itupun jika kamu bersedia untuk bertemu denganku. Di cafe keluarga aku tunggu ya, sekarang aku mau otw kesana." Balasnya membuat ku mengumpat kesal.


"Apa sih mau nya dia itu? nggak bisa liat orang tenang sedikit saja." Gerutuku namun tak urung aku beranjak berganti pakaian.


Lima bekas menit berlalu, akhirnya aku melangkahkan kakiku keluar rumah. Dengan berjalan kaki aku pergi menemuinya sambil bertukar pesan dengan suamiku memberitahu jika aku keluar rumah pagi ini.


Ku tengok kanan kiri ketika mulai memasuki cafe. Dan di sudut cafe pojok sebelah kanan ku dapati Diyah melambaikan tangan. Aneh bukan? kami tak seakrab itu sebelumnya. Namun aku tetap melangkah sambil tersenyum menyapa pegawai cafe yang memang sudah mengenalku.


Aku mengambil duduk tepat didepannya, wajahnya nampak pucat dengan perut yang terlihat semakin besar. Hanya bibirnya yang berpoles lipstik warna natural. Sangat beda jauh dengan Diyah dikala dulu yang suka berdandan. Rambut panjangnya pun hanya dikuncir kuda seadanya.


"Maaf agak lama, tadi aku baru selesai nyuci dan harus mandi dulu sebelum berangkat ke sini." Basa basi ku. Namun tak semua bohong karena memang aku baru selesai menjemur pakaian saat membaca pesannya tadi.


"Tak apa, maaf ya aku ganggu waktu kamu pagi pagi."


"Ada apa? tumben ngajak ketemuan?" Aku tak lagi bisa menyembunyikan rasa penasaran dalam benakku.


Banyak hal yang berkecamuk dalam pikiranku. Jujur saja lebih ke arah negatif pada awalnya. Aku mungkin tak membencinya namun waspada padanya masih perlu ku lakukan. Tapi melihat penampilannya saat ini membuatku merasa kasihan padanya.

__ADS_1


"Aku.. "


__ADS_2