Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 67


__ADS_3

Dua minggu lamanya aku mengambil cuti. Dan hari ini saatnya aku memulai kembali aktifitas ku dan meninggalkan suamiku sementara waktu. Sudah ada pembagian waktu, tentu saja aku tak akan pernah membiarkan suamiku sendiri. Itu masih sangat berbahaya dan aku harus mengantisipasi segala kemungkinan buruk bahkan paling buruk sekalipun.


Tak ada pergerakan dari pihak Diyah, bukan berarti mereka menyerah. Menunggu hingga suamiku kembali sehat mungkin itulah tujuan mereka. Andri dan beberapa orang teman bergantian menemani Valdi.


"Aku berangkat kerja dulu ya. Sarapan sudah siap, obat juga, jangan lupa diminum nanti. Istirahat dan jangan terlalu banyak keluar dulu."


Beberapa hari ini suamiku sudah mulai berjalan jalan dihalaman meski masih dengan tertatih.


"Ya, jangan terlalu mikirin aku. Fokuslah bekerja yank, ada Dody yang menemani ku disini."


Aku tersenyum, wajah suamiku sudah tak lagi pucat. Aku sedikit tenang untuk meninggalkannya.


🍂🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


"Ar, bisa ketemu?"


Sebuah pesan yang ku terima satu jam yang lalu. Karena sedikit sibuk aku baru bisa membukanya. Laporan keuangan yang ku tinggalkan selama dua minggu membuatku tak bisa beranjak dari lantai dua toko. Bahkan untuk melihat oprasional toko pun aku tak punya waktu.


"Aku nggak dirumah, mas. Aku bekerja di kota bersama suamiku. Maaf mungkin nggak bisa ketemu karena aku belum bisa pulang ke kampung."


Aku memang ingin bertemu dengan Mas Pri secara langsung. Ingin meminta maaf dan berbicara dari hati ke hati untuk terakhir kalinya tentang kami. Namun sekarang rasanya tak mungkin, keadaan suamiku tak mungkin ku abaikan hanya demi bisa berbicara dengan mas Pri. Untuk kembali mengambil cuti pun rasanya akan sulit.


"Aku ada di jalan Imam Bonjol. Kapanpun kamu punya waktu senggang hubungi aku. Selama seminggu aku dikota ini. Ku harap kamu punya waktu untuk bertemu."


"Ya, baru dua jam lalu aku sampai disini."


"Baiklah, nanti aku ijin sama suamiku dulu. Dan kalau ada waktu segera ku hubungi mas nanti."

__ADS_1


Aku tersenyum segala permasalahan ingin segera ku selesai kan. Menjalani hari tanpa banyaknya beban pikiran yang mengganjal terlalu dalam.


Ku tatap jam yang menggantung di dinding, masih ada waktu dua jam lagi hingga waktunya aku pulang nanti. Ku hela nafas pelan, laporan penjualan dari dua toko cabang bahkan belum ku sentuh sama sekali.


"Paling tidak aku harus membereskan laporan toko setidaknya hingga dua hari kemarin. Agar nggak begitu keteteran nanti. Baru besok bisa mencicil mengerjakan laporan toko cabang."


Aku yang memiliki dua tanggung jawab di sini tentu harus bisa membagi waktu. Namun untuk sementara, paling tidak untuk tiga hari kedepan aku masih berada di lantai dua dan meninggalkan posisiku sebagai kasir.


Hingga waktu menunjukkan pukul dua siang barulah aku turun ke bawah untuk makan siang dan menunggu jam pulang.


"Suamimu bagaimana kabarnya, Ar. Sudah baikan?" Pertanyaan yang sedari pagi ku dapatkan. Aku hanya menjawab apa adanya.


Hingga waktu pulang pun datang. Kontrakan yang tak begitu jauh membuatku hanya berjalan kaki untuk menempuhnya. Dua kantong plastik berada di genggaman ku kini. Beberapa buah roti dan tiga bungkus nasi padang berada disana.

__ADS_1


Aku tersenyum ketika memasuki kontrakan, nampak suamiku sedang berbincang dengan Dody. Setelah membereskan diri dan berganti pakaian barulah aku ikut bergabung. Bersama menyantap nasi padang diiringi canda.


__ADS_2