
Setahun berlalu.
Aku sudah berdamai dengan masa lalu ku terutama dengan hatiku. Aku bahkan telah menceritakan tentang mereka kepada suamiku. Aku memilih jujur, bagaimanapun telah terlalu lama aku menyembunyikan semuanya.
Di luar dugaan, Valdi mengatakan telah mengetahuinya. Tidak sedetail apa yang ku ungkapkan. Dia hanya tahu kalau dihatiku masih ada orang lain walau raga ini bersamanya.
Lega rasanya setelah menjelaskan semuanya termasuk akar permasalahan yang membatasi kami waktu itu. Beruntungnya, suamiku dapat mengerti dan memahami posisiku dan bagaimana aku kesusahan untuk melepaskan rasa. Tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat untuk ku dan mas Pri saling mengikat hati.
"Lupakan!! cukup jadikan kenangan dan jangan membenci siapa pun itu."
Aku memeluk suamiku, beruntung sekali aku mendapatkan nya. Dia baik, walau terkadang terkadang kasar dan keras kepala.
Hanya ada satu hal yang masih mengganggu pikiran ku saat ini. Hamil!!
Hingga setahun pernikahan kami aku belum hamil juga.
__ADS_1
Suamiku tak pernah menuntut. Dia selalu bilang, sabar mungkin ini kesempatan bagi kami untuk berpacaran. Aku hanya mengangguk, namun tidak dengan pikiran ku yang berkelana jauh. Teringat kembali kata-kata Mas Pri malam itu.
"Jangan dipikirkan, masih bisa usaha terus dan terus."
"Kalau kita periksa ke dokter bagaimana?"
"Nanti, kita cari hari libur yang pas. Baru kita periksa bersama. Tapi jangan minggu ini, kamu tahu sendiri kalau toko sedang ramai. Ijin cuti tidak akan diperbolehkan."
"Tidur lah, ini sudah hampir pagi."
Tanah kelahiran ku masih penuh dengan hal mistik. Aku hanya mencoba meyakinkan diri jika apa yang Mas Pri ucapkan dulu hanyalah candaan belaka.
🍂🍂🍂🍂🍂
"Dia belum menikah sampai sekarang. Dia hanya begonta ganti pacar, entah sudah berapa kali dia pacaran."
__ADS_1
Aku kembali mencari tahu tentang nya. Aku ingin meminta maaf walau sebenarnya ini bukan hanya salahku seorang.
"Ada apa, Ar. Tumben kamu tanya soal dia lagi?"
Pagi itu aku menghubungi Imam. Hanya dia yang bisa membantu ku. Selama ini aku tak pernah menceritakan apapun terutama tentang ucapan dan kata kata Mas Pri malam itu. Aku berusaha menguburnya dalam kenangan. Siapa sangka sekarang malah menjadi bumerang dalam pikiran ku.
"Tak ada, aku hanya ingin memperbaiki silahturahmi saja. Sudah saatnya kami berdamai dengan waktu. Saatnya saling memaafkan dan melepaskan semuanya. Sampai saat ini, rasanya ada yang mengganjal dihati. Terakhir kali berbicara berakhir dengan perdebatan."
"Aku setuju itu. Tapi, apa dia mau? aku meragukan itu, Ar. Bukan aku tak ingin kalian berdamai dengan masa lalu kalian. Tapi mengingat bagaimana hancurnya dia itu yang membuatku sedikit ragu. Namun tetap, aku mendukung apapun yang terbaik untuk kalian."
"Dia hancur?"
"Lebih dari yang kamu tahu, Ar. Pri bahkan merusak dirinya sendiri. Menjadi peminum dan juga maaf main perempuan. Jauh sekali dari Pri yang selama ini ku kenal. Dia bahkan menolak nasehat siapapun. Memilih untuk bertengkar dengan mbak Dewi, karena dia menganggap kakaknya itu yang menjadi akar masalah kalian."
Aku tertegun, cerita Imam membuat hatiku sendiri ngilu. Dulu, Mas Pri tak pernah melawan apapun yang dilakukan kakak perempuan nya tersebut. Dia akan diam dan menurut apapun yang dikatakannya. Sedikit tak percaya dengan apa yang Imam katakan, namun aku yakin dia juga tidak akan membohongiku.
__ADS_1
Ku tarik nafas dalam. Mendengar cerita Imam semakin mantap aku bertekat untuk memperbaiki hubungan kami. Paling tidak, kata maaf darinya ku dapatkan. Anggap saja ini usaha ku setelah dokter mengatakan bahwa aku dan suamiku baik baik saja.