
Seminggu kemudian.
"Ar, bisa ketemu?" Mas Pri mengirimkan pesannya untuk ku.
Setelah pertemuan seminggu yang lalu di rumah Imam. Kami memang tidak lagi berkirim pesan untuk sekedar bertanya kabar.
Aku tau perasaan ku padanya. Namun aku juga tau kendala apa yang ada. Sebisa mungkin akun menghindar dan tak ingin terus berharap dalam batang semu.
"Ketemu? dimana?"
"Kamu bisa datang ke rumah? kebetulan aku nggak bisa keluar. Motor sedang dibawah pergi sama kakakku."
Aku sedikit mengernyit. Dulu waktu aku ke rumahnya, tanggapan tak baik ku terima dari mbak Dewi. Kakak perempuannya mas Pri.
"Apa nggak sebaiknya, kita ketemu diluar aja mas. Nggak enak aku kesana, apalagi sendiri."
"Ajak Imam kalau gitu. Aku beneran nggak bisa keluar."
"Ya sudah deh, nanti ku tanya Imam dulu. Takutnya dia lembur. Andai hari ini kagak bisa bagaimana?"
"Besok juga tak apa. Tapi tolong kamu datang kesini."
"Ya, aku usahain. Tapi aku belum bisa janji dulu ya. Gimana gimana nya nanti aku kasih kabar lagi." Putus ku kemudian
__ADS_1
"Ya, aku tunggu. Ku harap kamu bisa kesini." Lirih nya
"Ya sudah ya mas. Aku masih kerja ini, kagak enak sama yang lain kalau main ponsel terus. Nanti aku kasih kabarnya, nunggu Imam datang."
Tak masalah dalam lingkup kerja kita bermain ponsel. Tapi harus tau situasi dan kondisinya. Aku selalu berusaha untuk tidak memainkan ponsel disaat kerja. Selain bisa mengganggu konsentrasi ku juga rasa tak nyaman pada sesama pegawai lainnya.
Ku letakan kembali ponselku dalam loker. Kembali pada rutinitas yang biasa ku lakukan. Namun percayalah, pikiran ini tengah melanglang buana entah kemana. Banyak pertanyaan namun sungguh sulit untuk ku ungkapkan.
🍃🍃🍃🍃
Pove Arsita
Siang itu tepatnya setahun yang lalu. Aku bersama Mas Pri bermaksud meminta ijin untuk memantapkan hati kami berdua.
Masa berpacaran yang kami lalui terbilang lama. Walau awal mulanya hanya berupa candaan cinta monyet. Namun sejauh ini kami menjalaninya dengan serius.
Pagi menjelang siang, karena waktu itu jam masih menunjukkan angka sepuluh pagi. Setelah menyelesaikan tugas harianku dirumah. Aku bergegas berganti pakaian dan berpamitan pada ibu.
Sehari sebelumnya, aku dan Mas Pri sudah sepakat untuk bertemu di suatu tempat yang mengukir banyak kenangan diantara kami berdua.
Di sebuah rumah yang terbilang bagus dan memang ku akui lebih bagus dari rumahku yang sangat sederhana dan masih butuh perbaikan sana sini.
Perasaan gugup menghinggapi hatiku. Namun aku berusaha untuk rilex dan sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Kamu Arsita?"
Aku menyodorkan tangan menyalami seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan muda seukuran orang kampung.
"Iya, bu. Saya Arsita."
"Ayo duduk dulu. Maaf ya disini nggak ada makanan atau minuman mewah, namanya juga dikampung." Wanita itu tersenyum sambil menyodorkan segelas air putih padaku.
"Ini sudah cukup kok, bu. Nggak perlu repot repot."
"Dari mana? ini mampir atau memang sengaja main kesini?"
"Aku yang jemput dia kesini." Mas Pri mendudukkan dirinya di sofa yang terdapat di depanku bersebelahan dengan sang ibu.
"Anak nakal ini ya, udah pamit sama orang tua kan?"
"Sudah, bu." Jawabku sembari tersenyum.
Mas Pri hanya nyengir kuda dengan ucapan ibunya. Ibu mendengus kemudian meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Disana aku dan mas Pri hanya bercerita dan bercanda tentang banyak hal.
"Kamu yang namanya Arsita itu? pegawai hotel kan?"
Suara seorang wanita mengejutkan kami berdua, hingga membuat kami menoleh serempak dan melihat sosok yang berdiri dengan sebelah tangannya berada dipinggang.
__ADS_1
🍃🍃🍃
TBC