
Sinta pun tidak sengaja melihat pria yang duduk di hadapan kursinya.
" loh pak CEO ko ada di sini...?" kata Sinta.
Semua orang pun langsung melihat ke arah Sinta setelah mengatakan itu.
Sedangkan yang di tanya pun tidak menjawab, karena ia sudah memulai makanannya.
" Ya sudah, duduk dulu sayang, kita makan dulu baru bicara... " kata Laras yang mengajaknya putrinya itu untuk duduk dan makan, karena dari tadi Sinta hanya berdiri saja.
Sinta pun mengangguk, dan langsung duduk di kursinya, sambil sesekali melirik ke arah pria yang berbeda dihadapan ini.
" Wah ada yang tidak beres nih, sepertinya mereka semua sedang merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan ku. Atau jangan-jangan... " kata Sinta dalam hati sambil makan dan memikirkan semuanya.
Melihat Sinta yang diam - diam menatapnya pun, Devan hanya tersenyum dalam hati sambil pura - pura tidak tahu.
Mereka pun makan malam dengan tenang tanpa mengucapkan sepatah kata pun sampai selesai makan.
Setelah selesai makan, Atmaja pun mulai berbicara.
" Bagaimana Bram, kita lanjutkan rencana yang sudah kita buat dari dulu... " kata Atmaja
__ADS_1
" Boleh, kami sangat setuju." kata Bram yang juga di anggukan Laras
Sedangkan Sinta dan Devan hanya melihat kedua orang tua mereka dengan tatapan seolah bertanya.
Atmaja dan Bram pun mengerti maksud dari tatapan anak mereka itu.
" Begini Devan, Sinta. Kami berencana menjodohkan kalian dan kami harap kalian berdua menyetujuinya. " kata Atmaja yang juga di anggukan Bram dan istri mereka.
Sinta pun sangat terkejut dan Ia mencoba protes, berbeda dengan Devan ia begitu sangat senang, tapi tetap ber ekspresi datar untuk menyembunyikan rasa bahagianya.
" Pah, mah kenapa kalian tidak minta pendapat Sinta dulu, kenapa kalian tidak membicarakan tentang ini terlebih dahulu ...?" tanya Sinta pada kedua orang tuanya
" Bukankah kami sudah pernah membicarakan tentang ini padamu nak. " jawab Laras
" Kami harap kamu menyetujuinya nak, kami sangat berharap sekali kamu jadi menantu kami..." kata Sarah yang memotong Sinta bicara.
Sementara Atmaja, Bram dan Devan hanya diam saja melihat Sinta yang berusaha protes.
" Iya tapi Tante..." kata Sinta lagi yang terpotong.
" Tidak ada tapi - tapian sayang, pokoknya kamu harus terima perjodohan ini, karena mamah sudah sangat suka sekali dengan calon menantu mamah yang tampan ples sukses ini..." kata Laras yang juga memotong saat Sinta hendak protes.
__ADS_1
Sinta pun melongo melihat sang Mama dengan seenaknya saja, pria yang ada di hadapannya ini calon menantunya.
" calonnya siapa coba..." kata Sinta memanyunkan bibirnya pada sang mamah.
" Ya calonnya kamu lah, siapa lagi. karena disini cuma kalian berdua yang belum berpasangan, sedangkan kami sudah memiliki pasangan masing-masing. " kata Laras yang menjawab omongan Sinta
" Betul sekali, aku setuju dengan kamu jeng..." kata Sarah menambahkan.
Sinta yang mendengar itu pun langsung melotot dan memanyunkan bibirnya terhadap semuanya.
Hahahaha...
Dan itu membuat Atmaja dan Bram langsung tertawa dan menggelengkan kepala mereka.
Sedangkan Devan hanya diam saja, sambil gemas dalam hati melihat Sinta seperti itu, karena baru pertama kali ini Devan bertemu wanita, yang apa adanya. biasanya semua perempuan yang ia lihat dan mendekatinya selalu bersikap anggun dan sopan untuk menarik perhatiannya.
Berbeda dengan Sinta, ia bersikap apa adanya sesuai dengan apa yang ia rasakan, dan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang melihatnya, termasuk Devan.
Tapi Devan masih bersikap cuek dan datar, untuk menutupi perasaannya pada Sinta, karena memang dari awal bertemu Sinta, Devan sudah tertarik atas ketulusan Sinta yang membantunya waktu terkena musibah.
Hanya saja Sinta tidak mengenali Devan orang yang pernah ia bantu, karena saat itu wajah Devan babak belur dan mengeluarkan banyak darah di mulut dan keningnya.
__ADS_1
Dan kini wajah Devan kembali seperti semula, sehingga Sinta tidak dapat mengenalinya, begitu juga dengan Reyhan asisten Devan.
Yang Sinta tahu, kalau Devan adalah bos atau atasan tempat ia bekerja itu saja.