Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )

Di Jodohkan ( Devan Dan Sinta )
Part 79


__ADS_3

Setelah mereka bertiga masuk, Devan dan Reyhan langsung menuju ke ruangannya, sedangkan Sinta juga langsung menuju keruangannya.


" Rey, kumpulkan semua karyawan, saya akan langsung memberi pengumuman pada mereka. " kata Devan yang sudah berada di ruangannya.


" Baik tuan, segera saya laksanakan. Permisi... " kata Reyhan.


" Hmm... " sahut Devan singkat seperti biasanya.


Tidak butuh waktu lama semua karyawan pun sudah berkumpul, untuk mendengar pengumuman yang akan di sampaikan oleh CEO mereka.


" Permisi tuan... Semua sudah berkumpul sekarang. " kata Reyhan yang baru kembali.


" Hmm baiklah, mari kita ke sana sekarang. " kata Devan dan langsung di anggukan oleh Reyhan.


Semua karyawan sudah berkumpul termasuk tim Sinta.


" Ada pengumuman apa ya, tumben kita semua di suruh berkumpul... " kata salah satu karyawan yang berdiri di sebelah Sinta.


" Tidak tahu, mungkin ada sesuatu yang sangat penting... " sahut teman sebelahnya.


Mereka semua berbisik menebak - nebak, apakah gerangan CEO mereka hendak memberikan pengumuman.

__ADS_1


Sedangkan teman - teman Sinta hanya tersenyum saja, karena mereka sudah bisa menebak apa yang akan di umumkan oleh CEO mereka.


Berbeda dengan Sinta, saat ini ia sudah panas dingin karena mengetahui Devan akan mengumumkan tentang pernikahan mereka.


" Ya Tuhan... Gimana reaksi mereka nanti setelah mengetahui kalau aku adalah istri dari CEO. Huh... Semoga berjalan dengan lancar... " kata Sinta dalam hati sambil terbengong diam di sebelah teman - temannya.


" Hey kamu... " kata seseorang yang menghampiri Sinta, dan itu membuat Sinta sangat terkejut.


" Eh ibu, ada apa Bu...?" tanya Sinta yang masih dalam keterkejutannya.


" Kamu ya, kenapa kamu bisa berjalan dengan pak CEO tadi, tidak tahu diri sekali kamu... " kata orang itu siapa lagi kalau bukan Bu lili sekertaris Devan, yang sangat tidak suka Sinta berdekatan dengan Devan.


" Saya... " Sinta bingung harus menjawab apa, karena ia tidak tahu harus mengatakannya bagaimana.


Melihat itu Helen dan Risti langsung naik darah, mereka berdua begitu kesal pada Bu lili yang seenaknya saja meneriaki teman mereka.


" Bu, ibu jangan bicara sembarangan ya, asal ibu tahu Sinta ini adalah... " kata Risti dengan begitu kesalnya, tapi langsung terpotong saat Sinta memegang bahunya dan menggelengkan kepalanya.


" Tapi Sinta... " kata Risti yang hendak protes pada Sinta.


" Udah biarkan saja, nanti juga tahu sendiri... " kata Sinta yang menenangkan Risti yang kelihatan begitu kesal.

__ADS_1


" APA, SINTA APA HAH... " Teriak Bu lili tak kalah kesalnya pada Sinta dan juga tim nya.


" Ibu, ibu jangan keterlaluan ya, ibu akan menyesal nanti... " kata Helen tak kalah kesalnya pada Bu lili dengan seenaknya saja.


" Kalian yang akan menyesal, karena sudah membela perempuan tidak tahu diri ini... " kata Bu lili yang menunjuk ke arah Helen dan Risti.


" Ibu yang... " kata Helen terpotong juga saat Sinta memegang tangannya.


" Udah Helen, biarkan saja... " kata Sinta yang sudah sangat malu karena sudah menjadi pusat perhatian.


" Tapi Sinta ia sudah sangat keterlaluan... " protes Helen.


" Udah ga papa, malu tahu kita jadi dilihat semua orang sekarang. " kata Sinta yang menenangkan Helen, tapi Helen dan Risti tidak perduli, karena mereka berdua sudah sangat kesal pada Bu lili yang seenaknya saja pada Sinta.


Semua karyawan menyaksikan itu semua, mereka semua berbisik ada yang membela Bu lili, ada juga yang membela Sinta.


" Jangan sok kamu Sinta, saya sangat tidak suka dengan pelakor seperti kamu, mulai sekarang kamu saya pecat... Dan mulai besok kamu sudah tidak boleh bekerja lagi di perusahaan ini. " kata Bu lili saking marahnya pada Sinta


" Bagus Bu lili, keputusanmu sangat tepat untuk memberhentikan Sinta... " kata seseorang yang baru saja datang.


Seketika Sinta dan teman - temannya langsung terkejut, melihat orang itu datang dan langsung mengatakan itu.

__ADS_1


Begitu juga dengan Bu lili, ia juga tak kalah terkejutnya, tapi juga sangat senang karena keputusannya di setujui.


" Hahahaha... Mampus kamu Sinta, dasar pelakor. " kata Bu lili dalam hati sambil tersenyum sinis pada Sinta.


__ADS_2