
Dan dari kejauhan ada seseorang yang juga melihat semua itu, dan berbagai pertanyaan menghinggapi pikirannya.
" Ibu biarkan ia bersama saya sebentar " kata Sinta sambil memeluk dan menggendong Alden kecil itu.
" Oh ya kalian dari panti asuhan mana, kenapa tiba-tiba bisa ada di sini ?" tanya Helen yang juga di anggukan Risti dan Roni.
Sedangkan Sinta masih menenangkan anak itu.
" Kami dari panti asuhan Kasih Ibu, saya sebenarnya sedang mengurus sesuatu di kantor ini, sekalian membawa Alden untuk jalan - jalan, tapi tidak di sangka Alden langsung berlari ke arah kalian dan langsung memeluk nak ini. " jawab ibu paruh baya itu yang bernama Ningrum.
" Oh, ya sudah tidak apa-apa Bu, biar Alden bersama saya dulu, nanti setelah pulang kerja saya akan mengantarkannya langsung ke panti asuhan ibu " kata Sinta yang sangat tidak tega dengan Alden kecil itu.
" Iya nak, maaf sudah merepotkan nak... " tanya Bu Ningrum.
" Sinta Bu " jawab mereka berempat bersamaan.
" Oh iya nak Sinta, maafkan kami yang datang kemari membuat keributan di sini " kata Bu Ningrum yang sangat tidak enak karena sudah membuat keributan di kantor ini.
" Tidak apa-apa Bu, saya... " perkataan Sinta langsung terpotong.
__ADS_1
" Ada apa ini... " kata Devan yang baru datang.
Semua orang langsung menunduk, apalagi Risti, Helen, Roni dan Sinta mereka sudah panas dingin saking terkejutnya melihat kedatangan CEO mereka.
" Begini pak, maaf kami sudah membuat masalah disini, dan anak asuh saya hanya salah orang saja " jawab Bu Ningrum, sedang mereka berempat hanya diam dan menunduk saja karena tidak tahu harus melakukan apa.
" Sebenarnya kalian dari mana, kenapa bisa ada di kantor saya " kata Devan dengan sangat dinginnya dan membuat siapapun mendengarnya bergidik ngeri.
" Wah gawat ini, jangan - jangan pak Devan salah paham lagi, aku harus bagaimana dong " kata Sinta dalam hati yang sudah tak karuan pikirannya, melihat Devan yang tiba - tiba muncul di sana.
" Kami dari panti asuhan pak, dan saya ada urusan sedikit di kantor ini, dan sekalian membawa Alden jalan - jalan. Maaf sudah membuat keributan di kantor ini " jawab Bu Ningrum dengan berusaha tenang walaupun juga sangat takut kalau Devan marah.
" Baik pak " sahut Sinta yang menunduk sambil menggendong Alden kecil.
" Pixs nih, salah paham deh, aduh bagaimana dong... Tuhan tolong aku... " kata Sinta dalam hati sambil menjerit melihat wajah suaminya yang kelihatan sangat kesal.
Setelah Devan sudah pergi dari sana, Sinta pun bingung harus bagaimana.
" Geis gimana dong ini... ?" tanya Sinta pada ketiga temannya itu.
__ADS_1
" Mau bagaimana lagi Sin, bilang aja yang sebenarnya " jawab Helen.
" Wah bisa perang dunia ke lima nih " kata Roni dengan seenaknya.
" Hus... sembarangan kalau ngomong, bantu mikir ke " kata Risti juga yang bingung harus bagaimana.
" Ya sudah hadapin saja Sin, mau bagaimana lagi. " jawab Risti lagi karena itu yang ada dalam pikirannya, yang juga di anggukan oleh Helen dan Roni.
" Huh... Iya mau bagaimana lagi. " kata Sinta yang sudah pasrah dengan semuanya.
" Alden sayang, Alden ikut ibu panti dulu ya. " kata Sinta yang ingin menyerahkan Alden pada Bu Ningrum.
" Ga mau, Alden maunya sama mamah " kata Alden kecil yang tidak mau melepaskan pelukannya.
" Ikut sama Tante, atau om bagaimana. " kata Helen yang juga ikut membujuk Alden agar melepaskan Sinta.
Alden hanya menggeleng untuk menolak, bertambah bingung lah mereka sekarang.
Alden anak laki-laki yang sangat menggemaskan itu benar - benar tidak mau melepaskan Sinta, dan sudah mengira Sinta adalah mamahnya.
__ADS_1
Bertambah pusing lah kepala Sinta, sampai ia tidak tahu lagi harus bagaimana.