
Masih dengan sangat terkejut, Sinta tetap berjalan menuju mobilnya berada. Sedangkan teman - temannya berjalan di belakang Sinta sambil menunduk.
" Pak, hehehe... " sapa Helen, Risti dan Roni bersamaan.
Sedangkan Sinta hanya tersenyum saja kearah orang itu, karena orang itu adalah suaminya sendiri, siapa lagi kalau bukan Devan yang sedari tadi sudah menunggu Sinta di depan mobilnya.
" Hmm... Kalian semua mau kemana ?" tanya Devan yang seperti biasa memasang muka datarnya.
" Kami berempat mau ke panti asuhan pak " Jawab Roni.
" Bapak kenapa ada di sini...?" Tanya Sinta yang memberanikan diri untuk bertanya.
" Saya ikut, tidak ada penolakan, cepat buka mobilnya " jawab Devan singkat padat dan jelas.
Mereka bertiga hanya bisa melongo, dan sangat terkejut mendengar Devan ikut juga bersama mereka.
" Baik pak " sahut Sinta yang langsung membuka kunci mobilnya. Dan Devan pun langsung masuk ke dalam mobil Sinta bersama Reyhan yang menyetir.
" Ayo... " Ajak Sinta yang seketika menyadarkan ketiga temannya yang masih sangat terkejut mendengar Devan ikut.
__ADS_1
" I...iiya " sahut ketiganya dan langsung masuk ke dalam mobil mereka masing-masing.
Sebelum Sinta masuk kedalam mobil, Sinta sempat melihatnya Risti yang masuk kedalam mobil Roni, dan sedikit timbul kecurigaan di hati Sinta pada kedua temannya itu.
" Ayo cepat masuk Sinta... " panggil Devan yang sudah berada dalam mobilku.
" Ah, iya... " sahut Sinta yang langsung masuk kedalam mobilnya dan duduk di sebelah Devan.
Mereka pun langsung berangkat menuju panti asuhan yang sudah mereka bicarakan tadi.
" Tumben Risti ikut sama Roni pulang, biasanya kan bawa mobil sendiri, apakah ada sesuatu yang tidak ku ketahui, Hm... mencurigakan, awas saja mereka nanti, kalau memang ada sesuatu tapi tidak bercerita padaku, ku beri hukuman mereka... " kata Sinta dalam hati yang merasa curiga kepada kedua sahabatnya itu.
Di dalam perjalanan tidak ada percakapan di antara Sinta, Devan, maupun Reyhan. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Reyhan langsung menghentikan mobilnya di depan supermarket itu, begitu juga dengan mobil teman - temannya yang dari tadi mengikuti mobil Sinta dari belakang.
" Ada apa Sinta, kenapa kita berhenti di sini ?" tanya Devan yang bingung.
" Sebelum kita ke panti asuhan, saya mau membeli sesuatu dulu untuk anak - anak di sana, pak " jawab Sinta.
__ADS_1
" Oh ya sudah, ayo saya temani. Ayo Rey, kau juga ikut, biar bisa bantu membawanya nanti " kata Devan yang langsung di anggukan oleh asistennya itu.
Sedangkan Sinta hanya tersenyum saja melihat suaminya yang super dingin itu, tapi kadang bisa berubah sifatnya tergantung keadaan.
Mereka bertiga langsung keluar dari mobil, begitu juga dengan teman - teman Sinta.
" Ngapain mampir kesini segala Sin ?" tanya Risti.
" Ya ampun RIS, masa mau bertemu dengan anak - anak cuma datang dengan tangan kosong saja, bawa apa ke biar anak - anak senang nanti di panti saat kita datang " bukan Sinta yang jawab tapi Helen, sedangkan Sinta hanya tersenyum saja.
" Oh iya ya hehehe... " kata Risti cengengesan sedangkan Roni hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kepada Risti dan itu tak luput dari pandangan Sinta, sedangkan Helen tidak menyadarinya.
" Ya sudah ayo kita masuk sekarang " ajak Devan yang masuk lebih dulu dan langsung menggandeng tangan Sinta.
Sinta pun hanya mengangguk dan tersenyum, dengan senang hati ia berjalan bergandengan tangan bersama suaminya itu.
Kemudian di susul Roni dan Risti yang juga bergandengan tangan masuk ke supermarket itu.
Sedangkan Helen hanya melongo melihat teman - temannya sudah masuk, tapi yang bikin Helen lebih kaget lagi, melihat Risti dan Roni yang bergandengan tangan.
__ADS_1
" Wah... jangan - jangan sudah terjadi sesuatu nih di antara mereka berdua. " kata Helen dalam hati dan masih terbengong di depan supermarket itu.
Dan bertambah terkejut lagi Helen saat seseorang menepuk pundaknya.